11 October 2020

Pagi, Hujan


“Bib, ke abang jug.”, titah Mimi padaku ketika aku melewati dapur. Mimi sedang memasak sayur asem pagi itu.

“Ke abang? Beli apa, Mi?” Aku bertanya beli apa. Karena aku sudah mengerti bahwa abang yang dimaksud Mimi adalah warung Abang yang berada dekat dari rumahku.

“Telur setengah (kilo) sama daun bawang dua ribu.”

“Setengah kilo? Enggak separapat?” Aku bertanya memastikan perintah Mimi. Karena biasanya Mimi menyuruhku untuk membeli telur seperempat kilo saja.

“Setengah.”, jawab Mimi. “Eh setengah atau separapat ya?”

Yah, suruhan Mimi belum pasti.

“Jadi beli berapa, Mi?”

“Setengah atau separapat?”

“Gimana Mimi.”

“Separapat aja atuh.”

“Oke. Telur separapat sama daun bawang dua ribu ya, Mi?”

“Iya. Ambil uangnya sok di kantong Mimi.”

“Sepuluh ribu juga cukup kan, Mi?”

“Iya cukup.”

Aku bersiap-siap keluar rumah dengan mengenakan sweater dan kerudung instant putih. Kemudian mengambil selembar uang sepuluh ribu rupiah dari tas selendangku yang isinya uang Mimi juga.

“Telur separapat sama daun bawang dua ribu.” Aku berkata pada diriku sendiri. Mengingat-ingat apa saja yang harus aku beli.

“Mi, aku ke abang dulu ya.” Aku pamit pada Mimi setelah siap untuk keluar rumah.

“Iya.”

Aku berjalan menuju pintu depan rumah. Membukanya perlahan kemudian menengok keadaan di luar rumah. Ternyata, ada bekas rintikan air hujan di jalan depan teras rumahku.

Kayak abis hujan. Tadi pagi kali, ya?, tanyaku dalam hati. Mengira bahwa hujan berlangsung di dini hari dan telah berhenti di pagi itu. Namun, ternyata perkiraanku salah. Air hujan masih turun ketika aku benar-benar keluar dari rumah. Menemaniku berjalan dan terus berjalan sampai tujuan. Dan aku menikmatinya. Toh, hujannya tidak begitu lebat. Hanya gerimis kecil. Jadi aku bisa melambatkan langkahku untuk menikmati tetes demi tetes air hujan yang turun dan menghampiri kedua tanganku.

Sesampainya di warung, aku langsung memesan seperempat kilogram telur dan daun bawang dengan harga dua ribu rupiah pada seorang perempuan yang merupakan istri dari Abang (pemilik warungnya). Aku biasa memanggilnya dengan sebutan ‘Ibu’. Tapi Mimi biasa menyebutnya ‘Tante’. Haha. Apa sajalah panggilannya. Toh sama-sama dilayani juga kalau membeli.

Seperempat kilogram telur yang aku pesan masih ditimbang Ibu. Tapi suara hujan terdengar semakin keras. Aku khawatir hujan pagi ini tiba-tiba lebat sedangkan aku masih berada di warung. Tapi ternyata, itu tidak terjadi. Alhamdulillah. Aku masih bisa pulang sendiri ke rumah dan menikmati tetesan air hujan walaupun lebih deras dari sebelumnya. Setidaknya, aku tak perlu merepotkan seseorang yang berada di rumah untuk menjemputku ke warung membawa payung.

Tiba di rumah, aku menyimpan seperempat telur dan daun bawang yang terbungkus kantong kresek itu di atas meja makan dekat dapur.

“Bib, hujan ya?”, tanya Mimi begitu aku datang.

“Iya, Mi.”

“Kamu huhujanan atuh?”

“Iya. Tapi da kecil hujannya juga.”

“Itu sih kerudung kamu basah kuyup?”

Oh, bahkan aku tak menyadari bahwa kerudung yang kukenakan ini basah kuyup diguyur hujan yang sebenarnya tak terlalu deras.            

--

Kurang lebih satu jam kemudian, Mimi sudah pergi ke pasar untuk berjualan. Sedangkan aku tetap di rumah karena rumahku ini belum sempat di sapu sebelumnya. Apalagi sampah di dapur masih agak berserakan bekas Mimi masak. Tapi tak apa. Karena ini sudah menjadi kerjaan harianku sebagai anak yang berbakti. Aamiin. Hehe.

Sambil menyapu, aku bersenandung menyanyikan lagu-lagu yang sedang aku sukai. Terkadang lagu hoolala, merakit, sholawatan, sampai lagu-lagu karangan yang spontan keluar dari mulutku. Hingga akhirnya aku menemukan empat baris lagu yang menurutku agak nyambung dan berdasarkan kenyataanku pagi itu.

Pagi Hujan

Kau datang pagi ini

Temaniku berjalan ke warung abang

Beli telur separapat sama daun bawang

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: