05 February 2023

Tahan Jari Daripada Celakai Diri
Ilustrasi orang bermain media sosial/Canva

Media sosial merupakan hal yang biasa kita gunakan dalam keseharian. Terutama bagi kita yang terbiasa dengan ponsel yang di dalamnya terunduh beberapa aplikasi media sosial, seperti WhatsApp, Instagram, Facebook, dan sebagainya. Meski tidak semua aplikasi media sosial diunduh, setidaknya ada satu aplikasi yang diunduh di ponsel setiap orang, misalnya WhatsApp.

Keberadaan aplikasi-aplikasi ini seolah menjadi sebuah keharusan karena beragam aktivitas kita yang berkaitan dengan media sosial tersebut. Seperti kegiatan perkuliahan yang mengharuskan kita membuat grup kelas di WhatsApp, atau kegiatan berjualan yang mengharuskan kita membuat konten di Instagram.

Namun, sesuai namanya, media sosial adalah media yang dimanfaatkan untuk bersosialisasi di dunia maya. Di dalamnya, akan ditemukan manusia dengan beragam karakter yang tersembunyi di balik akunnya. Sayangnya, tidak semua akun dapat menyenangkan kita. Ada  saja yang membuat kita kesal, jengkel, bahkan marah, karena foto, cuitan, atau video yang diposnya.

Selain karena postingan orang lain di media sosial, terkadang amarah juga bisa muncul ketika kita membaca komentar orang lain di suatu postingan. Secara tak sadar, komentar mereka justru membawa kita ikut emosi dan tak mampu menahan jari untuk berkomentar.

Di lain waktu, kita bisa saja menjadi si pelaku yang membuat orang lain kesal tanpa disadari diri. Atau bahkan, melampiaskan kekesalan yang dialami di dunia nyata ke dunia maya. Entah dengan foto, video, atau kalimat yang dipublikasikan di media sosial baik sebagai postingan atau komentar.

Ketika berada di salah satu posisi di antara ketiganya, hendaknya kita menahan jari untuk melakukan apa pun di media sosial, terlebih sampai menghina seseorang, lembaga, agama, atau ras tertentu. Ingatlah kembali bahwa media sosial adalah media publik yang bisa dilihat oleh ribuan orang. Sehingga ketika kita hendak menghina siapa pun, sama saja artinya kita harus siap menghadapi celaka di masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan ketika seseorang menghina orang lain di media sosial, maka dapat menimbulkan adu domba di dunia nyata. Yang jelas akan memicu pertengkaran di antara orang-orang yang terlibat, termasuk si pelaku yang menghina tersebut. Pada akhirnya, hidup si pelaku tidak akan tenang karena terus dibayangi permusuhan dalam hidupnya.

Alasan lainnya adalah karena media sosial meninggalkan jejak digital yang kuat. Dan ketika seseorang menghina melalui media sosial, akunnya akan dinilai buruk oleh orang lain, baik yang dikenalnya maupun tidak. Hal ini juga akan berdampak ketika pelaku melamar kerja atau bekerja sama dengan brand tertentu. Karena jejak digital juga bisa menjadi faktor diterima atau tidaknya seorang calon karyawan di sebuah perusahaan. Lalu misalnya ketika hinaan itu berkaitan dengan tokoh publik dan viral, warganet bisa mengecamnya dengan makian yang mungkin tak kalah buruk, yang berujung dengan terganggunya psikologis orang tersebut. Bahkan, mungkin juga ada yang sampai menyangkutpautkan dengan keluarga pelaku, yang sebenarnya tidak tahu-menahu tentang penghinaan tersebut.

Belakangan ini, kasus penghinaan di media sosial juga banyak diadukan pada pihak berwajib, yakni kantor polisi. Ujungnya, pelaku harus melewati proses hukum yang berlaku dan berkemungkinan harus mendekam di balik jeruji besi.

Barangkali, masih ada kerugian-kerugian lain yang bisa terjadi akibat melontarkan hinaan di media sosial. Padahal, hinaan baik di dunia nyata maupun dunia maya, sama-sama tidak dapat dibenarkan. Dan hendaknya alasan-alasan tersebut dapat menjadi refleksi bagi kita untuk tak buru-buru melampiaskan emosi dalam bentuk hinaan di media sosial. Karena selain mencelakai diri, hal ini juga menjadi kekecewaan bagi orang-orang terdekat yang kita sayangi.


- tulisan ini versi asli dari tulisan yang pernah dimuat di epaper Media Indonesia edisi 3 Desember 2022 dengan judul "Tahan Jari Kalau Tidak Mau Masuk Bui"

16 January 2023

Apa Artinya Wastafel Tanpa Air?
Ilustrasi wastafel/Canva

Selama pandemi, protokol kesehatan terus disuarakan. Protokol kesehatan tersebut terdiri dari memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Karena peringatan protokol kesehatan ini, berbagai pihak berlomba-lomba untuk mendukungnya dengan membagikan masker kepada masyarakat dan mendirikan wastafel atau tempat mencuci tangan di tempat-tempat umum. Seperti pasar, taman, sekolah, tempat wisata, dan lain sebagainya. Diharapkan dengan melakukan hal-hal ini, masyarakat bisa ikut patuh menjalankan protokol kesehatan.

Pada awal masa pandemi, wastafel-wastafel tersebut hampir selalu terisi air dan menyediakan sabun cair yang memadai. Intinya, wastafel masih terpantau aman, bersih, dan berfungsi dengan baik. Namun, kian hari wastafel itu tidak berfungsi seperti semula. Di tempat-tempat umum, tak jarang ditemukan wastafel yang rupanya tak mengeluarkan air ketika keran dinyalakan. Di lain tempat, ada pula yang botol sabunnya rusak, atau pipa air yang berlubang. Lebih parah lagi, ada pula wastafel yang sudah dilepas (ditiadakan), tepat dua setengah tahun setelah wastafel itu didirikan.

Hal ini terjadi barangkali karena masyarakat telah merasa aman dari virus corona. Terlebih, ketika dikabarkan bahwa kasus virus corona mengalami penurunan dan semua aktivitas publik kembali diaktifkan. Wah, rasanya sudah bisa bernapas lega!

Tapi nyatanya, belakangan ini pemerintah kembali menerapkan PPKM di Indonesia karena kasus virus corona yang kembali melonjak. Lalu jika virus corona itu masih ada, apakah tidak ada niatan bagi pemerintah atau pihak yang mendirikan wastafel-wastafel itu untuk memperbaiki wastafelnya? Membuat wastafel kembali berfungsi seperti semula agar masyarkat sudi untuk mencuci tangan lagi?

Ya, katanya, kan, covid itu masih ada. Protokol kesehatan juga masih diberlakukan. Tapi jika wastafelnya tidak memadai, yakin masyarakat masih mau mencuci tangan? Masih mau virus corona tersebar lebih luas lagi?

Sebenarnya, negara itu pasti kan ingin memiliki masyarakat yang sehat. Dan mencuci tangan adalah salah satu cara untuk “menyehatkan” manusia. Setidaknya mencuci tangan ketika sebelum dan sesudah makan. Tapi apa harus dilanda pandemi dulu, baru wastafel didirikan di tempat-tempat umum? Apa harus kasus covid melonjak dulu, baru wastafel diperbaiki?

Seandainya sedari dulu, wastafel itu sudah didirikan di berbagai tempat dan terawat, barangkali masyarakat Indonesia juga menjadi masyarakat yang sehat. Toh banyak orang juga kok yang menyadari bahwa cuci tangan itu penting.

Contoh kecilnya begini. Ketika seseorang hendak makan tapi sebelumnya baru saja menyentuh sepatu yang dipakainya, sebenarnya ia sadar bahwa tangannya kotor. Tapi karena tidak ada tempat mencuci tangan, ia langsung makan tanpa mencuci tangan terlebih dulu.

Tapi ya sudah, sekarang sudah masanya pandemi. Meski memang dulu tidak ada wastafel di tempat-tempat umum, setidaknya wastafel-wastafel yang ada sekarang masih bisa diperbaiki. Tidak ada kata terlambat untuk memulai, bukan? Maka jika ingin Indonesia menjadi negara yang sehat, membangun dan memperbaiki wastafel-wastafel di tempat umum adalah salah satu langkah kecil untuk menuju masyarakat yang sehat.



- tulisan ini versi asli dari tulisan yang pernah dimuat di epaper Media Indonesia edisi 29 November 2022 dengan judul yang sama

27 November 2022

Jaga Kesehatan Mulai dari Membawa Air Minum Sendiri

Hampir tiga tahun sudah, virus corona merajalela di Indonesia. Awal kedatangannya membuat panik seluruh warga Indonesia hingga menimbulkan penimbunan masker dan panic buying. Hal ini dikarenakan virus corona dikenal sebagai virus yang mematikan dan mudah menular, sehingga masyarakat membeli masker, hand sanitizer, dan kebutuhan pokok sebanyak-banyaknya sebagai persediaan stok di rumah masing-masing ketika menjalani karantina.

Dua tahun setelah kedatangan virus corona, aturan terkait protokol kesehatan di Indonesia mulai dilonggarkan. Meski seiring waktu, muncul varian-varian baru dari virus corona yang konon lebih mematikan dan lebih cepat menular. Korban jiwa akibat virus corona pun terus bertambah meski kabarnya tak sesanter ketika pertama kali virus corona tiba di Indonesia. Dan kini, kasus virus corona dikabarkan meningkat sehingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), kembali diterapkan di seluruh wilayah Indonesia sejak tanggal 8 November 2022. Oleh karenanya, kita sebagai masyarakat kembali digalakkan untuk menjalankan protokol kesehatan.

Namun, sebenarnya ada cara lain untuk menjaga kesehatan di samping dengan menjalankan protokol kesehatan. Yaitu rutin minum air putih. Seperti yang sudah kita tahu, rutin minum air putih adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan. Pengetahuan ini sudah banyak tersebar sebelum pandemi melanda. Oleh karenanya, tak jarang kita menemukan para ibu yang selalu membekali sebotol air minum bagi anaknya untuk diminum di sekolah.

Baca juga: Tahu Pocong

Selain ke sekolah, membawa air minum juga menjadi salah satu kewajiban ketika bepergian ke luar rumah. Misalnya ketika berwisata, menginap, mendaki, dan aktivitas lainnya. Karena aktivitas-aktivitas seperti itu tentu akan melelahkan dan membuat tubuh dehidrasi sehingga kita membutuhkan cairan bagi tubuh. Dan dengan membawa air minum, kita tidak perlu repot-repot mencari warung terdekat atau menunggu pedagang asongan yang menawarkan minuman dengan harga relatif mahal, karena berada di daerah wisata.

Di sisi lain, dengan membawa air minum sendiri, setidaknya kita tidak perlu meminta air minum milik teman sehingga meminimalisir penularan kuman lewat mulut. Terlebih jika ternyata teman kita sedang batuk atau tidak enak badan tanpa kita ketahui. Karena seperti dilansir dari halodoc.com, bahwa mulut adalah salah satu bagian tubuh yang ditempati banyak bakteri dan kuman.

Sedangkan dari sisi lingkungan, membawa air minum sendiri dengan botol minum, akan menekan penggunaan plastik. Jelas hal ini sangat ramah lingkungan dan secara tidak langsung, kita telah turut menjaga bumi tercinta ini. Bayangkan jika semua penduduk bumi menggunakan air minum dengan botol plastik sekali pakai, sudah seberapa banyak sampah plastik yang terkumpul dalam satu hari? Itu pun baru sampah botol minum plastik saja. Belum lagi dengan sampah-sampah plastik dari kemasan makanan, pembungkus barang, dan lain sebagainya.

Tiga alasan di atas barangkali bisa jadi motivasi bagi kita untuk mulai membawa air minum sendiri. Dan dengan langkah kecil ini, setidaknya kita bisa menjaga kesehatan diri, kesehatan orang lain, juga kesehatan bumi.

11 September 2022

Shopee 9.9, Bosan Tapi Menguntungkan

Hampir setiap bulan, bahkan setiap hari, iklan Shopee menghiasi layar kaca televisi. Dengan bintang iklan dan tema yang berbeda-beda, marketplace dengan warna dasar oranye itu tak bosan-bosannya menyajikan iklan yang pada intinya sama, menawarkan gratis ongkos kirim (ongkir) dan diskon pada sebagian produknya.

Salah satu program Shopee yang sering diiklankan adalah program gratis ongkir dan diskon pada angka tanggal dan bulan yang sama di setiap bulannya. Misalnya 1.1 (1 Januari), 2.2 (2 Februari), 3.3 (3 Maret), dan seterusnya hingga berulang lagi ke program 1.1.

Awalnya, saya mengira bahwa program Shopee 9.9 berawal dari tahun 2019. Namun setelah saya cari tahu, rupanya program ini telah berjalan sejak 2018 berdasarkan artikel yang saya temui berjudul Program Shopee 9.9 Super Shopping Day Catatkan Rekor Penjualan dalam suara.com. Saya menyimpulkan program ini berlangsung dari tahun 2019, karena memang baru melihat iklan program tersebut di tahun 2019. Sedangkan di tahun 2018, saya memang jarang di rumah karena harus merantau ke pesantren sehingga tidak bisa menonton televisi.

Setelah beberapa bulan iklan tersebut saya temui di sela-sela program televisi, kadang terbesit rasa bosan. Karena terpikir, bahwa itu adalah iklan dengan penawaran yang sama dan tertebak alurnya. Bulan ini pasti 1.1, bulan berikutnya 2.2, dan seterusnya. Mengapa harus berganti-ganti iklan di setiap bulannya? Toh setiap hari pun ada saja voucher gratis ongkirnya. Kenapa harus ada program 9.9? Padahal hal yang ditawarkan juga sama saja.

Suatu ketika, secara kebetulan, saya check out sebuah buku di Shopee di tanggal 6 Juni (6.6) tahun 2020. Dan, hei, buku itu bisa saya dapatkan dengan setengah harga! Tak main-main. Buku yang pada awalnya berharga 64.000, bisa saya check out dengan harga sekitar 34.132 saja.

Baca juga: Jaga Kesehatan Mulai dari Membawa Air Minum Sendiri

Awalnya, buku tersebut telah diskon sehingga harganya menjadi 44.800 di katalog. Lalu terdapat voucher potongan harga sebesar 10.000 pada toko penjual yang merupakan official store dari penerbit buku tersebut. Berawal iseng, saya mengklaim voucher tersebut dan langsung digunakan untuk check out buku. Harga tersebut makin dipotong dengan adanya voucher gratis ongkir dan menukar koin Shopee yang dimiliki. Akhirnya, jadilah saya hanya harus mengeluarkan uang sebesar 34.132 untuk membeli buku tersebut.

Hari berganti hari, sesekali saya masih belanja di Shopee. Sampai di tahun berikutnya, saya baru tersadar apa perbedaan gratis ongkir di hari-hari biasa dibanding gratis ongkir pada event Shopee 9.9 dan sejenisnya.

Di hari-hari biasa, voucher gratis ongkir yang ditawarkan biasanya bersyaratkan minimal belanja dengan nominal tertentu. Misalnya minimal belanja 30.000, 50.000, 100.000, atau mungkin lebih tinggi lagi. Ditambah, ada syarat untuk metode pembayaran tertentu. Dan metode pembayaran yang paling sering saya temui pada syarat voucher gratis ongkir adalah ShopeePay, COD dan Shopee PayLater.

Berbalik dengan itu, dalam event Shopee 9.9 dan sejenisnya, voucher gratis ongkir yang ditawarkan justru memberi persyaratan yang lebih mudah. Voucher gratis ongkir bisa didapat dengan minimal belanja nol rupiah (tanpa minimal belanja) dan tanpa persyaratan metode pembayaran tertentu. Selain itu, terkadang ada juga voucher cashback untuk toko-toko yang terdaftar di Shopee Mall dengan persentasi yang beragam. Belum lagi ada flash sale produk pada jam-jam tertentu yang harganya bisa hanya Rp 1000. Meskipun, saya belum mencoba membeli produk flash sale sih. Hehe.

Namun di iklan, mungkin kamu pernah mendengar kalimat "gratis ongkir di semua toko". Kata semua di sini, sebenarnya tidak benar-benar untuk semua toko. Melainkan untuk toko-toko yang bertanda gratis ongkir pada katalog Shopee. Di mana tanda gratis ongkir tersebut bisa dilihat di sudut kiri bawah pada setiap produk yang ditampilkan dalam katalog. Jadi ya, mulai sekarang, tidak perlu heran lagi jika suatu ketika kamu membeli barang namun dengan ongkir yang tetap dihitung.

Ket. :
Kotak hijau : produk dengan bertanda gratis ongkir
Kotak merah : produk tanpa bertanda gratis ongkir

Berbulan-bulan setelah saya setia menjadi pengguna Shopee, membuat saya terkadang menunda membeli barang jika saat itu mendekati program Shopee 9.9 dan sejenisnya. Ya, mengincar apalagi? Tentu saja voucher gratis ongkir yang lebih mudah persyaratannya dan voucher diskonnya yang lebih besar nominalnya. Meski begitu, porsi belanja juga tetap harus dijaga. Tidak setiap ada event Shopee 9.9 selalu saya gunakan untuk belanja. Jadi tetap memprioritaskan hal-hal yang dibutuhkan dalam belanja dibanding yang diinginkan. Selama barang yang ingin dibeli itu sifatnya tidak terlalu darurat dan kurang dibutuhkan, saya lebih memilih menunda pembelian itu. Terlebih, jika ada hal yang lebih mendesak yang lebih harus menggunakan uang.

Tetap bijak dalam berbelanja ya, Kawan.

Download Shopee sekarang!



28 July 2022

Tiga Fakta Jarimatika

"Satu tambah satu, berapa?" tanya seorang kawan dengan menunjukkan jari telunjuk tangan kiri dan jari telunjuk tangan kanannya.

"Sebelas," jawabku.

Pertanyaan seperti yang ada di atas, mungkin bukanlah pertanyaan yang asing lagi bagi kamu. Barangkali, kamu menjawab dua. Karena dari pertanyaannya, hasilnya adalah dua secara logika. Ada juga yang menjawab sebelas, karena dua telunjuk yang ditunjukkan kawan tersebut menyerupai dua buah angka satu yang berjejer sehingga terlihat seperti angka sebelas.

Namun baru belakangan ini, aku menyadari bahwa jawaban "sebelas" dari pertanyaan tersebut bukan hanya karena dua buah telunjuk yang menyerupai angka sebelas. Melainkan, ada teori hitungannya.

Kamu mungkin pernah mendengar istilah "Jarimatika" yang merupakan singkatan dari "Jari dan Matematika." Konon, Jarimatika ini dikembangkan oleh Septi Peni Wulandani pada tahun 2000 hingga 2003. Hal ini bermula ketika beliau melihat anaknya kesulitan berhitung dengan menggunakan semua jari tangan dan kakinya. Sampai akhirnya, metode ini dipublikasi pada tahun 2003 dengan terbitnya buku berjudul Jarimatika, Penambahan dan Pengurangan.

Jika sedari kecil kita diajari metode berhitung sepuluh jari dan semuanya adalah satuan, lain halnya dengan metode Jarimatika. Dalam Jarimatika, hanya jari-jari tangan kanan saja yang dihitung sebagai satuan. Sedangkan jari-jari tangan kiri dihitung sebagai puluhan. Berikut rinciannya :

Tangan Kanan

  • Angka 1 diwakili oleh jari telunjuk tangan kanan
  • Angka 2 diwakili oleh jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan
  • Angka 3 diwakili oleh jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kanan
  • Angka 4 diwakili oleh jari telunjuk, jari tengah, jari manis dan jari kelingking tangan kanan
  • Angka 5 diwakili oleh jari jempol tangan kanan
  • Angka 6 diwakili oleh jari jempol dan jari telunjuk tangan kanan
  • Angka 7 diwakili oleh jari jempol, jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan
  • Angka 8 diwakili oleh jari jempol, jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kanan
  • Angka 9 diwakili oleh kelima jari tangan kanan

Tangan Kiri

  • Angka 10 diwakili oleh jari telunjuk tangan kiri
  • Angka 20 diwakili oleh jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri
  • Angka 30 diwakili oleh jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kiri
  • Angka 40 diwakili oleh jari telunjuk, jari tengah, jari manis dan jari kelingking tangan kiri
  • Angka 50 diwakili oleh jari jempol tangan kiri
  • Angka 60 diwakili oleh jari jempol dan jari telunjuk tangan kiri
  • Angka 70 diwakili oleh jari jempol, jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri
  • Angka 80 diwakili oleh jari jempol, jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kiri
  • Angka 90 diwakili oleh kelima jari tangan kiri

Dari rincian di atas, silakan kamu perhatikan pada angka 10 dan 1. Di mana angka 10 diwakili oleh jari telunjuk tangan kiri dan angka 1 diwakili oleh jari telunjuk tangan kanan. Nah, sekarang, coba praktikan dengan petunjuk tersebut.

Bagaimana? Apa sudah ditemukan jawabannya?

Ya. Teori perhitungan yang kumaksud adalah dengan menggunakan metode Jarimatika.

Maka, tebak-tebakkan "satu tambah satu" dengan menunjukkan jari telunjuk tangan kanan dan jari telunjuk tangan kiri, bukanlah sembarang tebak-tebakkan. Lebih dari itu, tebak-tebakkan ini seolah memancing kita untuk, "Lihat apa yang aku tunjukkan!". Bukan "Dengar apa yang saya katakan!". Ya, seandainya semua orang tahu.

Baca juga: Pecinta Buku, Yuk ke Perpus BCH!

Jadi, jawaban "sebelas" atas pertanyaan itu bisa dikatakan benar bukan hanya karena tampaknya, tapi juga dari teori perhitungannya.

Eits, pembahasan tidak sampai di situ saja. Judul tulisan ini, "Tiga Fakta Jarimatika", bukan? Maka hal di atas itu baru satu fakta saja. Dua sisanya, belum disampaikan.

Sekarang, perhatikan angka 90 dan angka 9. Di mana angka 90 diwakilkan oleh kelima jari  tangan kiri dan angka 9 diwakilkan oleh kelima jari tangan kanan. Hal ini sama saja berarti kamu harus membuka kesepuluh jari pada kedua tangan.

Nah, jika 90 dan 9 dijumlahkan, hasilnya menjadi 99, bukan? Dalam Islam, 99 itu adalah jumlah asmaul husna. Hal ini mengingatkanku pada perkataan orang-orang yang menyatakan bahwa pada telapak tangan kiri, terdapat garis tangan yang menggambarkan angka 81 dengan tulisan Arab. Sedangkan pada tangan kanan, terdapat garis tangan yang menggambarkan angka 18 dengan tulisan Arab pula. Jika kedua angka ini dijumlahkan, maka hasilnya adalah 99. Sama seperti hitungan Jarimatika. Kok, bisa sama seperti ini ya? Seolah mengisyaratkan bahwa dalam kedua tangan kita memang mengandung 99 nama-Nya.

Lanjut, ke fakta Jarimatika yang ketiga.

Kamu mungkin pernah mendengar hotel bintang lima? Katanya, hotel bintang lima itu adalah hotel yang memiliki fasilitas paling lengkap dan mewah.

Atau, kamu juga pernah belanja di Shopee dan memberi penilaian rating lima yang merupakan penilaian terbaik kepada penjual atas barang yang sudah kita beli?

Omong-omong, kenapa angka 5, ya? Kenapa angka 5 yang menjadi ukuran tertinggi dan terbagus?

Jika dikaitkan dengan Jarimatika, angka 5 itu diwakili oleh jari jempol tangan kanan. Dan sebagaimana yang kita tahu, jari jempol tangan kanan juga seringkali menjadi sebuah simbol penilaian yang bagus. Misalnya, seseorang berkata, "Saya kasih kamu jempol" sembari menunjukkan jari jempol tangan kanannya yang mengartikan bahwa orang yang mengucapkan tersebut memberi penilaian bagus kepada seseorang.

Lo, lo, kok bisa ya? Apa angka lima sebagai penilaian terbaik itu memang benar ada hubungannya dengan Jarimatika? Atau ada alasan lain? Tapi kalau dikaitkan lagi dengan Islam, 5 itu adalah jumlah salat dalam sehari dan rukun Islam. Barangkali, kalau melaksanakan salat 5 waktu setiap hari dan melaksanakan seluruh rukun Islam, kamu akan mendapatkan penilaian terbaik juga dari Sang Maha Mengetahui.

Wallahu 'alam.


Sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Jarimatika

14 February 2022

Jangan Follow Akun Tokoh Publik! Kalau ...

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa hampir setiap tokoh publik memiliki akun media sosial. Termasuk juga pejabat, selebritis, penulis, motivator, pendakwah, dan macam-macam tokoh publik lainnya. Bahkan, banyak di antaranya yang memiliki ribuan hingga jutaan pengikut. Baik akun pribadi, akun berita, akun gosip, akun brand, dan tak jarang, akun haters pun mengikutinya. Lebih tepatnya, haters yang menyamar jadi followers. Karena di media sosial, kan, gak ada pembagian antara haters dan followers. Adanya, followers dan following. Hehe.

Tapi, kenapa sih, kok bisa ada haters? Haters itu apa?

Haters itu--mungkin kamu sudah mengetahuinya juga-- berarti 'para pembenci'. Asal katanya, hate yang berarti 'benci'. Kemudian ditambah 'r' menjadi hater yang berarti orang yang membenci. Lalu karena jumlahnya banyak, ditambah 's' yang menandakan jamak sehingga menjadi haters yang berarti 'para pembenci' atau 'orang-orang yang membenci'.

Biasanya, haters ini suka mengomentari si tokoh publik dengan komentar-komentar yang negatif atau kurang pantas. Pokoknya, apa saja yang dilakukan si tokoh publik, ada saja komentar negatif darinya.

Lalu, siapa sih haters itu?

Haters di media sosial itu, tak lain adalah orang-orang yang bermain internet. Ya, manusia juga pastinya. Bahkan bisa jadi kita termasuk di dalamnya. Tapi semoga tidak. Karena tentu tidak semua netizen (pengguna atau warga internet) dibilang haters si tokoh publik. Buktinya, masih ada orang-orang yang mengagumi si tokoh publik dengan cara positif. Misalnya, ia mendukung dan turut mendoakannya, meski sekadar lewat virtual.

Nah, sekarang pertanyaannya, kenapa orang-orang menjadi haters si tokoh publik? Apa penyebabnya?

Barangkali, ada banyak alasan mengapa seseorang membenci orang lain. Namun berdasarkan pengamatanku pribadi, setidaknya ada dua hal yang menjadi sebab mengapa netizen membenci seseorang di dunia maya. Pada tulisan ini, fokuskanlah ke seorang tokoh publik

Yang pertama, yaitu karena kekayaan, prestasi, atau sikap si tokoh publik.

Tak jarang, kekayaan, prestasi, dan sikap seorang tokoh publik disorot media. Dan karena hal itu, sebagian orang merasa iri kepada si tokoh publik. Akibatnya, tak sedikit orang yang tanpa sadar mengekspresikan rasa irinya itu dengan komentar-komentar negatif berupa hujatan.

Yang kedua, yaitu karena pengaruh dari netizen yang menjadi komentator akun si tokoh publik.

Ketika melihat postingan seorang tokoh publik, barangkali seseorang merasa biasa saja. Namun begitu melihat komentar-komentar netizen yang berupa hujatan, orang itu bisa saja ikut terpengaruh sehingga ikut menghujat juga meski ia tidak tahu kebenaran yang sebenarnya.

Sejujurnya, dua hal di atas adalah alasan yang tidak bisa dianggap remeh. Pasalnya, rasa tidak suka atau benci seseorang akibat dorongan dari diri sendiri atau pengaruh dari orang lain, bisa muncul kapan saja. Maka untuk meminimalisirnya, sebaiknya kita tidak perlu follow akun tokoh publik jika belum bisa merespon prestasi dan kekayaan mereka secara positif, juga mudah terpengaruh komentar atau pikiran orang lain. Karena dengan TIDAK MENGIKUTI media sosial mereka, kita bisa meminimalisir terlontarnya komentar-komentar negatif lewat tulisan dan meminimalisir terpengaruhnya pikiran oleh komentar-komentar negatif orang lain.

Selain itu, kita juga belajar untuk menjaga kesehatan mental dengan tidak membenci atau iri pada orang lain. Toh makin membenci, hidup juga tidak makin tenang, kan?

12 September 2021

PBAK UIN SGD Bandung 2021

Setelah dua tahun berjalan tanpa adanya kesibukan kuliah atau sekolah, akhirnya aku kembali terjun ke dunia pendidikan, dunia perkuliahan. Tapi tentu, tidak langsung kuliah dan mulai belajar. Karena sama halnya seperti SMP atau SMA, dunia perkuliahan pun dimulai dengan masa orientasi atau yang dulu lebih dikenal 'OSPEK'. Hanya saja, istilahnya sudah berganti. Bukan OSPEK. Melainkan PBAK yang merupakan singkatan dari Pengenalan Budaya dan Akademik Kemahasiswaan.

Namun karena masih pandemi, PBAK pun dilaksanakan secara daring. Semua kegiatannya dilakukan secara virtual melalui aplikasi Zoom. Tidak perlu pergi ke kampus, apalagi sampai berjemur di bawah terik matahari. Hanya saja, harus menyiapkan kuota internet dan baterai perangkat yang digunakan, semaksimal mungkin. Pokoknya, enak banget deh. Hehe.

Dari jadwal PBAK yang dibagikan, kegiatan dimulai sejak tanggal 29 Agustus 2021 pukul 9 pagi. Pada waktu tersebut, dijadwalkan bahwa seluruh mahasiswa UIN SGD Bandung diharuskan mengikuti geladi PBAK Universitas sampai pukul 10 pagi dengan mengenakan pakaian yang sopan. Meski pada kenyataannya sih, memang masuk Zoom-nya. Tapi tidak kondusif seperti yang diperkirakan. Malah kalau gak salah, pewaranya gak bersuara sama sekali di geladi itu.

Selanjutnya di tanggal 30 Agustus 2021, sekitar jam 06.52 pagi, geladi PBAK universitas baru dilaksanakan. Jelas lebih kondusif dari geladi universitas di hari sebelumnya. Tapi ya, tetap dibilang terlambat juga. Karena dari jadwal yang dibagikan, PBAK universitas semestinya dimulai dari pukul 06.00. Dengan ketentuan, mahasiswa harus mengenakan pakaian kemaja putih dan kerudung hitam (bagi perempuan) dan menyiapkan name tag yang sudah diberi nama beserta kalungnya. Tak lupa, background Zoom juga perlu diganti dengan background yang sudah ditentukan masing-masing fakultas. Sedangkan pada kenyatannya, pada waktu tersebut baru dilaksanakan geladi PBAK universitasnya. Bukan langsung PBAK universitas.

Lalu setelah geladi PBAK universitas selesai, sempat ada istirahat sekitar 20 menit. Saat itu, pewara bahkan menyuruh kami untuk sarapan dulu. Haha. Tapi, aku tidak sarapan dulu sih. Takutnya tiba-tiba mulai gitu, kan? Nantinya repot. Apalagi, dari pemberitahuan sebelumnya, penilaian PBAK ditentukan kehadiran yang harus mencapai 95%. Kalau tidak, mungkin perlu mengulang PBAK, #katanya, hehe.

Sekitar pukul 07.52, PBAK universitas baru saja resmi dimulai. Diawali pembacaan ayat suci Al-Qur'an, sambutan dari rektor, pemutaran video profil UIN, dan sebagainya. Di mana pada salah satu susunan acara tersebut, ada acara penyematan name tag kepada dua orang mahasiswa baru di tempat berlangsungnya acara secara luring oleh rektor. Yang mungkin, seharusnya para mahasiswa di rumah juga disematkan name tag oleh orang tuanya masing-masing. Tapi, tidak diperintahkan secara langsung sih ketika acara berlangsung. Jadi, tidak ada acara penyematan name tag oleh orang tua mahasiswa di rumah.

Setelah itu, sekitar jam 11 siang, ada waktu istirahat. Ya, gak benar-benar istirahat sih. Tetap masuk Zoom juga. Tapi bisa melakukan hal lain gitu, off cam dulu. Dan saat itu, aku memanfaatkan waktu untuk makan nasi. Ya, kan lapar. Wkwk. 

Sekitar pukul 11.30, para mahasiswa harus on cam lagi karena acara kembali dilanjutkan. Di mana acara saat itu adalah acara talkshow yang mewawancarai empat wakil rektor UIN SGD Bandung. Dan ketika itulah, para mahasiswa harus melakukan resume yang nanti disetorkan di akun PMB, pada menu PBAK.

Sekitar pukul 12.30, acara talkshow tersebut sudah selesai. Dan acara PBAK universitas pun resmi ditutup beberapa saat kemudian dengan tampilan seorang mahasiswa solois yang menyanyikan sebuah lagu. Sebenarnya, mahasiswa solois tersebut tidak hanya sekali menyanyi di acara tersebut. Tapi berkali-kali pada sela-sela susunan acara. Jadi, cukup menghiburlah dalam suatu acara yang sangat resmi seperti ini. Hehe.

05 September 2021

Divaksin Dosis Pertama!

Sejak pertama adanya vaksin diumumkan di Indonesia, ada rasa senang sekaligus bingung yang menghampiri pikiranku. Senang, karena sudah ada pencegah dari tertularnya covid 19. Bingung, karena aku tidak ingin disuntik. Sedangkan vaksin sendiri hanya dapat dimasukkan ke dalam tubuh manusia melalui suntikan. Oke, jadi singkatnya, "Aku bukan khawatir sama vaksinnya. Tapi takut disuntiknya."

Namun di awal hadirnya vaksin di Indonesia, pemerintah mengumumkan bahwa kalangan yang diprioritaskan untuk divaksin adalah para dokter atau tenaga medis di rumah sakit. Dari situ, aku berpikiran bahwa mungkin aku akan divaksin belakangan. Mungkin di bulan ke sekian. Atau mungkin tahun depan. Yang jelas, tidak dalam waktu dekat setelah vaksin sinovac pertama kali disuntikkan kepada Bapak Presiden Joko Widodo sebagai warga Indonesia pertama yang menerima vaksin pada tanggal 13 Januari 2021. Disusul para staf menteri dan beberapa perwakilan dari berbagai kalangan di hari yang sama. Di antaranya dari kalangan influencer yang diwakili oleh Raffi Ahmad, kalangan pedagang, tukang becak dan kalangan lainnya.

Ya, aku kira begitu.

Tapi ternyata aku salah.

Karena di tanggal 6 Agustus 2021, lingkungan tempat tinggalku sudah mulai mengadakan kegiatan vaksin untuk seluruh warga. Bukan untuk warga lanjut usia atau warga tertentu saja. Tapi benar-benar untuk semuanya, yang berusia 12 tahun ke atas. Bahkan, sebenarnya sebelum itu pun sudah. Dan saat itu pula, aku disuruh untuk mengikuti vaksinasi tersebut oleh Teteh. Tapi aku menolaknya dengan alasan dari Mimi bahwa Mimi takut aku ditanya oleh petugas puskesmas seperti ini, "Kan baru diswab PCR kemarin. Kenapa sekarang vaksin?" (kurang lebih seperti itu). Meski pada hari itu, Teteh bersikeras bahwa vaksinasi diperbolehkan meski orang yang divaksin baru saja diswab PCR sebelumnya. Karena itu sama sekali tidak berpengaruh pada proses vaksinasi. Jadi ya, aku gak jadi ikut vaksinasi di hari itu.

Tapi sebenarnya, bukan alasan Mimi saja yang aku jadikan alasan untuk tidak mengikuti vaksinasi di hari tersebut. Melainkan ada alasan sendiri dariku. Yang pertama, aku ingin vaksinasi tapi ditemani Mimi. Kenapa? Karena aku takut kalau misalnya pas sehabis disuntik, aku tiba-tiba lemas, nangis atau bahkan pingsan. Kan, malu-maluin. Karena ketika aku disuntik di kelas 2 atau 3 SD saja, aku sampai menangis setelah pulang dari sekolahnya. Meski pas disuntiknya sih, memang gak nangis. Hehe.

Alasan kedua, yaitu karena takut digunjingin tetangga. Ya, saat itu kan, Mama lagi positif covid. Jadi takutnya ada tetangga yang tahu kalau Mama positif, terus omongin aku di belakang. Misalnya, kenapa aku keluar rumah? Kan bapaknya lagi positif? Duh, su'udzon. Padahal belum tentu begitu, ya?

Tapi, aku rasa aku telah mengambil keputusan yang tepat untuk tidak vaksinasi di hari itu. Karena beberapa hari setelahnya, Teteh justru dinyatakan positif covid 19. Ya setidaknya, dapat mengurangi risiko gunjingan dari tetangga. Hehe.

Selanjutnya di tanggal 2 September 2021, Mimi mengatakan bahwa lingkungan tempat tinggalku akan mengadakan kegiatan vaksinasi di hari esoknya. Dan Mimi menyuruh aku untuk mengikutinya. Dan, deg-degan deh. Antara mau dan gak mau. Mau karena bisa jadi pencegah, gak mau karena harus disuntik. Hadeuh.

Lalu tibalah tanggal 3 September 2021. Dari jadwalnya yang aku tahu di grup RT sih, kegiatan vaksinasi dimulai dari jam 8 - 10 pagi untuk warga yang vaksinasi dosis kedua. Sedangkan untuk warga yang vaksinasi dosis pertama, dimulai dari jam 10 - 11 pagi.

Hari itu, aku beraktivitas seperti biasanya. Cuma ya, ada takut-takut gitulah. Tapi, agak dilama-lamain. Main ponsel dululah. Baca buku, makan nasi, makan cireng, nonton TV. Padahal, sama sekali belum cuci piring dan mandi. Haha. Sampai akhirnya, aku baru selesai cuci piring sekitar jam setengah 10 lebih. Lalu karena ingat mau divaksin dan sudah sepakat sama Mimi kalau mau pergi ke tempat vaksinasi jam setengah sepuluh, aku mandi deh. Haha. Sebenarnya sudah telat dari waktu yang disepakati ya. Tapi ya sudahlah, mandi dulu. Orang habis basah-basahan cuci piring, masa gak langsung mandi? Wkwk.

Nah, ketika masih mandi, Mimi datang ke rumah. Terus negur aku karena masih belum siap-siap juga.

"Ai Bibah mau divaksin enggak?"

"Iya mau."

Untungnya, saat itu aku sudah beres mandi. Hanya saja, belum gosok gigi. Haha. Ya sudahlah. Akhirnya aku berangkat ke tempat vaksinasi tanpa menggosok gigi bersama Mimi dengan membawa beberapa lembar fotokopi KTP.

Sampai di sana, ternyata antreannya sangat panjang. Dan singkat cerita, aku mendapat nomor antrian 175. Lalu, tinggal menunggu giliran dipanggil deh.

"Seratus tujuh puluh lima," panggil seorang petugas.

Mendengar panggilan tersebut, aku pun langsung bangkit dari duduk dan berjalan sangat dekat ke petugas pertama. Kenapa sangat dekat? Karena aku duduk di kursi paling depan. Hehe.

Oleh petugas tersebut, aku diminta menyerahkan kertas nomor antrian dan selembar fotokopian KTP. Kemudian, beliau memintaku untuk menulis nama, asal RT, nomor telepon, dan tanda tangan di atas selembar kertas absensi. Setelahnya, aku langsung ditensi. Sedangkan beliau mempersiapkan berkas yang diperlukan.

"Tunggu dulu di situ, ya." Petugas tersebut  menunjukkan barisan kursi yang berada di seberang meja petugas pertama. Kemudian, aku pun berjalan ke barisan kursi yang ditunjuk tersebut.

"Habibah." Tak lama kemudian, namaku dipanggil oleh petugas lainnya. Beliau menyerahkan kertas nomor antrian, fotokopi KTP, dan kertas A4 yang sudah tertulis data-data tentangku yang diapit penjepit kertas kecil. Setelah itu, aku kembali duduk di kursi yang sama seperti sebelumnya.

"Bibah, mau ditemenin gak?" 

Dari jauh, Mimi terlihat berdiri dan bertanya di dekat kursi tunggu bagi orang-orang yang belum dipanggil urutan nomor antreannya. Lalu, Mimi langsung menghampiriku. Tapi setelahnya, seorang petugas lain lagi mempersilakan aku untuk menghampiri mejanya. Mimi pun ikut menemani. Oleh petugas tersebut, aku ditanyai mengenai riwayat penyakit. Apakah pernah mengidap autoimun? Asma? Positif covid? Lalu apakah ada obat rutin yang diminum? Dan lain sebagainya. Alhamdulillah-nya, semua pertanyaan itu terjawab dengan kata yang sama, 'Tidak'.

Dari petugas tersebut, aku langsung dipersilakan ke bagian vaksinasi. Ditemani Mimi juga. Ya, waktunya disuntik deh.

"Bismillah dulu, Bib," pesan Mimi padaku.

Saat itu, Mimi bicara pada vaksinator bahwa aku takut disuntik. Jadi Mimi meminta izin untuk ikut menemani ketika aku disuntik. Ya, malu juga sih. Masa udah gede masih takut disuntik. Haha. Dan aku juga bilang terus terang ke Mimi kalau aku malu. Soalnya Mimi bilangnya cukup keras sih. Hehe.

"Vaksinnya sinovac, ya." Vaksinator tersebut memberitahu.

"Iya, Bu."

Pelan-pelan, aku pun disuntik dengan mengalihkan pandangan ke arah kanan.

"Udah."

Uh... Rasanya lega banget. Ternyata gak sakit sih. Haha. Dan sesudahnya, aku juga gak lemas, nangis, apalagi pingsan. Baik-baik aja gitu. Malah ketawa-ketawa dan ngobrol sama Mimi saat menunggu selama 15 menit setelah disuntik.  Terus pas pulangnya, aku minta uang ke Mimi buat beli es krim. Wkwk.

----------------------------------------------------

Setelah divaksin, bagian yang disuntik (lengan kiri) memang terasa pegal. Paling terasanya, kurang lebih selama dua hari pertama. Sekarang sih, tanggal 5 September 2021, udah gak terlalu terasa pegalnya. Selain itu, gak ada efek lainnya. Ya semoga, gak usah deh. Haha.

Kalau kamu gimana?


27 June 2021

Luka Hati Karena Bully

Beberapa waktu lalu, aku sempat menonton sebuah video berjudul ‘Memori Pahit Masa Remaja Cinta Laura’ di kanal Youtube PUELLA ID. Aku menonton video itu, karena pada thumbnail video tersebut, terdapat tulisan ‘UDAH HUJAN, BECEK, GAK ADA OJEK’.

Diputarlah video itu. Dan lama-kelamaan, aku baru paham. Bahwa dalam video itu, Cinta Laura mengampanyekan untuk menghentikan tindakan bully, atau arti dalam bahasa Indonesianya, perundungan.

Rupanya, Cinta pernah di-bully ketika ia masih berusia 13 tahun. Di-bully karena apa? Karena celetukannya, “UDAH HUJAN, BECEK, GAK ADA OJEK.”

Jujur aku kaget mengetahui hal itu.

Jadi, kalimat itu dari Cinta Laura? Kok aku baru tahu, ya? Padahal, sering banget dengar kalimat itu.

Bukan sekali-dua kali saja aku mendengar kalimat itu dari teman sendiri. Tapi berkali-kali. Yah, memang sih. Terkadang, mereka berkata “UDAH HUJAN, BECEK, GAK ADA OJEK” dengan gaya bicara yang agak dilebai-lebaikan, lalu tertawa. Tapi, aku tak pernah mengetahui apalagi memikirkan berasal dari mana ‘kalimat khas’ tersebut.

Lalu, aku bertanya-tanya. Kenapa dengan kalimat tersebut, Cinta merasa di-bully? Padahal, isi kalimatnya biasa saja. Lagi pula, bukannya benar, ya? Kalau lagi hujan, otomatis becek. Dan kalau mau kebasahan ketika jalan dalam cuaca hujan atau setelah hujan, ya salah satu solusinya adalah naik ojek. Toh, aku juga pernah kok mengalami hal demikian.

Tapi, akhirnya aku memahami. Bahwa Cinta itu, diejek karena aksen Inggrisnya ketika mengucapkan kalimat tersebut. Di usia tiga belas tahun, yang masih terhitung sebagai anak-anak. Oleh hampir seluruh warga Indonesia, yang pasti banyak banget jumlahnya. Duh, pasti itu sakit hati banget sih. Anak seusia itu, harus menerima ejekan dari ribuan orang yang tidak dikenal. Yah, jalankan ribuan orang di Indonesia. Seorang anak SD, kalau diejek teman kelas saja, sudah bisa merasa sakit hati. Meskipun bukan karena akses bahasa Inggris, atau aksen bahasa daerahnya. Apalagi Cinta Laura yang diejek se-Indonesia.

Dalam video tersebut, Cinta juga menyebutkan bahwa ia membutuhkan waktu hingga sepuluh tahun lamanya untuk menyembuhkan luka hati akibat perundungan tersebut. Waktu yang sangat lama bukan untuk merasakan sakit hati?

Makanya, Cinta menyuarakan untuk menghentikan tindakan perundungan. Karena ia sendiri pernah mengalaminya, dan sangat merasakan dampak pada psikologisnya. Oleh karenanya, ia tidak ingin hal buruk yang dialaminya di masa lalu, teralami juga oleh anak-anak yang lainnya.

Omong-omong, sebelumnya aku sempat menyinggung tentang anak SD yang di-bully. Nah, temanku pernah mengalami hal itu. Bahkan, tidak hanya di SD. Tapi juga sampai di masa-masa setelah lulus dari SD.

Temanku, sebut saja namanya Lili (nama samaran). Ia bercerita, ketika bertemu denganku, jauh setelah hari kelulusan SD. Kalau tidak salah, saat kami sudah sama-sama SMA. Cerita sekilas sih. Gak panjang lebar. Sambil berdiri pula. Karena kami bertemunya secara tidak sengaja, di supermarket.

Ia menuturkan, bahwa ia sempat berpindah dari SMA satu ke SMA lain setelah menjalani masa orientasi siswa di sekolah pertama. Sebab utamanya, adalah karena ia satu sekolah dengan beberapa teman sekelas kami sewaktu SD. Tentu, teman itu bukan teman biasa yang baik-baik saja. Tapi teman itu adalah teman yang dulu suka mengejek Lili. Dan parahnya, masih juga mengejek saat itu.

Otomatis, Lili jadi gak betah dong. Karena kalau ada lebih dari satu orang mengejek seseorang di suatu lingkungan, orang lain yang sebenarnya gak tahu apa-apa, bisa ikut mengejek juga. Dan itu bisa menjadi gangguan bagi Lili ke depannya. Maka, Lili pun memutuskan untuk meminta kepada orang tuanya agar pindah sekolah saja.

Tapi, tentu saja orang tua Lili bertanya dulu apa alasan Lili sampai ingin pindah sekolah. Padahal, baru saja menjalani masa orientasi siswa. Akhirnya, karena sudah tidak kuat lagi, Lili menceritakan semua yang dipendamnya selama ini tentang teman-teman yang dulu dan saat itu mengejeknya. Dan untungnya, orang tua Lili mengerti. Mereka mengabulkan permintaan Lili untuk keluar dari sekolah itu dan masuk ke sekolah lain. Alhamdulillah. Setelah masuk ke sekolah baru, Lili mendapatkan teman-teman yang lebih baik sehingga ia bisa menjalani masa-masa SMA-nya dengan baik sampai lulus.

Nah, itu adalah kisah Cinta dan Lili. Keduanya sama-sama pernah diejek, diberi luka, dan memilih kabur ke lingkungan yang baru. Cinta, beberapa tahun setelah ejekan itu dimulai dan menyebar luas di Indonesia, pergi ke luar negeri sembari melanjutkan studinya. Sedangkan Lili, setelah mengetahui ternyata ia akan satu sekolah dengan teman yang masih juga mengejeknya, pindah ke sekolah baru. Dan bagiku, itu bukan hal yang sangat buruk. Karena bagaimana pun, mereka juga butuh ketenangan dan kenyamanan dari lingkungan yang ditempatinya. Sekaligus, untuk menyembuhkan luka hati secara berangsur-angsur tanpa harus berhadapan dengan sebab luka hati itu sendiri. Karena, kalau ingin ‘sembuh’ tapi masih dihadapkan pada sebab luka itu, ‘sembuh’nya mungkin akan memakan waktu yang lebih lama dari pada yang tidak dihadapkan sebab luka itu. Contohnya, kalau sakit hati karena putus dari pacar, sedangkan mantan pacar itu masih sering kali ditemui, move on-nya agak susah juga, kan?

Teman-Teman, luka hati karena bully, bisa betah lama-lama di hati. Kecil sekali kemungkinannya kalau ada orang yang di-bully habis-habisan, tapi langsung memaafkan. Ya, mungkin lisannya berkata, “Iya, aku maafin, kok.”. Tapi hatinya, mungkin berkata lain, “Sebenarnya aku gak suka diejek kayak gitu. Aku belum maafin kalian dari hati aku yang paling dalam. Aku benci kalian. Gak suka sikap kalian yang kayak gitu.”. Lalu esoknya, tiba-tiba orang itu gak mau masuk sekolah, misalnya. Atau, menangis sejadi-jadinya tanpa diketahui orang-orang yang mengejek.

Jadi, Teman-Teman, hentikan perundungan, ya. Soalnya, menyembuhkan lukanya tuh lama banget. Capek. Lelah. Stres. Apalagi kalau memorinya terputar lagi di otak. Itu makin susah. Dan, untuk membuat agar mengingatnya tanpa harus merasa sakit kembali itu, butuh waktu, butuh ikhlas, butuh mengerti diri sendiri yang gak cuma makan waktu sehari-dua hari.


16 May 2021

Bersih 5 Waktu ala Panty Liners Daun Sirih Softex

Beberapa minggu belakangan ini, mungkin kamu pernah menjumpai iklan panty liners daun sirih dari brand pembalut ternama, Softex, di televisi. Tapi jujur, sepertinya aku sendiri baru kali ini melihat iklan panty liners Softex di televisi. Meskipun sebenarnya, produk panty liners ini telah diproduksi PT. Softex Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu.  Karena aku pun, termasuk salah satu pemakainya.

Jika menilik kembali iklannya di kanal Youtube Kimberly-Clark Softex, rupanya iklan tersebut memiliki total durasi 0,31 detik, dengan thumbnail bergambar tiga pak panty liners dan slogan "Bersih 5 Waktu."

Omong-omong slogan "Bersih 5 Waktu", rupanya masih ada nih sebagian orang yang belum memahami maksud slogan tersebut. Karena, slogan ini berkaitan dengan monolog sang bintang iklan berikut ini, "Sebelum salat, ganti panty liners Softex daun sirih biar ibadah tetep bersih." Dan karena waktu salat (khususkan salat fardu) terdiri dari lima waktu dalam sehari, maka jadilah slogan "Bersih 5 Waktu."

Tapi tunggu. Pertanyaannya, kenapa memakai panty liners sebelum salat? Memangnya boleh?

Nah, sebelum menjawab pertanyaan yang satu ini, mari kita perhatikan iklan produknya di bawah ini.

Dalam iklan tersebut, sang bintang iklan menyebutkan beberapa kegiatan, di antaranya : nyiapin sahur, bangunin yang lain, nyiram tanaman, meeting gak kelar-kelar, gowes-gowes, sampai nyari takjil. Di mana kegiatan-kegiatan tersebut adalah serangkaian kegiatan (yang mungkin dilakukan) para perempuan dalam sehari di bulan Ramadan. Dan karena kegiatan tersebut dilakukan terus-menerus atau malah ditambah kegiatan lain, maka bisa menyebabkan kelelahan yang bisa berujung juga pada terjadinya keputihan. Sedangkan jika keputihan terjadi terus-menerus, maka melaksanakan salat pun bisa terganggu. Karena seperti yang kita tahu, salat harus dilaksanakan dalam keadaan suci dari hadas kecil atau besar dan dari semua jenis najis. Oleh karenanya, memakai panty liners bisa menjadi salah satu solusi.

Ketika seorang perempuan memakai panty liners yang ditempelkan pada celana dalamnya dengan posisi yang tepat, maka keputihan akan terkumpul pada panty liners tersebut. Lalu ketika hendak salat, perempuan tersebut bisa melepas panty liners-nya kemudian menggantinya dengan yang baru. Sehingga keputihan pun tidak akan terbawa ketika melaksanakan salat. Dan panty liners yang dipakai juga dalam keadaan baru, bersih dan suci. Maka insya Allah, syarat sucinya dalam salat pun bisa terpenuhi ditambah wudu yang dilakukan sebelum salat.

Baca juga :

Namun, jika keputihannya keluar lagi setelah wudu, wudu bisa dianggap batal. Tapi apabila keputihannya memang keluar terus-menerus dan jarang berhenti, maka tidak membatalkan wudu. Hal ini sama seperti dengan darah istihadoh, sesuai dengan pendapat dari Syekh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaiman berikut ini :

فإنه ينقض الوضوء وعليها تجديده، فإن كان مستمراً، فإنه لا ينقض الوضوء

"Keluarnya keputihan membatalkan wudhu dan wajib baginya mengulangi wudhu, jika keluar terus-menerus, maka tidak membatalkan wudhu."

Meski begitu, sebenarnya ada juga para ulama lain yang berpendapat bahwa keputihan itu suci dan tidak membatalkan wudu. Di antaranya yaitu Ibnu Hazm dan dan Ibnu Taimiyyah. Sedangkan dari yang aku ketahui ketika belajar di pesantren, keputihan itu membatalkan wudu. Sehingga jika ingin melaksanakan salat tapi keluar keputihan, harus berwudu lagi. Namun, jika keputihan keluar ketika sedang melaksanakan salat, maka salat boleh terus dilanjutkan. Tanpa perlu menghiraukan adanya keputihan tersebut. Kemudian jika hendak melaksanakan salat selanjutnya, panty liners perlu diganti lagi dengan panty liners yang baru.

Tapi, sekadar saran, ya. Sebaiknya, panty liners tidak digunakan setiap hari. Karena dapat menimbulkan keputihan yang berlebih. Jadi, saran untuk memakai atau mengganti panty liners ketika hendak salat ini, sebaiknya diterapkan bagi kamu yang punya banyak kesibukan di luar rumah agar tidak perlu repot membawa banyak celana dalam.

Kesimpulan :

Memakai panty liners ketika salat, diperbolehkan. Asal dalam keadaan baru dan suci.

Sekian.

Semoga bermanfaat.

Wallahu 'alam.


Referensi : 

https://muslimafiyah.com/hukum-keputihan-dan-lendir-yang-keluar-dari-kemaluan-wanita.html#_ftnref5

09 May 2021

Makan Sebelum Lapar, Apa Benar?

Beberapa hari lalu, entah kenapa tiba-tiba aku sempat berpikir seperti ini : makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang atau makan setelah lapar, berhenti sebelum kenyang? Yang bener itu yang mana? Coba tanyain di medsos kali ya nanti.

Jadilah. Pada sore harinya, aku membuat polling di story Instagram dan Facebook. Dengan tulisan seperti berikut 'Menurut hadits nabi, yang benar itu yang mana? (Pilihan 1) Makan sebelum lapar (Pilihan 2) Makan setelah lapar'. Selain itu, aku juga membuat story WhatsApp dengan tulisan : Menurut hadits nabi, yang benar itu yang mana? Makan sebelum lapar atau makan setelah lapar?. Yang pastinya, aku berharap semoga banyak yang memilih atau merespon sih.

Beberapa jam hingga satu hari kemudian, aku mengecek hasil story tersebut. Tapi ternyata, orang yang memilih sangat sedikit. Di Instagram dua orang, Facebook 2 orang, sedangkan di WhatsApp, tidak ada yang merespon atau menjawab satu pun. Alasannya, mungkin karena memang jumlah followers dan teman medsosku yang sangat sedikit. Atau mungkin, mereka yang lebih pintar karena mengetahui bahwa kalimat itu bukanlah hadis nabi.

Iya. Ternyata itu bukan hadis nabi. Kalau pun dikatakan hadis, ya hadis daif. Atau malah, hadis palsu. Bahkan karena saking palsunya, di kitab hadis palsu pun tidak ada kalimatnya.

Nah, dari polling di story medsos itu, ternyata semua pemilih memilih makan sebelum lapar. Tidak ada yang memilih makan setelah lapar. Atau katakanlah, 'makan saat lapar'. Ya, ada sedikit kesalahan sih, ya. Seharusnya 'saat', bukan 'setelah'. Tapi hari itu, aku tak terpikir kata 'saat'. Jadi pakai kata 'setelah'.

Karena penasaran tak mendapatkan jawaban yang memuaskan, aku pun mengetikkan kata 'makan sebelum lapar atau makan setelah lapar' di mesin pencarian daring Google dan Youtube. Baru tahulah aku ketika itu. Bahwa ternyata, kalimat yang berbunyi 'makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang' adalah hadis daif. Malah, kalimatnya juga salah. Seharusnya 'makan saat lapar, berhenti sebelum kenyang'.

Loh, kenapa ada kalimat yang benarnya? Katanya bukan hadis?

Ya, itu memang bukan hadis. Tapi ada kalimat yang benarnya. Tentu, bukan dari sabda Nabi Muhammad saw. Tapi dari seorang dokter dalam sebuah cerita di kitab Ar-Rahmah fii Ath-Thibb wa Ar-Rahmah karya Al-Imam As-Suyuti.

Baca juga :

Berikut adalah kutipan cerita (yang aku temukan dengan keterangan terlengkap di Google) dalam kitab tersebut.


Ada empat orang dokter ahli berkumpul di istana Raja Persia. Empat dokter ini masing-masing berasal dari Irak, Romawi, India, dan Sudan.

Kepada keempat dokter ini, raja meminta resep atau obat-obatan yang paling manjur dan tidak membawa efek samping. Dokter dari Irak mengatakan, obat yang tidak membawa efek samping adalah minum air hangat tiga teguk setiap pagi ketika bangun tidur.

Dokter dari Romawi mengatakan, obat yang tidak membawa akibat sampingan adalah menelan biji rasyad (sejenis sayuran) setiap hari.

Sedangkan dokter yang dari India mengatakan, obat yang tidak membawa efek samping adalah memakan tiga biji ihlilaj yang hitam tiap hari. Ihlilaj adalah sejenis gandum yang tumbuh di India, Afghanistan, dan China.

Ketika tiba giliran dokter dari Sudan bicara, dia diam saja. Kemudian raja bertanya, "Mengapa engkau diam saja?"

"Wahai Tuanku, air hangat itu dapat menghilangkan lemak ginjal dan menurunkan lambung. Biji rasyad dapat membuat kering jaringan tubuh. Dan ihlilaj juga dapat membuat kering jaringan tubuh yang lain," jawabnya.

"Kalau begitu menurut kamu, obat apa yang tidak mengandung efek samping?" Raja bertanya lagi.

Dokter dari Sudan itu menjawab, "Wahai Tuanku, obat yang tidak mengandung efek samping adalah Anda tidak makan kecuali sesudah lapar. Dan apabila Anda makan, angkatlah tangan Anda sebelum Anda merasa kenyang. Apabila hal itu Anda lakukan, maka Anda tidak akan terkena penyakit kecuali mati," tandasnya.


Perlu diketahui, kalimat 'angkatlah tangan Anda sebelum Anda merasa kenyang' itu bermaksud 'menghentikan makan sebelum kenyang'. Atau lebih singkatnya, berhenti sebelum kenyang.

Jadi, kesimpulannya sudah jelas, ya. Bahwa kalimat yang benar itu adalah "makan saat lapar, berhenti sebelum kenyang". Itu pun bukan hadis, tapi sebuah nasihat dari seorang dokter Sudan kepada Raja Persia dalam sebuah kisah yang ditulis Al-Imam As-Suyuti dalam karyanya, Ar-Rahmah fii Ath-Thibb wa Ar-Rahmah.

Semoga bermanfaat.


Referensi :  

Makan Sebelum Lapar atau Setelah Lapar? dalam blog https://imanfirm1810.wordpress.com/2015/06/03/makan-sebelum-lapar-atau-setelah-lapar/amp/

Hadits Palsu "Makan Sebelum Lapar, Berhenti Sebelum Kenyang" di kanal Youtube Audio Dakwah dengan pengisi Ustaz Adi Hidayat - https://youtu.be/D5lUe1dUCz8

28 March 2021

Ketika Kata Menjadi Nyata

Kamu tentu sudah tak asing dengan peribahasa seperti ini : Mulutmu, Harimaumu. Peribahasa tersebut bermaksud agar seseorang senantiasa berhati-hati dalam berbicara. Atau maksud dalam aplikasi KBBI, yaitu 'keselamatan dan harga diri kita bergantung pada perkataan diri sendiri'. Karena apa yang diucapkan, bisa berpengaruh pada diri kita di masa depan. Atau dengan kata lain, ucapan adalah doa.

Namun, apakah yang menjadi doa hanya dari ucapan?

Sepertinya tidak. Itu menurutku.

Beberapa tahun lalu, aku membuka sebuah buku bacaan milik teh Empit di kamarnya. Dan di halaman ke sekian, aku menemukan fakta bahwa sebelum tertabraknya kapal Titanic, terdapat sebuah cerita fiksi yang menceritakan tentang sebuah kapal tertabrak gunung es dengan nama kapal Titan. Yang setelah aku tengok lagi beberapa minggu lalu, ternyata persisnya kalimat fakta itu seperti berikut : 

Fakta tentang Titanic

Buku yang mengutip fakta tentang Titanic

Pertama membaca, aku hanya menanggapinya biasa saja. Seperti tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, tanggapan biasa itu justru berubah sejak beberapa bulan yang lalu. Menjadi agak mencemaskan.

Jika kamu mengikuti blogku ini atau berteman denganku di facebook, mungkin kamu pernah membaca sebuah postinganku yang diberi judul 'Adegan vs Kenyataan (Di Balik Kematian Ashraf Sinclair)'. Di postingan itu, aku berpendapat apa adanya. Seperti yang aku lihat, baca, dan dengar. Dihubungkan pula dengan sebuah fakta yang aku ketahui. Dan setelah selesai ditulis, barulah dibagikan di salah satu akun facebook-ku.

-

Beberapa bulan berlalu, semuanya berjalan baik-baik saja. Hingga akhirnya di bulan Juli, dampak itu mulai terasa.

Ibuku bercerita bahwa beliau mendapat kabar dari teman-temannya di pasar mengenai alasan mengapa alun-alun ditutup. Katanya, ada seorang pria yang pingsan di alun-alun dan disangka terpapar virus covid 19. Padahal, ternyata pria itu baru saja minum beberapa jenis minuman bersoda (mungkin dicampur atau bagaimana). Yah, kamu tau sendirilah. Di masa-masa awal pandemi covid 19, apa-apa dianggap covid. Batuk sedikit, dijauhin. Bersin sekali, dijauhin. Atau pingsan, dianggap covid juga. Sampai-sampai aku sendiri pernah menonton berita di TV mengenai seorang pria yang pingsan di pinggir jalan. Dan warga sekitar mengira pria itu terpapar covid 19. Sampai memanggil tim medis berpakaian APD lengkap pula. Tapi ternyata, pria itu baru saja putus cinta. Duh, kan gak lucu.

Oke, berlanjut ke ceritaku.

Setelah mendengar cerita dari ibuku - Mimi -, aku menuliskannya di ponsel untuk kemudian dipublikasikan di Kompasiana. Dan aku juga sempat pergi ke alun-alun keesokan harinya. Menengok alun-alun yang ternyata benar-benar ditutup dengan kayu dan tali yang terpasang di sekelilingnya. Kemudian memotretnya dari salah satu sisi untuk dijadikan pelengkap tulisan di Kompasiana.

Cekrek!

Beberapa hari berlalu, hingga tibalah hari itu. Hari di mana aku sendiri yang tertidur di alun-alun setelah berolahraga dan merasa begitu lelah dengan nafas yang tidak teratur. Kepala pening. Mata buram. Nafas sesak. Hingga aku benar-benar tidak mampu untuk berdiri sekalipun (cerita selengkapnya, ada di sini ya). Dan setelah kejadian itu, aku merasa bahwa itu adalah sebuah karma, mungkin? Karena aku membicarakan seseorang lewat tulisan? Ya entahlah. Aku tidak mengerti.

Kemudian, tidak jauh dari hari itu. Aku mengalami hal yang membuat rasa cemasku bertambah.

Di hari berlangsungnya UM-PTKIN, teh Empit mengetuk pintu rumah yang dikunci. Sedangkan aku sendiri sedang ujian di dalam kamar. Sengaja mengunci pintu rumah agar tidak ada yang mengganggu. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Karena ternyata, teteh yang baru tiba setelah bepergian tidak membawa kunci rumah. Dan kejadian itu mengingatkan aku yang menulis mengenai enak dan tidak enaknya UM-PTKIN daring tahun 2020 di Kompasiana. Karena di tulisan itu, aku menulis salah satu kelemahan UM-PTKIN daring yang tak lain adalah ketukan pintu rumah dari tamu atau anggota keluarga ketika sedang berlangsungnya ujian. Beuh! Aku menjadi galau sendiri ketika mengingatnya. Kenapa pula benar terjadi?

Tapi ya, sudahlah. Pada akhirnya, walau aku memang tidak lolos UM-PTKIN, aku tidak menyalahkan teteh sepenuhnya. Salahku sendiri tidak kompromi dulu ke keluarga. Dan mungkin, aku yang 'kurang' berjuangnya.

-

Setelah beberapa kejadian itu, aku menjadi lebih berpikir berulang kali ketika ingin menulis sebuah tulisan, terlebih cerita fiksi. Agak cemas-cemas gitu. Ya meskipun, memang jarang sih. Imajinasiku juga gak luas-luas amat. Tapi ya, untuk menulis cerita fiksi, seringkali aku dibayang-bayangi kalimat 'takut benar kejadian'. Ditambah lagi, dari beberapa adegan atau alur cerita dari film dan sinetron yang aku tonton, ada yang benar kejadian sampai dunia nyatanya. Di cerita filmnya cerai, eh di dunia nyatanya juga cerai. Di cerita filmnya nikah, eh di dunia nyatanya nikah juga. Di cerita filmnya meninggal, eh innaalillaahi wa inna ilaihi rooji'un, gak lama setelah itu meninggal juga. 😭 

Tapi... lama-kelamaan aku juga sadar kok bahwa gak semua adegan dalam film itu bisa menjadi kenyataan. Ya kalau benar kejadian, itu sih mungkin memang sudah takdirnya. Kebetulan, pas sama tokoh yang pernah diperankan. Karena jika semua aktor/aktris dibayang-bayangi dengan fakta semacam itu, mungkin mereka juga akan menolak pekerjaannya. Masa iya sih ada aktor yang mau memerankan tokoh bernasib buruk jika ia tau bahwa hal itu pasti menimpa dirinya? Kan kemungkinan besarnya, gak ada yang mau. Iya gak sih?

Begitu pula, dengan aku dan hobi menulisku. Karena jika aku terus-terusan berpikir 'takut benar kejadian', kapan menulisnya? Toh setidaknya, kita yang jadi penulis atau katakanlah pengarang cerita, bisa mengarang cerita sebaik mungkin tanpa risiko yang terlalu buruk jika kebetulan kejadian di dunia nyata. Atau jika bukan menulis cerita, kita bisa menulis kalimat-kalimat positif yang setidaknya bisa meminimalisir kerugian pada diri kita sendiri. Dan jika memang tanpa sadar kita menulis hal yang agak buruk dan kebetulan kejadian, itu berarti sudah takdirnya. Yah, gitu sajalah.

Kesimpulan : 

Menurutku, apa yang terjadi di kemudian hari tidak hanya dipengaruhi oleh ucapan di hari ini. Bisa juga dari tulisan, pemikiran yang tidak diucapkan, adegan peran, lagu atau mungkin saja lukisan. Tapi sayangnya, kita sendiri tidak bisa meramal atau mengetahui apa yang akan terjadi. Dan hanya perlu menjalani apa yang harus dijalani. 

Misalnya, ketika aku sedang menulis tentang UM-PTKIN daring di tahun kemarin. Ya aku menulis sesuai apa yang aku pikirkan selama itu baik-baik saja. Tidak pernah mengira bahwa tulisan itu akan menjadi kenyataan. Meski pada akhirnya, aku menyadari bahwa tulisan itu benar-benar terjadi di dunia nyata.

Atau, contoh lainnya seperti ini. Ketika seorang aktor ingin memerankan tokoh di sebuah film, aktor tersebut pastilah harus mengikuti adegan seperti yang sudah dirancang pada skenario. Tanpa berpikir bahwa adegan tersebut akan dialami dirinya sendiri di dunia nyata dengan cerita yang tidak jauh berbeda. Meski pada akhirnya, adegan tersebut dialaminya juga.

Lalu, sebaiknya harus bagaimana?

Ini sebuah nasihat untuk mengingatkan diriku sendiri dan siapapun yang membaca ini :

Kita memang tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang. Jadi sebaiknya, kita tetap berpikiran, berkata, bersikap dan menulis hal-hal yang positif saja ya. Tapi, jangan berlebihan juga. Sekadarnya saja.


~ tumben bijak 😂


Wallahu'alam

18 October 2020

Kenapa Banyak Pondok Pesantren Mewajibkan Santri Putrinya Mengenakan Mukena Terusan Ketika Sholat?

 

Sumber : http://fathinqurr.blogspot.com/
Sumber : http://fathinqurr.blogspot.com/


Kenapa Banyak Pondok Pesantren Mewajibkan Santri Putrinya Mengenakan Mukena Terusan KetikaSholat?
Apa kamu pernah nyantri di sebuah pondok pesantren? Jika iya, apakah pondok pesantren yang kamu tempati memiliki aturan mengenai mukena yang harus kamu kenakan ketika sholat? Tentunya, untuk kamu yang perempuan ya. Hehe.

Aku sendiri, Alhamdulillah sebelumnya pernah mengenyam pendidikan di sebuah pondok pesantren di Cirebon. Disana, ada sebuah peraturan dari seksi peribadatan (bagian pengurus) yang mengharuskan semua santri di pondok pesantren yang aku tempati untuk memakai mukena terusan atau yang biasa disebut dengan mukena langsungan ketika melaksanakan sholat. Sebelumnya, aku tidak tahu alasannya apa. Dan aku kira peraturan itu hanya berasal dari seksi peribadatan saja. Tapi seiring waktu berjalan, aku pernah mendengar perintah dari Mimi (panggilan pengasuh perempuan / nyai di pondokku) yang memerintahkan salah satu santrinya yang memakai mukena potongan untuk segera menggantinya dengan mukena terusan. Dari situ, aku baru mengerti bahwa peraturan tersebut berasal dari gagasan Mimi sendiri.

Sebenarnya, aku tidak mempermasalahkan peraturan pesantren yang mewajibkan santrinya mengenakan mukena terusan. Toh dipakainya juga enak enak saja. Tapi ya, jadinya aku harus membeli mukena baru untuk dibawa ke pesantren di liburan pertama kali. Karena keluargaku tak memiliki satu pun mukena terusan. Jadi gini ceritanya. Aku pertama masuk pesantren di bulan Ramadhan. Tapi, saat itu aku tidak tahu bahwa ada peraturan mengenai kewajiban untuk mengenakan mukena terusan ketika sholat. Jadi aku masih mengenakan mukena potongan di pesantren selama tiga minggu. Dan pengurus juga memakluminya. Asalkan setelah liburan nanti, santri harus mempunyai mukena terusan untuk dikenakan ketika sholat di pesantren selanjutnya. Kemudian setelah tiga minggu di pesantren dan waktu liburan idul fitri tiba, barulah aku membeli sebuah mukena terusan setelah lebaran di pasar baru bersama ibu dan adikku.

Lalu, kenapa harus pake mukena terusan ya? Oke. Sebelumnya, aku ingin memberitahu bahwa ini hanya pendapatku. Jika kamu tidak setuju, tidak apa-apa. Karena memang, tidak ada satu pun santri lain atau kakak kelas yang memberitahuku dengan jelas mengenai alasan mengapa semua santri di pesantren tercintaku ini diwajibkan mengenakan mukena terusan ketika sholat. Sekali lagi, aku tidak memaksamu untuk menyetujui pendapatku.

Saat aku masih menjadi santri baru yang belum berumur setahun, aku mempelajari kitab Safinatun Najah dengan bimbingan Ustadzah Munawaroh yang biasa dipanggil akrab dengan sebutan Mba Mun. Dan ketika sampai di pembahasan syarat-syarat sujud dan anggota sujud, aku menemukan alasan itu.

Pada pembahasan syarat-syarat sujud, dijelaskan bahwa ketika kita sujud ada tujuh anggota badan yang harus menempel pada tanah (alas). Kemudian pada pembahasan anggota sujud, disebutkanlah ketujuh anggota sujud tersebut. Diantaranya yaitu dahi, bagian dalam kedua telapak tangan, kedua lutut dan bagian dalam jari-jari kedua kaki. Memang sih, mungkin penjelasannya benar-benar cukup singkat jika hanya terpaku pada kitabnya saja. Namun, Mba Mun menambahkan beberapa penjelasan lain. Diantaranya yaitu, dahi harus benar-benar menempel pada alas tanpa ada penghalang. Namun, penghalang disini dikhususkan lagi. Karena penghalang yang dimaksud bukanlah sajadah. Penghalang yang dimaksud disini adalah sesuatu yang menghalangi antara dahi dan alas namun kembali terbawa ketika berdiri. Atau bisa dibilang, kain mukena jika mengenakan mukena potongan. Sedangkan jika yang menghalangi itu tetap berada di bawah dan tidak terbawa, itu tidak apa-apa. Misalnya, seorang teman menaruh sebuah bantal tepat di tempat kamu bersujud. Maka, itu tidak dianggap penghalang. Namun jika kamu mengenakan mukena potongan dan kain mukena yang kamu kenakan itu menghalangi dahi kamu dengan alas sholat, itu baru dianggap penghalang. Dan hal yang sama juga berlaku untuk bagian dalam kedua telapak tangan. Antara bagian dalam kedua telapak tangan dan alas tidak boleh ada penghalang. Itulah sebabnya santri diwajibkan mengenakan mukena terusan. Selain kain mukena yang tidak akan menghalangi dahi, mukena terusan juga memiliki model bagian tangan yang tidak menghalangi bagian dalam telapak tangan. Jadi, sujudnya bisa leluasa dan tidak harus ‘menyembunyikan’ kain mukena agar bisa ‘menempelkan’ dahi pada alas.

Lalu, bagaimana dengan kedua lutut dan bagian dalam jari-jari kedua kaki?

Well, kamu tahu kan kalau lutut dan bagian dalam jari-jari kedua kaki termasuk aurat dalam sholat bagi perempuan? Jadi, kamu tetap harus menutupi keduanya namun tetap melaksanakan syarat-syarat sujud tersebut. Sedangkan wajah (termasuk dahi) dan telapak tangan itu tidak termasuk aurat bagi perempuan.

Begitulah. Ini adalah pendapatku mengenai kenapa sebenarnya banyak pondok pesantren yang mewajibkan para santrinya mengenakan mukena terusan. Meskipun memang tidak semua pondok pesantren mewajibkannya. Tapi aku hanya ingin berbagi. Menuangkan apa yang sangat ingin aku tulis dari kepala ke sebuah media.

22 February 2020

Adegan VS Kenyataan (Dibalik Kematian Ashraf Sinclair)
Adegan VS Kenyataan (Dibalik Kematian Ashraf Sinclair) - Beberapa hari ini kita semua dikejutkan dengan kematian suami BCL, Ashraf Sinclair. Kematiannya yang secara mendadak dan penuh tanda tanya menjadi misteri bagi siapa saja yang mendengarnya. Termasuk kerabat, keluarga, para selebritas, dan para netizen Indonesia.
Ashraf Sinclair diketahui tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya. Rajin berolahraga, dan dianggap paling sehat diantara semua keluarganya. Namun, tiada yang menyangka jika Ashraf Sinclair meninggal dunia secara mendadak dikarenakan serangan jantung.
Dari berbagai media informasi, tentu Anda mengetahui bahwa Ashraf Sinclair meninggal dunia meninggalkan istrinya – Bunga Citra Lestari – dan anaknya – Noah Sinclair. Dan dari fakta itu pula, saya mengingat suatu adegan sinetron yang diperankan oleh Ashraf.
Adegan yang saya maksud sebelumnya adalah adegan dalam sinetron Cinta yang Hilang. Dimana Ashraf berperan sebagai dokter yang memiliki istri bernama Tari. Namun, Ashraf mengakhiri perannya dalam sinetron tersebut dengan adegan meninggal dunia, meninggalkan istrinya. Hal ini tentu sama dengan kenyataan bahwa Ashraf pun meninggal dunia meninggalkan istrinya, BCL.
Di lain waktu, saya membaca artikel mengenai Baim Wong yang mengunjungi Bunga setelah kematian Ashraf. Dimana pada artikel tersebut, dituliskan bahwa Baim Wong bercerita mengenai BCL yang berkata pada Baim Wong kurang lebih seperti ini “Im, kita kan aktor ya, biasanya kita melakukan adegan ini loh' (membangunkan tapi tak bangun lagi)”. Hal ini membuat saya kembali menyambungkan dengan kronologi meninggalnya Ashraf. Dimana BCL juga membangunkan Ashraf yang tidur memunggunginya, namun ternyata tidak terbangun juga dan dinyatakan tidak ada denyut nadinya (meninggal dunia).
Dari kedua fakta tersebut, tentu Anda pun sudah mengerti apa yang saya maksud dalam tulisan ini. Dimana adegan yang diperankan keduanya dalam sinetron atau film, ternyata dialaminya pada kenyataan juga.

Sekedar informasi. Dalam sebuah buku, saya menemukan fakta bahwa :
Hati-hati membuat cerita fiksi. Karena sebelum tertabraknya kapal Titanic di dunia nyata, terdapat cerita fiksi dengan kejadian yang hampir serupa dengan nama kapal Titan.

Wallahu ‘alam

Dikutip dari beberapa sumber dan ditulis atas inisiatif sendiri.