19 March 2024

Pemilu 2024: Tinta Ungu Pertama di Hidupku

 Telah sebulan berlalu, pesta demokrasi digelar serentak  di seluruh wilayah Indonesia. Dan nampaknya, hari ini, kita bisa lihat siapa orang selanjutnya yang akan memimpin negara Indonesia.

Tahun ini adalah pertama kalinya aku ikut terlibat dalam pemilihan presiden. Dan baru di tahun ini pula, aku jadi sering nonton konten politik mengenai ketiga cawapres yang terus-menerus kampanye sebelum Pemilu digelar.

Setelah semuanya berlalu, aku tersadar suatu hal. Bahwa tiktok tidak hanya berpengaruh pada dunia hiburan semata. Tapi juga berpengaruh di dunia politik untuk membangun citra para caleg maupun cawapres.

Sayangnya, tidak semua konten di tiktok itu benar-benar sebuah fakta. Apalagi soal politik. Beuh, banyak sekali propaganda yang muncul dan menyudutkan cawapres lain. Jika ada konten yang benar-benar sesuai fakta, kemungkinannya ada dua: mungkin, itu adalah akun milik media; atau pemilik akun itu yang benar-benar kritis.

Di masa politik, bukan sekali dua kali aku melihat konten yang menyudutkan cawapres lain. Bilang ada pengkhianatan kah, bilang ada yang dipecat dari menteri karena suatu kasuslah. Yang begitu-begitu, kalau penontonnya kurang melek politik, mungkin akan ikut terbawa arus dan ikut memojokkan cawapres lain. Dan sebagaimana yang kita tahu, tidak semua pengguna tiktok itu berasal dari kaum terpelajar. Ya minimal, lulus SMA gitu. Jadi ya, warga Tiktok cukup mudah untuk diambil perhatian dan emosinya.

Semua itu nampak jelas setelah hasil quick count usai pemilihan presiden ditampilkan di layar kaca. Terlihatlah siapa pasangan yang memenangkannya. Terlihatlah siapa yang paling "mencuri" perhatian warga Tiktok dengan buzzer-buzzernya.

Oh ya, jangan salah. Para buzzer itu jelas dibayar oleh suatu pihak agar menyebarkan konten mengenai cawapres yang didukungnya dan memuja-muji cawapres dalam kontennya.

Baca juga: Tiga Fakta Jarimatika

Padahal, masyarakat lain sadar betul bahwa ada yang tidak beres dengan Pemilu 2024 ini. Dari salah satu sumber, aku pernah membaca bahwa Pemilu 2024 adalah Pemilu Indonesia terburuk sepanjang masa. Sial!

Aku tak ingin berpihak pada kecurangan, yang membangun dinasti keluarga dalam suatu pemerintahan. Hei, ini bukan negara kerajaan seperti Brunei Darussalam. Ini adalah Republik, maka tak semestinya ada dinasti kelurga dalam pemerintahan ini.

Di lain sisi, masyarakat mengagumi cawapres lain yang dipandang bisa membawa perubahan di negara Indonesia. Visi misinya lebih realistis, dan membawa demokrasi ke level tinggi dengan adanya interaksi tanya jawab antara cawapres dengan masyarakat. Dan itulah yang dirindukan para anak muda sekarang.

Beribu-ribu orang mendukungnya, mendatangi tempat kampanyenya tanpa undangan khusus ataupun dibayar sekian rupiah. Ini ajaib, banyak orang yang mengampanyekannya dengan sukarela, bahkan dengan kekreatifan yang dimilikinya.

Namun, semua itu seolah tidak ada apa-apanya dibanding pihak yang mendukung pembentukan dinasti keluarga. Segala harapan perubahan dari masyarakat hancur seketika setelah hasil penghitungan pemilihan presiden diumumkan.

Tak hanya masa kampanye yang meresahkan, usai Pemilu pun nampaknya banyak kecurangan. Beratus-ratus anggota KPPS dibuat kecewa karena data yang tercantum di aplikasi penghitungan suara berbeda dengan data yang dihitung secara manual. Bahkan perbedaannya tidak berhenti di angka puluhan, tapi sampai angka ratusan. Anehnya, suara yang melambung hebat hanya ada di salah satu paslon. Seolah-olah, ada pihak yang sengaja memanipulasi agar paslon yang dimaksud bisa melenggang ke istana negara.

Yang lebih membuat kecewa, puluhan petugas KPPS juga gugur setelah menunaikan tugasnya untuk mengawal Pemilu. Gajinya yang dibilang cukup besar per harinya diimbangi dengan keharusan petugas KPPS untuk bekerja dari pagi hingga larut malam dalam beberapa hari usai Pemilu serentak dilaksanakan.

Begitulah warna-warni Pemilu di tahun pertama tinta unguku. Membuatku menyadari bahwa pemerintahan sekarang memang sekejam itu. Seolah-olah, yang bersih disingkirkan, yang kotor dipelihara.

Oh ya, aku ingat ucapan seorang atasan di kantor tempatku magang, kurang lebih seperti ini: kalian gak perlu bingung milih presiden sekarang, karena ujung-ujungnya yang jadi presiden itu adalah yang berpihak pada elite global.

12 July 2022

Uniknya Idul Adha Tahun Ini
Jamaah Salat Idul Adha di Alun-Alun Ujungberung/Sumber : Dokumen pribadi

Menjelang hari idul adha, pemerintah menetapkan bahwa idul adha jatuh pada tanggal 10 Juli 2022. Namun berbeda dengan pemerintah, organisasi Muhammadiyah justru menetapkan tanggal idul adha-nya sendiri, yakni sehari sebelumnya, tanggal 9 Juli 2022.

Sebenarnya perbedaan pendapat seperti ini bukanlah hal yang asing bagi umat Islam di Indonesia. Pada hari lebaran sebelumnya, yakni idul fitri 1443 H, juga terdapat perbedaan pendapat antara pemerintah dan jemaah An-Nadzir di Gowa yang melaksanakan salat idul fitri pada 1 Mei 2022. Sedangkan pemerintah dan Muhammadiyah sepakat melaksanakan salat idul fitri sehari setelahnya, yakni pada 2 Mei 2022.

Perbedaan pendapat antara organisasi Islam dan pemerintah dalam penetapan hari raya, tentu bukanlah hal yang aneh. Namun, apa jadinya jika sebuah masjid yang tidak mengklaim diri sebagai organisasi mana pun, tapi tidak mengikuti kesepakatan pemerintah pula?

Itulah yang terjadi pada masjid di sekitar tempat tinggalku di idul adha tahun ini. Masjid tersebut bukan milik organisasi Muhammadiyah, namun tidak juga mengikuti kesepakatan pemerintah. Karena berdasarkan diskusi yang sempat dilakukan, pihak masjid menetapkan idul adha jatuh pada tanggal 9 Juli. Berbeda dengan pemerintah yang menetapkan 10 Juli sebagai hari idul adha. Padahal biasanya, setahu aku, masjid ini selalu mengikuti jadwal hari raya sesuai yang ditetapkan pemerintah. Lo ini, kok beda dari biasanya?

Memang sih, ibuku pernah bercerita tentang asal usul berdirinya masjid yang berada tepat di belakang rumahku itu. Sedangkan ibu tahu dari salah satu ustaz yang mendampingi ibu-ibu mengaji di masjid tersebut. Katanya, salah satu pendiri masjid ini adalah beliau (yang menceritakan) dan salah satu warga lainnya. Beliau (yang menceritakan) mengaku bahwa dirinya bukan Muhammadiyah. Sedangkan salah satu warga lainnya adalah anggota organisasi Muhammadiyah, yang bahkan memiliki kartu organisasi dan serangkaian keperluan organisasi. Keduanya, alhamdulillah masih hidup hingga saat ini. Namun aku kurang tahu betul apakah penetapan tanggal idul adha yang berbeda ini dipengaruhi salah satu pendiri masjid yang merupakan anggota Muhammadiyah tersebut atau tidak. Yang jelas, aku dan keluarga dibuat bingung dengan adanya perbedaan ini.

Masalahnya adalah, letak masjid tersebut sangat dekat dengan rumah. Sedangkan aku dan keluarga lebih cenderung pada pendapat pemerintah untuk sholat id di tanggal 10.

Namun, ibuku sering salat berjamaah di sana. Dan ibu mengira warga sekitar yang telah mengenal ibu akan bertanya-tanya jika beliau tidak salat id di masjid tersebut.

Baca juga : Rahmatnya Allah

Sebenarnya, tidak hanya ibu yang mengalami dilema demikian. Tapi juga bibiku. Makanya, mereka berdiskusi bagaimana caranya agar bisa salat tanggal 10 di alun-alun ujungberung tanpa ketahuan warga sekitar yang salat di tanggal 9 di masjid. Atas usul bapakku, kami (ibu, bapak, bibi, dan aku) memutuskan untuk tetap mengikuti salat id di masjid dekat rumah. Namun, niatnya bukan salat id, melainkan salat mutlak. Sedangkan salat mutlak sendiri adalah salat sunah tanpa sebab apapun. Kemudian di hari selanjutnya, kami bisa salat id di alun-alun.

Hari itu tiba. Tanggal 9.

Sebelumnya, aku kira masjid tersebut tidak jadi melaksanakan salat id di tanggal 9. Karena di hari sebelumnya, tidak ada warga yang takbiran di sana. Konon kata ibu, ada yang takbiran sih, tapi tengah malam. Sementara paginya, takbiran baru dimulai kurang lebih setengah atau satu jam sebelum khutbah id benar-benar dimulai. Ketika waktu itulah, ibu dan bapak pergi ke masjid. Sedangkan aku, yang telah mengetahui rencana mereka, enggan ikut salat karena masih mengantuk. Lagipula, mereka tidak benar-benar salat id.

Sepulang salat id di masjid, ibu langsung bersiap ke pasar untuk berjualan. Ibu juga masih berpuasa sunnah. Jadi bisa dibilang, salat id di masjid tersebut hanya formalitas. Selain karena alasan tersebut, ibu pergi ke pasar juga karena berjualan kue. Sedang biasanya, penjualan kue akan lebih meningkat dari hari-hari biasanya ketika menjelang lebaran. Aku pun menyusul beberapa jam kemudian untuk membantu ibu berdagang. Dan alhamdulillah, ya ada saja pemasukannya.

Malam hari di hari tersebut, bibi kembali ke rumah. Membicarakan bagaimana caranya agar esok hari bisa pergi ke alun-alun untuk salat id di pagi hari tanpa ketahuan warga sekitar. Lalu ibu dan bibi berencana untuk membawa mukena dan sajadah dengan dibungkus kantong plastik agar dikira akan pergi ke pasar, bukan ke alun-alun.

Esok hari lagi tiba. Aku, ibu, dan bapak, bersiap-siap salat id. Aku membawa alat salat dan koran dalam tas gendong, sedangkan ibu dan bapak membawa alat salat berbungkus kantong plastik.  Agar tak dikira pergi salat id (meski sebenarnya pergi salat id) oleh tetangga, kami berangkat secara terpisah. Ibu pergi mendahului aku dan bapak. Kemudian bapak menyusul beberapa menit kemudian, dan aku berangkat paling terakhir. Dan saat aku pergi, memang sekitar rumah masih sepi. Belum ada tetangga yang berkeliaran di sekitar.

Sepanjang perjalanan, aku berbicara sendiri mengenai idul adha ini. Menurutku, idul adha ini adalah idul adha teraneh dan membingungkan yang pernah kualami. Bagaimana tidak? Kami -terkecuali aku- jadi berpura-pura salat id di masjid dekat rumah dengan niat salat mutlak di hari kemarinnya. Dan sehari setelahnya, kami -beserta aku- pergi diam-diam tanpa diketahui warga seperti seseorang yang hendak kabur. Haha. Ini sungguh konyol.

Sampai di alun-alun, aku mencari tempat yang kosong dan segera menggelar koran beserta sajadah. Tadinya ingin mencari ibu, tapi kuota internetku habis sedangkan aku belum mengisinya lagi tadi pagi. Alhasil, aku menghubungi ibu lewat SMS. Namun sayangnya tak ada balasan. Mungkin, ibu tidak membuka kotak masuk SMS.

Singkat cerita, salat id dan khutbah sudah selesai. Aku membereskan alat salat, sedangkan koran kubiarkan pada tempatnya. Ingin menunggu ibu sebenarnya. Tapi ibu ada di sebelah mana saja aku tidak tahu. Maka aku berniat pulang lebih dulu. Namun, di pinggir alun-alun ada pedagang cilor. Jadi aku membelinya sebanyak 5 tusuk dengan harga lima ribu rupiah. Ya, untungnya ibu memberi uang tadi pagi. Meski saat itu beliau mengatakan bahwa uang itu untuk infak. Tapi ya, tidak ada kotak infak sejak aku datang hingga selesainya khutbah. Maka aku memutuskan menggunakan uang itu untuk membeli cilor. Lagi-lagi, aku tertawa geli. Uang yang harusnya dipakai infak malah dipakai jajan. Hehe.

Jajan sudah, tapi tak juga kutemukan ibu. Jadi ya, akhirnya aku pulang sendirian ke rumah. Namun saat hampir sampai rumah, aku bertemu salah satu tetangga. Dan aku hanya bisa tersenyum guna menyapanya. Ya, entahlah apakah beliau tahu bahwa aku baru saja salat id di alun-alun atau tidak.

Sesampainya di rumah, ternyata ibu belum datang juga. Baru ada bapak yang pulang dari salat id. Sedangkan teteh tidak salat id karena memang sedang halangan.

Beberapa saat kemudian, ibu datang dengan membawa kantong plastik berisi mukena. Tapi tak hanya itu. Ternyata ibu juga membeli gorengan. Haha. Sama halnya denganku, ibu juga berniat menggunakan uang untuk infak. Tapi karena tidak ada kotak infak, maka uang itu digunakan untuk beli gorengan. Ya, sebuah hal yang kebetulan.

Ibu juga bercerita bahwa ketika pulang, beliau bertemu tetangga. Dan kami sama-sama tertawa geli mengalami hal yang tak pernah diduga ini.

10 June 2022

Tahu Pocong

 Sore hari, aku pulang dari indekos Haikal yang berlokasi di dekat MAN 2 Bandung. Aku berjalan kaki dari tempatnya ke jalan raya. Kemudian berbelok ke arah SDN Cipadung untuk membeli tahu pocong yang gerobaknya berada di depan SD. Tanpa basa-basi, aku pun langsung memesan tahu pocong begitu sampai di sana.

“Mang, yang pedes 2, yang gak pedes 2.”

Pedagang lelaki itu langsung melayani dengan mengambil wadah berupa kertas yang dilipat sedemikian rupa, kemudian mengambil tahu yang dimaksud. Sedangkan aku mengambil selembaran uang lima puluh ribu rupiah dari dalam tas.

“Teh, yang gak pedes disobek kertasnya, ya,” pesan pedagang tersebut. Karena rasa tahu pocong yang berbeda, maka pedagang tersebut memisahkan tahu pocong pedas dan tidak pedas di dua wadah yang berbeda.

“Iya, Mang.”

Baca juga: Pemilu 2024: Tinta Ungu Pertama di Hidupku

Lalu, pedagang itu memberikan pesanan yang kupinta sedang aku membayarnya dengan uang yang sudah berada di tangan.

“Kembalian delapan belas ribu, Teh.”

“Nuhun, Mang.”

Uang kembalian yang diberi pedagang tersebut kumasukkan ke saku celana. Tak lupa, aku juga menyiapkan ongkos angkot dan langsung pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, aku menaruh tahu pocong di atas meja makan. Kemudian mengabarkan pada kakak perempuanku, karena dialah yang memesan tahu pocong. Namun karena terlalu tanggung jika hanya beli satu tahu pocong untuknya, maka aku membeli empat tahu pocong sekaligus, masing-masing untukku, kakak, ibu, dan bapak.

“Teh, itu tahu pocongnya di atas meja makan.”

“Iya. Makasih, Dek.”

Tak lama setelah itu, Teteh berniat mengambil tahu pocong untuk dimakan. Namun dia bertanya, “Dek, ini yang mana yang pedes yang mana yang enggak?”

“Yang pedes kertasnya disobek, Teh,” jawabku.

Namun ketika Teteh makan, dia bertanya lagi padaku, “Dek, kamu bener yang pedes yang disobek kertasnya?”

“Iya.”

“Kenapa gak pedes? Gak ada rasa pedesnya sama sekali ini mah.”

“Ketuker mungkin, Bib.” Ibuku ikut menyahut.

“Oh iya gitu? Perasaan kata mang-nya yang pedes yang disobek.”

Merasa tak sesuai keinginan, Teteh kembali ke meja makan untuk mengambil tahu pocong pedas di wadah yang berbeda. Dan ternyata benar, tahu pocong yang dia ambil sebelumnya adalah tahu pocong yang tidak pedas.

“Bib, tahu pocong Teteh tadi tuh bener ketuker.” Ibu memberitahu.

“Berarti tadi aku salah denger mang tahu pocongnya ya.”

14 November 2021

Bedanya Emoji dan Emotikon
Emoji/Canva

😀😅😄🤩🙂🥳

Untuk kamu yang membaca tulisan ini, aku mau nanya deh. Yang aku tunjukkan di baris pertama itu, namanya apa sih? Apa istilah yang sering kamu gunakan untuk menyebutnya? Emot? Emotikon? Atau emoji? Hm... Yang benarnya yang mana ya?

Rupanya, ekspresi bergambar itu disebut dengan emoji. Bukan emotikon. Dari jawaban yang aku dapat dalam kolom komentar unggahan akun Instagram @narabahasa di tanggal 5 Oktober 2021, emoji adalah sejenis emotikon dari Jepang. Sedangkan emotikon adalah ilustrasi yang menggambarkan suasana hati.

Tapi, sebenarnya aku sendiri masih bingung. 'Apa itu emotikon dari Jepang? Bagaimana rupanya?' Lalu beberapa minggu kemudian, akun Instagram @gsmsindonesia membalas komentarku. Katanya seperti ini, '@habibah2808 Ini emotikon  :) dan ini emoji itu 😊'

Tapi, aku sendiri masih bingung tuh. Loh loh, apa toh maksudnya? Lalu karena ingin tahu, browsing-lah aku di mesin pencarian Google pada aplikasi Chrome. Dan hasilnya....

Baca juga: Cerita-Cerita Islam di Buku 'Tuhan Ada di Hatimu'

Ternyata sudah ada unggahan dari situs web lain yang menjelaskan tentang emoji dan emotikon! Haha. Ini menunjukkan betapa malasnya aku untuk browsing sebelumnya. Pada diri sendiri aku bertanya, 'Kenapa sebelumnya aku gak browsing dulu ya? Ternyata udah ada jawabannya.' Haha.

Dari salah satu situs web yang dibuka, aku menangkap bahwa emoji itu ya yang bergambar. Misalnya 😂, 😏, 🤭, 😙, dan 🥰. Sedangkan emotikon itu yang mengandung tanda baca juga huruf, sederhana, dan menyamping. Misalnya :-), :^), B-), :-D, dan ;). Tapi, ternyata masih ada satu lagi loh. Namanya Kaomoji. Masih pakai tanda baca juga huruf, tapi lebih ruwet dan menghadap ke bawah. Apa sih bahasanya? 🤣 Pokoknya, contohnya tuh gini, (ʘᴗʘ✿), (◠‿・)—☆, ʘ‿ʘ, (っ˘з(˘⌣˘ ), dan ⊂(◉‿◉)つ. Haha.

Kalau kamu mau pakai emoji, emotikon, atau kaomoji, biasanya sudah ada di keyboard ponsel loh. Jadi kamu tinggal pilih aja emoji, emotikon, atau kaomoji mana yang mau kamu pakai.

Gimana? Udah ketemu belum emoji, emotikon, dan kaomoji-nya?

15 August 2021

Pertama Kali

Sabtu, 31 Juli 2021, Sekitar jam tujuh.

Di salah satu kursi ruang tamu, aku duduk sembari memegang ponsel. Mencoba melihat ada informasi apa saja di WhatsApp setelah tak ditengok selama beberapa jam.

"Ass,,,undangan pelaksanaan swab pcr untuk
1. ....
2. ....
3. ....
Hari : sabtu
Tanggal : 31 Juli 2021
Nama pemantau : Lina
Sesi : 1(09.00-10.00)
Nomor urut swab :10-12
Tempat : Halaman belakang Puskesmas
Ditunggu kehadirannya dan diharapkan tepat waktu karena APD yang digunakan petugas APD yang dipersiapkan hanya untuk swab dan sekali buang jadi jikalau tidak datang sangat disayangkan. Untuk pelaksanaan swab gratis tidak dipungut biaya

Wa ini harap diperlihatkan kepada petugas yang akan melakukan swab besok

Hatur nuhun
Puskesmas ...."

Itu sebuah pesan dari Mama-ayahku- di grup keluarga. Dari keterangan Diteruskan pada barisan pertamanya, aku mengerti bahwa itu bukanlah pesan buatan Mama sendiri. Melainkan pesan dari pihak puskesmas yang dikirim ke nomor WhatsApp Mama, lalu langsung dikirim ke grup keluarga tanpa perlu menyalin pesan.

"Mi... katanya kita disuruh swab," panggilku pada Mimi-ibuku- yang sedang bolak-balik dapur-ruang tengah.

"Kata siapa?"

"Ini Mama ngirim WA di grup."

Mimi mengecek ponselnya yang sedang dicas di ruang tengah. Lalu berujar, "Oh iya, Bib."

Setelah mengetahui informasi itu, Mimi pun memberitahu Teteh (kakak perempuanku) yang berada di kamarnya bahwa kami perlu di-swab PCR di puskesmas yang dimaksud. Hal ini dikarenakan pihak puskesmas ingin mengecek keadaaan kami-apakah positif atau tidak- setelah Mama dinyatakan positif covid 19 tiga hari sebelumnya. Dan sampai saat aku menulis cerita ini, Mama masih melakukan isolasi mandiri di rumah. Karena tidak megalami gejala apa pun, alias OTG atau orang tanpa gejala. Bahkan beberapa hari sebelum dinyatakan positif pun, Mama masih beraktivitas seperti biasa. Makannya lahap, jalannya cepat, dan sering bolak-balik pasar-rumah agar tubuhnya tetap fit. Karena kebetulan, Mimi berjualan di pasar. Dan agar tidak berdiam diri saja di rumah sekaligus menggerakkan badan, Mama lebih memilih bolak-balik pasar-rumah saja.

Tapi, inilah yang terjadi. Mama dinyatakan positif pada tanggal 28 Juli setelah di-swab pada tanggal 26 Juli di rumah sakit Hermina. Dan itu pun, aku yang pertama kalinya tahu. Karena pemberitahuan itu diberikan dalam bentuk file PDF dan Mama tidak memiliki aplikasi pembuka file PDF di ponselnya. Jadi, Mama mengirimkannya padaku melalui WhatsApp. Lalu aku mengirimnya ke grup keluarga dengan bentuk file foto. Dan di hari yang sama juga, Mama mulai melakukan isolasi mandiri.

Sekitar jam setengah sembilan.

Kami bertiga pergi ke puskesmas tanpa menaiki kendaraan. Lagi pula, jaraknya tidak terlalu jauh. Jadi hitung-hitung, jalan-jalanlah. Meskipun tujuannya adalah puskesmas dan harus di-swab.

Sesampai kami di puskesmas, Teteh menulis absen di kertas yang disediakan. Sementara aku dan Mimi langsung menuju halaman belakang puskesmas karena datanya dituliskan Teteh sekaligus. Dan rupanya, kami adalah tiga orang pertama yang datang. Padahal di kertas absen tadi, sudah ada dua nama yang tertulis. Tapi sudahlah. Lagi pula pelaksanaan swab dijadwalkan akan dimulai jam sembilan. Sementara kami datang sekitar jam setengah sembilan lebih beberapa menit.

=

Cukup lama menunggu, akhirnya beberapa dokter keluar dari ruangannya untuk men-swab orang-orang yang telah menulis data di kertas absen. Tentu, tidak hanya kami bertiga. Sudah ada beberapa orang lain yang datang sebelumnya. Tapi sebelum di-swab, kami diberikan pengarahan terlebih dulu oleh salah seorang dokter perempuan yang kelihatannya, berusia 40-50 tahun menurut perkiraanku ketika mendengar suaranya. Di mana inti dari pengarahan itu adalah :

1. Ada yang swab PCR dan ada yang swab antigen.

2. Swab PCR, diambil sampelnya dari hidung dan tenggorokan. Sedangkan swab antigen, diambil sampelnya dari hidung saja.

3. Hasil dari swab antigen bisa diambil atau diberitahukan di sore hari. Sedangkan hasil dari swab PCR bisa diambil atau diberitahukan tiga hari setelahnya,

4. Kasus corona melandai setelah diberlakukan PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) selama beberapa pekan terakhir. (Dan sekarang juga masih PPKM).

Setelah diberikan pengarahan, pelaksanaan swab pun dimulai dari absen pertama. Jujur, ada rasa gimana gitu. Soalnya ini adalah pertama kalinya aku di-swab. Karena, aku memang jarang bepergian sejak pandemi corona melanda Indonesia. Ya, cuma dua kalilah selama setahun lebih ini. Itu pun tidak sampai 24 jam dan masih di Bandung. Gak keluar kota. Dan gak ada hal lain yang mengharuskan aku untuk di-rapid test antigen, antibodi, apalagi di-swab PCR.

"Habibah."

Aku beranjak dari kursi ruang tunggu di halaman belakang puskesmas. Kemudian berjalan menuju salah satu kursi plastik yang tersedia untuk di-swab. Tempatnya masih di luar ruangan juga. Dan ada dua dokter yang bertugas untuk men-swab pasien. Jadi satu dokter, men-swab satu pasien dalam waktu bersamaan.

"Antigen, ya," ucap dokter yang sebelumnya memberikan pengarahan, sekaligus akan men-swabku. Tapi aku tidak mengangguk, dan tidak juga menggeleng. Karena sebelumnya, Teteh pun di-swab antigen meski sudah menunjukkan pesan dari puskesmas di ponselnya bahwa kami diundang untuk melakukan swab PCR. Jadi ya, pasti sama juga.

"Buka maskernya."

Aku menurunkan masker hingga ke leher. Kemudian mendongakkan kepala tanda bersedia untuk di-swab antigen.

"Hidungnya lagi gak mampet?"

"Enggak, Dok."

Pelan-pelan, alat antigen itu masuk ke lubang hidung kanan. Bentuknya panjang. Dan di salah satu ujungnya, yang untuk mengambil sampel ke hidung, terdapat bahan lembuat memanjang sekitar 3 cm yang sepertinya, berupa kapas.

"Udah."

Dokter itu kembali menarik alat antigen tersebut dari hidungku. Kemudian memasukkan sampelnya ke alat yang lain lagi. Sedangkan aku langsung bernapas lega. Ternyata begini rasanya di-swab antigen. Tidak sakit sih, tapi geli di lubang hidung.

=

Minggu, 1 Agustus 2021.

Pagi hari, aku menerima tiga buah kiriman file PDF dari nomor WhatsApp Mama. Masing-masing file PDF tersebut bernama namaku, nama Teteh, dan nama Mimi. Ternyata isi dari file itu adalah pemberitahuan dari puskesmas mengenai hasil swab antigen kami di hari kemarin. Dan hasilnya, alhamduillah. Kami bertiga dinyatakan negatif covid 19.

=

Kamis, 3 Agustus 2021.

"Ass,,,,undangan pelaksanaan swab pcr untuk
1. .....
2. ....
3. ....
Hari : kamis
Tanggal : 5 Agustus 2021
Nama pemantau : Lina
Sesi : 1(09.00-10.00)
Nomor urut swab :1-3
Tempat : Halaman belakang Puskesmas
Ditunggu kehadirannya dan diharapkan tepat waktu karena APD yang digunakan petugas APD yang dipersiapkan hanya untuk swab dan sekali buang jadi jikalau tidak datang sangat disayangkan. Untuk pelaksanaan swab gratis tidak dipungut biaya

Wa ini harap diperlihatkan kepada petugas yang akan melakukan swab besok

Hatur nuhun
Puskesmas ...."

Pesan yang hampir serupa seperti pesan di tanggal 31 Juli 2021, terkirim di grup keluarga dari nomor WhatsApp Mama. Rupanya, kami harus ke puskesmas lagi. Tapi sebenarnya, Mimi pun sudah diberitahu mengenai hal ini. Karena ketika di-swab antigen beberapa hari lalu, seorang dokter yang men-swab Mimi berpesan bahwa jika hasil swab antigen kami negatif, harus ke puskesmas lagi untuk swab PCR lima hari yang akan datang. Dan tibalah hari itu. Hari ini.

Kurang lebih, jam sembilan kurang lima belas menit.

Sebelumnya, aku dan Mimi sudah bersepakat bahwa kami akan bertemu di puskesmas. Karena hari itu, Mimi sudah buka kios di pasar. Sedangkan Teteh kerja dari rumah dan tidak bisa ditinggal dalam waktu yang lama. Jadi, aku pergi sendiri ke puskesmas dari rumah, dan Mimi pergi ke puskesmas dari pasar.

Tapi, ternyata kami sudah lebih dulu bertemu di pertengahan jalan. Sayangnya, Mimi naik ojek. Sedangkan aku jalan kaki. Jadi tetap saja. Mimi yang lebih dulu tiba di puskesmas.

Sampai di puskesmas, aku menulis absen tiga orang sekaligus. Aku, Mimi, dan Teteh. Di kertas absen itu, ada kolom nama, NIK, tanggal lahir, jenis kelamin, nomor telepon dan tanda tangan. Dan untungnya, ada foto KK di ponsel. Jadi aku bisa menulis NIK Teteh dan aku dari foto KK tersebut.

Setelah mengisi absen, aku dan Mimi dipersilakan duduk menunggu di kursi halaman depan puskesmas oleh petugas. Sembari sesekali bermain ponsel atau menghubungi Teteh yang masih di rumah.

“Ibu, tiga orang?” tanya seorang petugas puskesmas yang sedang memegangi absen pada Mimi, tak lama kemudian.

“Iya. Ini sama anak. Terus satu laginya masih di rumah.”

“Silakan ke halaman belakang dulu, Ibu.”

“Iya, Pak.”

Kami berjalan menuju halaman belakang. Mimi langsung duduk di kursi yang sudah tersedia, sedangkan aku mencuci tangan terlebih dulu, baru kemudian duduk tak jauh dari Mimi.

Selang beberapa menit, beberapa petugas pun keluar dari ruangannya. Lalu segera melaksanakan swab setelah memberikan pengarahan yang hampir serupa seperti pertama kali kami swab sebelumnya. Sedangkan Teteh, datang tepat ketika absen pertama dipanggil setelah Mimi mengabari bahwa swab akan segera dimulai.

“Habibah,” panggil salah seorang dokter. Tanpa ba-bi-bu, aku pun beranjak dari kursi menuju salah satu kursi plastik yang tersedia untuk swab. “PCR, ya.”

“Iya.”

Dokter yang akan men-swabku menerima dua alat untuk swab PCR dari rekannya. Kemudian membuka salah satunya dan mulai beraksi. Awalnya, aku membuka masker dan langsung mendongakkan kepala. Tapi ternyata salah.

“Buka mulutnya.”

“Oh.” Aku sedikit tertawa, lalu membuka mulut.

“Lidahnya keluarin.”

Aku menjulurkan lidah. Lalu dokter itu hendak memasukkan alat swab yang dipegangnya. Tapi tidak jadi.

“Lidahnya dikeluarin. Kayak melet gitu.”

Kedengarannya, dokter perempuan yang men-swabku itu masih muda. Sekitar umur 25-35-an. Tapi jelas aku tidak berbicara itu.

“Melet coba melet.”

Aku menarik napas dulu. Kemudian mencoba mendongakkan kepala, membuka mulut sambil menjulurkan lidah.

“Keluarin lidahnya. Tadi lidahnya malah ke dalem lagi.”

Aku terus mencoba menjulurkan lidah. Sampai-sampai Teteh saja memperhatikan aku yang tidak kunjung jadi diambil sampelnya dari tenggorokan.

“Keluarin lidahnya, Dek.”

Berkali-kali dicoba, akhirnya pengambilan sampel dari tenggorokan pun berhasil. Entah gimana caranya. Haha. Lalu, dokter itu mengambil sampel dari lubang hidung kananku. Yang ini, gak terlalu susah sih. Cuma geli aja. Hehe.

Setelah aku, Teteh, dan Mimi selesai di-swab, kami pun segera pulang. Tapi, Teteh pulang menaiki sepeda motornya yang sudah dikendarai ketika pergi ke puskesmas sebelumnya. Sedangkan aku dan Mimi berjalan kaki. Itu pun, akhirnya kami berpencar sih. Aku pulang ke rumah, sedangkan Mimi pergi ke pasar lagi untuk menjaga kios yang sebelumnya ditinggal. Walau sebenarnya, aku ditawari Teteh untuk menaiki sepeda motor bersamanya. Tapi entahlah. Kedua kaki ini sedang ingin berjalan. Lagi pula, pegal juga kalau kaki tidak diajak jalan selama berhari-hari.

=

Minggu, 8 Agustus 2021.

“Mi, masa gera aku kata tetangga positif?” tanya Teteh sambil berjalan menghampiri Mimi yang sedang memasak di dapur.

“Hah?”

=

Jadi akhirnya, Teteh positif dan harus isolasi mandiri meski tidak ada gejala apa pun.


25 July 2021

Gak Masuk

Tanggal 15. Pukul 11.15.

Ril, beli pulsa yang 25 ke nomor 083xxxxxxxxx

April membuka pesan WhatsApp yang masuk di ponselnya. Ternyata pesan itu dari Uli, sepupunya yang berumur tiga tahun lebih tua. Jadi, dia biasa memanggil Uli dengan panggilan 'Teh Uli'.

Iya, Teh

Segera, April pun mengisi pulsa sesuai permintaan Uli dari server pulsa yang digunakannya. Dan tanpa perlu menunggu waktu lama, pengiriman pulsa dinyatakan SUKSES.

Udah, Teh Uli

Beberapa saat kemudian...

Ril, pulsanya kok belum masuk sih?

Pulsanya belum masuk? April membuka kembali laporan pengisian pulsa sebelumnya. Tapi di situ benar-benar terdapat tulisan SUKSES. Serial number-nya pun wajar dan tidak ada tanda-tanda bahwa pulsa gagal diproses.

Data internetnya nyala gak, Teh?

Aku pake wifi kok, Ril. Jadi data internetnya juga mati

Terus gak ada SMS tentang pulsa masuk lagi

Coba cek pulsanya dulu, Teh, punten

Nomor Axis kan, ya? *123# ceknya

Iya

Enggak ada penambahan pulsa, Ril. Berkurang juga enggak

Karena merasa ada yang aneh, April pun mencoba untuk menghubungi customer service dari server pulsa.

Kata pelanggan, pulsanya belum masuk Ax25.083xxxxxxxxx SUKSES SN : xxxxxxxxxxxxxxxx

Tak lama, CS pun menjawab.

Untuk transaksi tersebut sudah sukses kak. Silakan lakukan pengecekan ulang pulsa di nomor tujuan untuk memastikan

Sudah. Tapi katanya belum masuk juga

Tapi wifi-nya nyala sih. Apa bisa ngaruh ya?

Mohon maaf bisa difotokan bukti pengecekan pulsanya kak?

Bentar

April beralih ke chat dengan kontak Uli.

Teh Uli...

Punten ya. Coba cek lagi pulsanya terus di-screenshoot. Nanti dikirim ke aku

Sambil menunggu balasan dari Uli, sesekali April mencermati nomor yang dikirim Uli dengan nomor yang ditujunya ketika mengirim pulsa. Tapi, tidak ada perbedaan. Keduanya benar-benar sama persis. Lalu kenapa pulsanya belum juga masuk?

Uli mengirim Foto Segini aja, Ril dari tadi

Terdapat notifikasi pesan WhatsApp di layar ponsel April. Pesan itu pun dibuka hingga menampakkan sebuah foto yang merupakan hasil screenshoot dari pengecekan pulsa. Dari situ, April menangkap bahwa pulsa yang dimiliki Uli adalah Rp594 dengan masa aktif sampai 25 November 2021.

Seperti ini Kak hasil cek pulsanya.

April mengirim foto yang sebelumnya ia terima dari Uli ke CS server pulsa.

Baik untuk transaksi AX25.083xxxxxxxxx TGL 15 akan kami bantu cek ulang ke pihak provider-nya, mohon ditunggu info update datanya kak

Setelah mendapat balasan demikian, April baru membalas pesan dari Uli.

Tunggu ya, Teh. Lagi dikomplain dulu.

Keesokan harinya...

Pagi hari, tepatnya jam tujuh lebih beberapa menit, April menyalakan data internet di ponsel setelah mengecasnya. Sambil terus dicas, ponsel itu ia pegang sembari memperhatikan pesan apa saja yang masuk di aplikasi WhatsApp.

Ril, pulsanya belum masuk juga.

Itu pesan dari Uli. Okelah, April harus komplain lagi ke CS server pulsa.

Kak, pulsa yang ini belum masuk.

Ia memulai komplain dengan membalas pesan di hari kemarin.

Update data Provider 15/07/21 11:19:52 AX25 083xxxxxxxxx SUKSES SN : xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx Silakan cek pulsa di hp pelanggan untuk memastikan

Tapi di pelanggannya belum masuk juga

Untuk bukti pengecekkannya silakan difotokan kak

Akhirnya, April mencoba untuk menghubungi Uli kembali.

Teh, punten coba cek lagi pulsanya terus di-screenshoot, dikirim ke aku

Beberapa saat ditunggu, tapi ternyata Uli tidak juga membalas pesannya. Dalam informasi di percakapan WhatsApp-nya pun, Uli tidak terlihat online. Jadi April menunggu balasan pesannya sambil melakukan aktivitas lain.

Pukul 10.40.

Ril, pulsanya masih segini tuh.

Uli mengirim foto.

Begitu melihat pesan dan kiriman foto dari Uli, April pun langsung mengirimnya kembali ke CS server pulsa. Setelah itu, barulah ia membalas pesan Uli.

Iya, Teh Uli

Tapi coba deh dicek lagi nomornya, Teh. Barangkali ada yang nomor yang kelewat atau double gitu.

Eh, iya Ril. Ternyata Teh Uli salah nomor. Yang harusnya diisi teh nomornya Uli. Tapi pas kemarin malah kirim nomornya mamah.

Oh iya, Teh?

April bernapas lega, alhamdulillah kalau gitu.

Iya, Ril. Aduh maafin Uli, ya...

Iya, Teh. Gak papa.

Jadi ngerepotin April ih.

Haha. Santai aja, Teh Uli

Chat dengan Uli sudah selesai. Tapi, ia juga lebih baik bilang ke CS kalau masalahnya sudah teratasi. Eh, tunggu dulu. Ada pesan yang belum dibacanya dari CS itu.

Baik kami bantu cek ulang ke pihak provider mohon kesediaannya untuk menunggu update datanya ya kak

Karena masalahnya teratasi dengan agak lucu, April mencoba untuk membalas pesan tersebut dengan nada santai.

Hehe, gak usah, Kak. Mohon maaf sebelumnya. Tadi saya minta cek nomornya sama pelanggan. Ternyata kemarin itu salah kasih nomor. Harusnya yang diisi itu nomor lain. Hehe, maaf, Kakak.

Baik kak Mohon ditunggu update datanya terlebih dulu ya kak

Ah, sudah diajak bercanda pun, ternyata CS balasnya serius mulu, April bicara pada dirinya sendiri.

Beberapa jam kemudian...

April, Teh Uli mau isi pulsa lagi aja

Nomornya 087xxxxxxxxx yang 25

Ya

Udah, Teh Uli

Makasih ya

Sama-sama

Di sore harinya ketika Uli mengunjungi rumah April, ia pun membayar kedua pulsa tersebut. Dengan nominal pulsa sebesar dua puluh lima ribu rupiah, uang yang harus dibayarkannya menjadi sebesar lima puluh enam ribu rupiah.

=

Server pulsa yang dipakai April adalah server Leon Pulsa. Hehe. Sebenarnya cerita di atas itu cerita asli sih. Dan April itu adalah aku, wkwk. Lalu Uli itu siapa? Ya benar sepupu aku juga. Cuma disamarin namanya 😂

Tapi beneran deh. Isi pulsanya tuh cepet banget. Gak pernah gagal lagi. Tapi ya, kalau sekali-dua kali agak lama mah, wajar sih. Namanya juga ciptaan manusia, gak ada yang sempurna toh? Tapi ya, selama aku pakai mah, udah hampir dua tahun nih, gak pernah gagal transaksinya. Jadi ya, oke-oke aja. Asalkan nomornya benar dan data internetnya nyala saat mengisi pulsa. Karena isi pulsanya itu pakai aplikasi android Leon Pulsa atau WhatsApp, gitu.

Kamu mau pakai Leon Pulsa juga? Boleh banget. Lagian juga prosesnya gampang dan gak pakai bayar-bayaran, kok. Jadi kalau setorin uang tuh, alias deposit, ya buat transaksi yang kamu lakukan juga. Misalnya isi pulsa atau isi kuota. Jadi, server pulsa gak narik uang sepeser pun tuh dari saldo akun kamu. Enak, kan? Kalau mau pake Leon Pulsa, langsung aja nih unduh aplikasinya di sini.


04 July 2021

Membuat Surat Keterangan Penghasilan Orang Tua

Sudah tanggal 25 Juni 2021. Seharusnya, pada hari ini aku memverifikasi biodata secara daring untuk daftar ulang UIN Bandung, universitas yang menerimaku untuk menjadi salah satu mahasiswinya melalui seleksi UM-PTKIN. Tapi, sial. Setelah dicoba untuk verifikasi, ternyata masih ada satu berkas yang belum terpenuhi.

Slip Penghasilan Orang Tua.

Haduh! Orang tuaku kan gak punya slip penghasilan. Mereka itu pedagang. Penghasilannya tidak menentu. Tapi, baru kuperhatikan tulisan pada halaman 'Upload File'.

Ke kelurahan? Hei, sekarang sudah jam setengah empat sore. Mana mungkin masih sempat untuk ke kelurahan? Ditambah lagi, pasti harus minta surat pengantar dari RT dan tanda tangan RW terlebih dulu.

Aargh...

Akhirnya, untuk mengetahui apa kantor kelurahan masih buka atau tidak, aku mencari tahu di mesin pencarian Google dengan kata kunci 'kantor kelurahan cigending tutup jam berapa'. Ternyata, pukul 16.30. Tersisa lebih dari tiga puluh menit lagi dari sekarang.

Tapi, aku masih terus menimang-nimang. Apa harus ke kelurahan sekarang? Atau gak perlu ke kelurahan? Apa, slip penghasilannya aku ganti dengan gambar editan saja? Latar belakang putih, terus pakai tulisan 'Orang tua saya adalah pedagang. Tidak memiliki slip penghasilan.' Ah, tidak-tidak. Itu hal yang konyol sekali. Yang ada, berkas daftar ulang lainnya malah gak diterima lagi. Tapi, kalau verifikasi besok-besok, apa daftar ulangnya masih bisa diterima?

Aku bertanya-tanya dan terus meyakinkan diri sendiri. Bismillah. Pokoknya harus sekarang. Semoga aja, pas nyampe sana, kantor kelurahannya masih buka.

Dengan segera, aku pun mengambil KTP asli, satu lembar fotokopi KK, dan beberapa lembar uang. Tak lupa, kerudung, jaket, dan masker untuk dikenakan. Lalu keluar rumah setelah meminta izin pada Mimi.

=

Setelah memfotokopi KK dan KTP, meminta surat pengantar dari Pak RT, dan tandatangan dari Pak RW, aku berjalan menuju jalan besar untuk mencegat ojek yang akan ditumpangi ke kantor kelurahan. Tapi setelah di depan kantor kelurahan, masih di atas jok ojek, kulihat ternyata kantor kelurahan telah tutup. Namun, aku tetap turun. Kemudian membayar jasa ojek dengan satu lembar uang lima ribuan.

"Ada perlu apa, Bu?" tanya seorang petugas kelurahan yang menghampiriku.

"Ini, Pak. Mau bikin surat keterangan penghasilan orang tua."

"Oh... Kelurahannya udah tutup, Bu. Buka laginya hari Senin, jam delapan."

Cukup lama, aku mengobrol dengan petugas kelurahan tersebut. Dari beliau, aku baru mengetahui bahwa ternyata kantor kelurahan tutup jam dua belas siang selama masa PPKM. Ya, baiklah. Sebenarnya kantor kelurahan masih buka itu hanya harapanku saja. Lagi pula, aku juga sadar bahwa sekarang sudah jam lima sore kurang beberapa menit. Sangat kecil sekali kemungkinannya kalau kantor kelurahan masih buka.

=

Harapan untuk melakukan verifikasi data daftar ulang di tanggal 25 Juni 2021, pupus sudah. Tapi, aku masih menaruh harapan. Semoga saja, verifikasi data di hari-hari berikutnya masih bisa diterima. Dan untuk meyakinkan, aku menjadi sering mengecek beberapa media sosial seputar UIN Bandung. Berharap semoga ada pengumuman bahwa waktu daftar ulang bagi mahasiswa baru dengan jalur seleksi UM-PTKIN, diperpanjang. Tapi sayangnya. tidak ada.

Namun, di salah satu post media sosial tentang daftar ulang UM-PTKIN dan SBMPTN UIN Bandung 2021, terdapat keterangan bahwa peserta yang terlambat melakukan daftar ulang, akan dikenakan sanksi dengan UKT tertinggi.

Enggak. Semoga enggak.

Untuk menenangkan diri lagi, aku bertanya ke beberapa teman yang masih berkuliah di UIN Bandung. Pertanyaannya seperti ini : 'Pas daftar ulang, sempet ada perpanjangan waktu gak?'. Dan jawabannya, satu berbanding satu berbanding satu. Satu menjawab iya, satu menajawab kayaknya iya, dan satu lagi menjawab tidak ada.

=

Hari Senin, 28 Juni 2021, aku pergi ke kantor kelurahan sekitar jam setengah sembilan pagi. Tapi sampai sana, aku disuruh membuat surat keterangan penghasilan orang tua dengan tulisan tangan dan bermaterai yang ditandatangani orang tua di kertas HVS. Terpaksa, aku pulang lagi. Beli kertas HVS dan materai, kemudian menulis surat keterangan penghasilan orang tua. Contohnya kayak gini nih.


20 June 2021

Pasrah

Hujan tengah menyirami kawasan pasar Ujung Berung dan sekitarnya. Disertai angin yang besar, dan hawa dingin yang menyerang.

Beberapa orang berteduh di depan toko seragam Resko yang telah tutup. Menghindari banjir dan tentunya angin yang semakin membesar. Dari situ, jalan raya terlihat begitu jelas. Ada air banjir yang menggenang, bahkan terkadang menciprati sekitarnya ketika ada kendaraan yang melintas. Ada juga angin besar yang beterbangan yang ke sana kemari. Membuat pemandangan menjadi cukup gelap meski masih siang hari. Ditambah lagi, semua lapak di sekitar juga sudah tutup. Tidak ada lagi cahaya lampu yang terang benderang.

Di antara orang-orang yang berteduh di depan toko seragam Resko, ada aku, Nisa dan Mimi. Kami berdiri. Karena tidak ada tempat kering yang bisa diduduki sekitar kami. Sesekali, aku menengok kanan-kiri. Mencari-cari tempat kering untuk duduk. Kemudian setelah melihat seorang ibu-ibu duduk di kayu dari sebuah lapak yang tutup, aku pun memutuskan untuk menghampiri tempat kayu itu berada. Tidak jauh-jauh dari tempat semula. Cukup belok kanan sedikit. Lalu belok kanan lagi sedikit. Tepatnya, ada di samping seberang toko seragam Resko.

"Bib, mau ke mana?" tanya Mimi.

Aku tak menjawab. Fokus berjalan melewati air banjir yang sampai ke atas mata kaki. Lagi pula, sepertinya Mimi memperhatikanku. Mungkin, kedua matanya menyelidiki ke mana aku melangkah. Sampai akhirnya tidak memperhatikan lagi setelah aku sampai tujuan dengan baik-baik saja.

Benar saja. Ternyata, kayu itu benar-benar kering. Jadi tanpa ragu, aku pun mendudukinya. Tapi, aku tidak benar-benar persis duduk berdampingan dengan seorang ibu-ibu yang sedari tadi kulihat. Karena kayu ini ada dua tingkat. Aku duduk di tingkat pertama, sedangkan ibu itu duduk di tingkat kedua.

Cukup lama menunggu, hujan belum kunjung reda. Air banjir yang mengaliri tanah dan lantai di dalam pasar pun, masih mengalir lancar sampai terasa dingin di kedua kaki. Jadi, kuangkat kedua kaki beserta sandalnya ke atas kayu. Hingga lutut terlipat hampir mendekati dada namun terhalang tas selempang merah yang kubawa.

Main HP aja kali, ya? Tapi bisi jatuh, pikirku. Ah enggak ah. Munduran weh duduknya.

Aku mengambil posisi duduk lebih ke belakang. Kemudian mengambil ponsel dari dalam tas. Menekan tombol power di sisi kanan ponsel, dan langsung melihat waktu yang tertera di layar.

14.22.

Oh iya! Pengumuman UM-PTKIN! Pengumumannya, kan, sudah dirilis jam dua siang?

Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka sebuah grup di aplikasi WhatsApp yang hanya beranggotakan satu orang. Yang tak lain, adalah aku sendiri. Karena, di situ ada nomor peserta UM-PTKIN milikku yang sebelumnya sudah disimpan sebelum berangkat ke pasar. Lalu, membuka aplikasi mesin pencarian dan mengetikkan kata umptkin.


Deg. Deg. Deg.

Singkat cerita, aku sudah mengetahui hasil kelulusan UM-PTKIN. Ternyata, hasilnya adalah negatif. Negatif tidak lulus maksudnya. Alias lulus. Wkwk.

Jelas saja aku kegirangan. Sampai-sampai berseru sendiri padahal tidak ada yang mengajak bicara. Karena apa? Karena ini adalah kedua kali aku mengikuti UM-PTKIN setelah pada kesempatan pertama gagal di tahun sebelumnya. Selain karena itu, tahun ini juga adalah tahun ketiga setelah aku lulus sekolah. Di mana tahun ketiga ini adalah tahun terakhir untuk berkesempatan daftar dan masuk PTN.

Pokoknya, aku bahagia banget deh. Dan ingin cepat-cepat memberitahu Mimi perihal ini. Jadi, aku kembali berjalan ke depan toko Resko. Kemudian membisiki Mimi di telinga kirinya, "Aku diterima di UIN."

"Bibah? Bibah diterima di UIN?" tanya Mimi dengan suara pelan, tanpa berbisik ke telinga.

"Iya, Mi."

"Alhamdulillah."

Setelah itu, Mimi bercerita bahwa Mimi selalu berdoa untukku agar bisa berkuliah. Tepatnya, di waktu antara Zuhur dan Asar. Karena kata orang, waktu tersebut adalah waktu yang bagus dan mudah dikabulkan doanya. Apakah benar? Aku sendiri kurang tahu sih. Tapi, aku terus mendengarkan cerita Mimi.

Ternyata, Allah mengabulkan doa-doa Mimi agar aku diterima di UIN. Benar-benar terharu dan bersyukur mendengarnya. Padahal aku sendiri yang mengikuti ujiannya saja, justru jarang berdoa agar diterima di UIN belakangan ini. Karena, aku benar-benar pasrah. Di satu sisi, ingin sekali masuk UIN. Tapi di satu sisi lain, tidak ingin terlalu berharap lagi. Toh kalau pun tidak diterima, sepertinya aku bisa lebih ikhlas dan siap karena sudah pernah mengalami hal serupa. Bahkan, sudah berencana untuk melamar pekerjaan juga.

Eits, tapi bukan berarti aku tidak pernah berdoa untuk masuk UIN Bandung. Di tahun sebelumnya, aku santer banget berdoa untuk kuliah di UIN Bandung. Dari pertama daftar UM-PTKIN, sampai menerima hasil bahwa aku tidak diterima sebagai mahasiswi baru UIN Bandung melalui seleksi ujian mandiri. Dan dari doa-doa itu, kebetulan diperkenankannya, ya, tahun ini. Yeah, alhamdulillah.

Namun, selain dari pasrahnya aku ketika menanti hasil kelulusan, sebenarnya ada hal lain lagi yang membuatku lebih pasrah ketika ujian belum benar-benar dilaksanakan. 

Di awal bulan Mei, aku masih belum membayar biaya pendaftaran UM-PTKIN. Dan ketika berniat membayarnya, aku terkejut karena ternyata di file pdf tentang cara pembayaran yang diunduh sebelumnya, terdapat tulisan yang intinya, diharuskan membayar biaya pendaftaran sebelum tanggal 30  April 2021.

Duh! Frustasi banget dong pokoknya. Pasrah. Sepasrah-pasrahnya. Aku berpikir, udah enggak ada harapan lagi deh untuk masuk PTN. Dan, oke. Mungkin hidup akan berjalan tanpa adanya wisuda sarjana, padahal aku sangat mengimpikan itu. Mungkin hidup akan berjalan tanpa rasanya menikmati bangku kuliah, padahal aku menginginkan itu.

Fyuh...

Tapi, rupanya Allah memberi harapan lagi. Di hari-hari awal bulan Mei, aku membaca sebuah artikel di ponsel tentang waktu pembayaran UM-PTKIN yang diperpanjang sampai tanggal 9 Mei 2021. Jelas. Harapan dan kesempatan itu ada! Segeralah aku mengecek situs web resmi UM-PTKIN. Dan benar sekali, waktu pembayarannya benar-benar diperpanjang. 

Tapi, kenapa aku harus pasrah dulu, baru diterima di UIN?

Baiklah. Mungkin, di tahun kemarin, aku berharapnya ke PTN. Bukan ke Allah. Jadi ya, gitu deh. Hancur harapannya. Meskipun di satu sisi, sebenarnya ada beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab mengapa aku tidak lulus UM-PTKIN di tahun kemarin.

Hal yang pertama.

Ketika mendaftarkan UM-PTKIN, salah satu syaratnya adalah mengunggah foto berukuran 3 × 4. Nah, saat pendaftaran tahun ini, kalau gak salah, ada sebuah peringatan setelah aku mengunggah fotonya. Padahal, fotonya sama seperti yang aku pakai di tahun kemarin. Lagi pula, gak banyak perubahan, kok, dari fisik wajahku. Oleh karenanya, aku mengatur foto tersebut agar memiliki rasio 3 × 4 kemudian mengunggahnya kembali. Setelah itu, tidak ada peringatan lagi. Jadi kemungkinan, di tahun kemarin, fotoku tidak memenuhi syarat seperti seharusnya.

Hal yang kedua.

Di tahun kemarin, ada sedikit kekeliruan ketika aku mengisi PTN tujuan. Yang di mana seharusnya aku memilih UIN Bandung di pilihan pertama, tapi malah memilih UIN Jakarta. Padahal, PTN utama tujuanku adalah UIN Bandung. Soalnya, biar dekat rumah. Gak usah ngerantau lagi. Udah ngerantau 6 tahun, masih kurang apa, ya? Haha.

Nah, biar gak keliru lagi, di tahun ini aku pilih UIN Bandung di semua pilihan. Tapi tentu, dengan jurusan yang berbeda. Dan alhamdulillah, sekarang diterima di jurusan yang ada di pilihan pertama.

Hal yang ketiga.

Aku sama sekali tidak belajar di tahun kemarin. Benar-benar, ya, berpikiran bahwa 100% aku pasti bakal bisa tembus UIN Bandung di tahun itu juga. Soalnya, aku kira masuk UIN Bandung itu mudah. Haha. Pede banget, ya? Padahal kenyatannya, enggak begitu. Karena pasti, banyak orang yang gak kalah jenius mendaftarkan diri di UIN Bandung. Nah, sedangkan di tahun ini, aku ada belajarnya nih. Entah itu di buku SPM kelas 6 punya Nisa, atau membuka aplikasi Zenius. Tapi, sesekali sih. Enggak sering-sering banget. Pokoknya, ada niatnya dulu. AKU MAU BELAJAR. Habis itu, mau sempat belajar atau enggak, ya terserah. Wkwk.

Nah, menurut aku sih, itu adalah sebuah teguran juga ya buat diri sendiri. Mungkin Allah ingin menegur, "Jangan mentang-mentang pintar di sekolah, masuk PTN aja gak belajar!" Gitu, hehe. Eh, emangnya aku pintar gitu? Gak tahu ketang. Menurut kamu gimana? Kalau menurut aku sih, belum maksimal. 😂

Sudahlah. Kayaknya, cuma ada tiga hal, deh, yang menyebabkan aku tidak lulus UM-PTKIN di tahun kemarin. Enggak ada lagi. Sisanya, ya memang sudah suratan takdir. 

Tapi, apa kamu tidak ingin tahu bagaimana hasilnya ketika aku dinyatakan tidak lulus UM-PTKIN di tahun kemarin?

Lalu, apa kamu ingin tahu apa perbedaan peserta yang tidak lulus dan lulus ketika mengecek hasil pengumuman UM-PTKIN?

Apa pun jawabannya, aku tetap akan memberitahu.

Ini adalah hasil yang aku lihat ketika dinyatakan tidak lulus UM-PTKIN di tahun kemarin. Huhu. Jelas sedih sekali pas pertama lihatnya.

Lalu, perbedaan peserta yang lulus dan tidak lulus ketika mengecek hasil pengumuman UM-PTKIN adalah : 

  • Peserta yang lulus, akan menghadapai kuesioner dulu sebelum melihat hasil kelulusannya.
  • Peserta yang tidak lulus, akan langsung melihat hasil ketidaklulusannya setelah mengklik tombol Cari.

Hanya begitu. Jelas sekali bukan? Karena aku sendiri pernah mengalami keduanya.

Oh ya, untuk kamu para calon mahasiswa atau mahasiswi UIN Bandung yang diterima lewat seleksi mana pun, jangan lupa daftar ulang, ya. Daftar ulangnya bisa di sini. Terus, buat akun terlebih dulu dengan mengklik Daftar Baru setelah mengakses halaman tersebut. Nah, ketika pendaftaran itu, nomor pesertanya gak perlu pakai tanda hubung ( - ). Contoh, nomor peserta di kartu ujiannya 492-494-83028. Tapi di situ, ditulisnya 49249483028. Biar pendaftarannya bisa langsung diproses dan bisa segera mengisi data diri. Karena kalau enggak, bikin akunnya enggak jadi-jadi. Kayak aku. Wkwk. 😂

Sudah dulu, ya. Sekian saja ceritanya di tulisan kali ini. Sampai jumpa di tulisan-tulisan selanjutnya. Semoga aku bisa terus berbagi pengalaman sama kalian meski nanti aku sedang atau bahkan lulus kuliah. Haha.

Semoga bermanfaat. Salam hangat. Tetap semangat.

13 June 2021

Mumpung

Di sebuah toko barang pernak-pernik yang ada di dalam Ciwalk Mall, aku melihat-lihat banyak barang terpajang. Ada tas selempang, dompet kecil, kaos kaki, cangkir, ikat rambut, sampai pulpen. Tapi, tak ada satu pun yang menarik perhatianku. Meski sudah beberapa menit berjalan dan memperhatikan satu per satu barang. Hingga akhirnya, ketika melewati kasir, sekilas aku melihat banyak masker tergantung beserta kemasannya dengan motif yang beragam. Harganya kuperhatikan, berkisar Rp29.000 - Rp30.000. Dan karena ada harga yang murah, jadi aku pilih salah satu masker berharga Rp29.000 dengan motif bintang-bintang beserta warna dasar hijau toska dan tulisan brand toko tersebut di sisi kiri atasnya.

"Itu harganya tiga puluh ribu." Teteh menunjuk harga pada salah satu masker yang serupa dengan suara yang agak pelan.

"Iya. Tahu. Biarinlah, mumpung keluar (rumah)."

"Ooh. Bisi gak tahu. Nanti pas bayar malah kaget lagi."

Sepulang dari Ciwalk, di rumah, aku membuka kemasan masker tersebut. Terlihatlah sisi depan masker yang sebenarnya. Ternyata, ada gambar karaketer dinosaurus di sisi kanan masker. Aku kira, hanya bermotif bintang-bintang. Karena ketika dipajang, maskernya dilipat dan hanya memperlihatkan sisi kiri masker. Yah... agak kecewa deh. Ditambah lagi, saat kuperhatikan kemasan maskernya, ternyata ada tulisan KIDS di pojok kanan atas. Kalau gitu, berarti masker ini buat anak-anak dong? Tapi, okelah. Salahku juga tidak memperhatikan sebelumnya. Padahal, Teteh sudah memberi kode.

"Ini mah maskernya kecil. Cukup gitu buat Nisa, buat Bibah?"

"Cukup kali. Tanya dulu ke kasirnya." Mimi membela. Kemudian menanyakan pada kasir mengenai masker tersebut apakah cukup atau tidak untuk wajahku dan Nisa. Dan jawaban dari kasir tersebut adalah, iya.

 =

Ponsel yang kupegang tengah membuka sebuah aplikasi e-commerce. Pada kolom pencarian, kutikkan beberapa huruf. Namun, kedua mata ini justru tertuju pada penawaran yang terdapat di bawahnya. Sebuah buku yang aku inginkan beberapa bulan belakangan ini.

Kolom pencarian pun terabaikan. Buku itu telah menjadi tujuan. Kuklik penawaran tersebut, sampai akhirnya mengetahui bahwa buku tersebut sedang ada potongan harga hingga 50%. Yang tadinya berharga Rp64.000 menjadi Rp44....... Baiklah. Ini penawaran yang sungguh menarik. Belum lagi, hari ini tepat jatuh di tanggal 6 Juni 2021. Jadi, wajar saja jika banyak diskon yang ditawarkan e-commerce.

Beberapa saat kemudian, aku pun segera checkout buku tersebut dengan harga Rp 34.132. Harga tersebut didapat setelah potongan harga flash sale, voucher dari toko yang bersangkutan sebesar Rp10.000, penukaran koin yang terkumpul dan voucher gratis ongkir 6.6.

=

"Ma, lo kan masih muda. Kenapa, gak lamar kerjaan sih?" tanya Ola pada Mayang, kala mereka tengah mengobrol santai di sebuah kafe.

"Lamar kerjaan, ya?"

"Iya. Mumpung masih muda loh. Belum nikah juga. Jadi kan bisa kerja tanpa ngurusin rumah tangga."

Maya terdiam sejenak, lalu berkata, "Sebenarnya sih gue udah ada pikiran ke situ. Terus, udah follow akun info loker juga di Instagram. Tapi gak tahu kenapa, belum ada yang menarik minat."

"Emang lo mau kerjaan kayak gimana sih?"

"Kerjaan apa aja. Yang sekiranya gue mampu dan bisa gue penuhi persyaratannya. Tapi enggak dengan persyaratan memiliki kendaraan pribadi atau lulusan D3 dan S1."

"Yah... iya sih. Lo belum bisa pake motor sendiri ya?"

"Belum."

"Kalau gue ajarin lo naik motor, gimana? Mau gak?"

"Hah?" Jalankan belajar nyetir motor. Belajar pake sepeda aja gak pernah.

=

Aku berjalan menyusuri trotoar di sisi kanan jalan raya. Menenteng sebuah tas kain berisi mukena beserta sajadahnya. Menatap lurus ke arah depan, seraya mengamati sekitar sekali-dua kali.

Sambil terus berjalan, aku memperhatikan seorang perempuan yang menyeberangi jalan raya menuju trotoar tempatku berjalan. Dia mengenakan pakaian dress selutut, hingga menampakan betis kakinya yang berkulit putih. Sedangkan sebagai alas kaki, ia mengenakan sepatu high heels yang tentu membuatnya terlihat lebih tinggi. Dan tak lupa, sebuah tas yang diapit oleh lengan kiri di bawah ketiak layaknya orang kantoran.

Kayaknya, baru kali ini aku lihat perempuan yang pakai pakaian selutut di daerah ini. Kalau di pasar, pernah enggak ya? Setahu aku sih, kayaknya enggak, pikirku.

Perempuan itu telah berada tepat di depanku. Ia berjalan lurus, tanpa menoleh sedikit pun baik ke kanan maupun ke kiri. Hingga tak lama kemudian, sambil terus berjalan, ia terlihat merogoh tasnya. Dan tepat ketika berpapasan dengan seorang badut, ia memasukkan sesuatu ke kardus yang dipegang badut tersebut.

Astaghfirullah! Ini seperti sebuah tamparan bagiku. Jelas saja sesuatu yang dimasukkan itu adalah uang. Karena tak lama setelah berpapasan, badut itu menganggukan wajah, bertanda bahwa ia berterima kasih pada perempuan itu. Sedangkan aku? Yang jelas-jelas berhijab, tapi tidak sedikit pun uang yang keluar hari ini untuk sekadar memberi. Jalankan memberi. Uang yang aku bawa saat ini saja hanya dua ribu rupiah. Itu pun uang untuk membayar WC di masjid yang dituju. Sebegitu sombongnyakah aku? Ayolah, Bib. Mumpung masih muda, masih hidup, masih ada, ringankan tanganmu.

23 May 2021

Idul Fitri 1442 H

Sudah lebih dari seminggu, kita melewati hari raya idul fitri 1442 H. Tepatnya, pada tanggal 13 Mei 2021 M.

Tapi, tampaknya lebaran kali ini tak jauh berbeda dengan lebaran idul fitri 1441 H di tahun kemarin. Masih, di masa pandemi. Dan lagi, tak ada acara mudik ke kampung halaman seperti tahun-tahun sebelum tahun 2020. Karena selain memang dilarang pemerintah, keluargaku juga cukup menjaga. Masih agak khawatir  untuk keluar kota. Ya meskipun, ke depannya ada rencana buat mudik sih. Itu pun paling hanya keluarga kecilku. Tapi gak tahu tuh, jadi atau nggak. Setidaknya, nggak di waktu yang dilarang pemerintah, kan? Lagi pula, waktu arus balik juga sepertinya sudah selesai. Jadi, penumpang mobil atau kereta pun kayaknya gak akan terlalu penuh. Ya, aku harap sih gitu. Hehe. Bismillah.

Baca juga : Kurir Bernama Firmansyah

Selain tentang mudik, tentunya gak lengkap dong kalau idul fitri tanpa bahas salatnya. Ya, sebenarnya sih salatnya seperti biasa. Tapi ada yang agak berbeda di tahun ini.

Tahun ini, aku salat idul fitri di masjid dekat rumah. Di lantai dua tepatnya. Karena di lantai satu, khusus untuk jemaah lelaki. Dan dari lantai dua, aku bisa melihat jemaah lelaki karena memperoleh tempat di samping pagar besi biru bermotif yang terpasang di sekitar mimbar dengan bentuk persegi panjang. Suara khotib dan imam pun, terdengar dengan jelas. Di mana imam yang memimpin salat adalah A Imam, suami sepupuku sendiri. Sedangkan  yang menjadi khotib adalah Pak Aceng, guru bahasa Inggrisku di waktu SD dulu. Inilah yang berbeda. Karena, baru kali ini aku mengetahui salah satu anggota keluarga memimpin salat idul fitri di masjid ini. Meski, tidak ada hubungan darah. Hehe.

Eits. Ada yang lebih penting lagi dari itu.

Karena di masjid dekat rumah ini, benar-benar menerapkan protokol kesehatan dengan baik di hari raya idul fitri. Memakai masker, menggunakan hand sanitizer dan jaga jarak. Bahkan, jemaah yang tidak memakai masker dari rumah pun, dibagikan masker medis secara gratis sebelum masuk masjid. Di mana pembagian masker medis tersebut dilakukan oleh beberapa orang yang tentu sudah ditugaskan untuk stand by di gang-gang menuju masjid dengan hand sanitizer dan beberapa lembar masker medis di kedua tangannya. Jadi, setiap ada jemaah yang lewat menuju masjid, akan diminta untuk menyodorkan telapak tangannya agar disemprotkan hand sanitizer. Tak lupa, diberikan masker jika jemaah tersebut tidak membawa dan memakai masker.

Namun, masih ada kendala nih untuk jaga jarak di saf perempuan. Karena saking banyaknya jemaah perempuan dan tempat yang terbatas, jadi tidak bisa menerapkan jaga jarak dengan baik. Semuanya saling berimpitan sesuai besar sajadah masing-masing. Tapi, ada juga sih yang terpaksa menumpuk sajadah dengan jemaah lain. Mungkin masih keluarga. Biar berbagi tempat. Kayak aku, Nisa, dan Teh Empit. Soalnya, sajadah kami lebar-lebar. Hihi.

Selesai khotbah, jemaah membubarkan diri dari masjid. Beberapa di antaranya, ada yang bersalam-salaman dulu. Meski sebelum salat, sudah ada himbauan untuk tidak bersalam-salaman setelah khotbah selesai. Sedangkan kami sendiri, hanya bersalaman dengan anggota keluarga yang kebetulan bertemu. Selebihnya, hanya kurang dari lima orang tetangga. 

Tiba di rumah, kami bersalaman dengan orang tua tentunya. Ya seperti itulah. Lalu, bersiap-siap untuk pergi ke rumah saudara yang ditinggali Nenek.

Singkat cerita, kami pun pergi ke rumah Nenek. Tapi sebelum itu, kami menyempatkan diri untuk bersilaturahim ke beberapa rumah tetangga. Tangan dengan tangan seperti biasalah. Meski setelahnya, kami memakai hand sanitizer yang sudah dibawa Teteh dari rumah tanpa diketahui tetangga yang sudah bersalaman dengan kami. Untuk jaga-jaga saja.

Tak sampai duapuluh menit, kami tiba di rumah Nenek. Kemudian bersalam-salaman, makan, ngemil, sampai bagi-bagi THR. Tak lupa, pakai acara ngobrol juga ya. Masa sudah kumpul keluarga, tapi tak ada sepatah kata pun yang terucap? Hihi.

Sayangnya, kami baru bisa berkumpul dan bersilaturahim dengan keluarga pihak ayah yang tinggal di Bandung saja. Sedangkan keluarga dari pihak ibu, tinggal di Cirebon dan belum bisa bertemu lagi sejak lebaran tahun lalu. Itulah sebabnya ada rasa ingin mudik, hihi. Ya, sekalian keluar kotalah sekali-kali. Soalnya, setahun penuh ini aku terus-menerus di Bandung. Tanpa ada keluar kota sama sekali. Bosan tidak coba? Bosanlah, masa enggak.

Akhir kata, aku memohon maaf sebesar-besarnya kepada semua pembaca. Baik itu orang lain, keluarga, teman, temannya teman, atau siapa pun. Mohon maaf lahir dan batin ya. 

Selamat hari raya idul fitri. Meski sudah terlewat beberapa hari.

Terima kasih.

02 May 2021

Selamat Tinggal

Kurang lebih, tanggal 26 atau 28 Mei 2019 M. Beberapa hari sebelum hari raya Idul Fitri 1440 H.

Aku terbangun di pagi hari. Di sebuah bangunan yang telah aku tempati selama beberapa tahun belakangan ini. Ruangan yang dihiasi lemari susun di ketiga sisi dinding, perlengkapan tidur yang berserakan di lantai, sudah menjadi pemandangan biasa bagi para santri, termasuk aku.

Setelah bangun, aku bergegas mandi, berwudu dan melaksanakan salat subuh. Kemudian, merapikan isi dari dua buah tas yang akan dibawa pulang hari ini. Didalamnya, ada pakaian, mukena, Al-Qur'an, alat tulis sampai alat rias. Tak lupa juga, selimut yang baru dipakai semalam.

Sepertinya, aku adalah santri pertama yang akan keluar pesantren sepagi ini. Masih pukul enam lewat beberapa menit. Karena sebagian santri yang sudah melaksanakan salat subuh saja, justru tertidur lagi di kamar masing-masing. Tidak seperti hari kemarin yang langsung dijadwalkan untuk mengikuti ngaji pasaran dengan kitab kuning Tibyan. Baiklah. Mungkin, kali ini mereka ingin mengistirahatkan diri sebelum akhirnya berkemas untuk pulang ke rumah masing-masing di siang hari. Sama sepertiku. Hanya saja, aku ingin pulang lebih dulu dibanding mereka.

"Mba, Mba Bibah pengen balik tah? (Mba Bibah mau pulang?)"

"Iya."

Aku menjumpai dua orang santri yang lebih muda dariku di sebuah kursi panjang dekat pintu keluar-masuk pesantren. Sebelumnya, mereka terlihat tengah asyik mengobrol menikmati udara pagi. Dan santri yang sebelumnya bertanya padaku, adalah Hawa.

"Mau lewat maqbaroh tah, Mba? Hawa temenin ya?"

"Boleh."

Aku mengenakan sepasang sandal yang sudah dibawa dari lantai dua, letak kamar yang aku tempati sebelumnya.

"Aku juga ikut dong, Mba." Santri yang lain lagi ikut bicara, namanya Hani.

"Ayo, Han. Gak papa. Udah boleh keluar ini kan?"

"Bolehlah, Mba. Masa udah waktu liburan gini masih gak boleh keluar aja."

"Haha. Ya sugan weh. (Barangkali saja.)"

Aku menjinjing sebuah tas yang agak besar dengan tangan kanan. Sedangkan tas yang satu lagi, adalah tas gendong yang digendong di pundak.

"Sini, Mba. Tasnya biarin Hawa yang bawa."

Hawa tiba-tiba ingin merebut tas jinjing dari tanganku.

"Eh jangan!"

"Biarin, Mba. Kan lumayan dari sini ke maqbaroh juga agak jauh."

"Iya ya, Hawa. Sini barengan sama aku bawanya. Jadi Mba Bibah bawanya tas gendong aja."

"Ih kok gitu sih, Hani? Hawa? Ngerepotin gak?"

"Nggak, Mba Bibah. Udah biarin kita aja yang bawa."

"Lah, ya udah deh. Makasih ya."

"Santai aja, Mba."

Baca juga :

Aku mulai berjalan keluar dari gerbang pesantren setelah berpamitan pada teman-teman sebelumnya. Sedangkan kepada pengasuh, aku sudah berpamitan di malam harinya. Agar tak mengganggu istirahat beliau di pagi hari dengan izin pamit dari seorang santri yang telah resmi boyong ini.

"Mba Bibah pulangnya langsung ke Bandung?" Hawa memulai obrolan di pertengahan jalan.

"Iya."

"Gak ke... sana dulu tah, Mba? Apa namanya? Rumah mba Nafis tuh?" tanya Hani.

"Nggaklah, Mba Hani. Orang mba Nafisnya aja tadi masih ada di pondok jeh." Hawa menjawab mewakiliku.

"Oh iya ya. Tadi ada mba Nafis ya? Aku lupa, Mba Bibah. Tapi ya kali aja ke sana dulu gitu."

"Haha. Nggak, Han. Aku pulangnya langsung ke rumah, ke Bandung."

"Naik apa Mba ke Bandung?"

"Apa aja deh. Kalau ada bus, ya alhamdulillah. Kalau ada elf, ya gak papa. Tapi, bus mah lagi susah sih. Jadi lebih sering naik elf."

"Ongkosnya mahalan mana, Mba? Bus atau elf?"

"Bus-lah. Soalnya kalau bus mah harus lima puluh ribu atau lebih. Tapi kalau elf kan, kadang bisa nawar gitu. Tapi, rata-rata lima puluh ribu sih."

"Iih... Tapi kan, enakan mah enakan naik bus ya, Mba?"

"Iyalah, Wa. Udah mah ada AC-nya, duduknya enak, gak dioper-oper lagi."

"Emang kalau naik elf, sering dioper tah, Mba?"

"Banget. Sering... banget, Han. Tapi ya, jadi udah biasa sih. Cuma kan, nyebelin gitu. Apalagi kalau bawaannya banyak."

"Mba-Mba, maaf, Mba. Ini mau pulang ya?"

Kali ini, bukan Hawa atau Hani yang berbicara. Tapi seorang santri putra yang jauh lebih tua dengan kalung kamera SLR di lehernya.

"Iya, Kang." Bukan sekadar pulang sih. Tapi udah boyong dari pesantren.

"Boleh minta waktunya sebentar, Mba? Untuk pemotretan arsip lensa Babakan. Nanti Mba sama temen-temennya jalan aja seperti biasa sambil ngobrol-ngobrol. Terus kami foto Mba-nya pakai foto candid gitu. Bisa?"

"Jangan Mba jangan. Hawanya malu," pinta Hawa.

Aku menimang-nimang. Iya atau nggak ya?

"Maaf, Kang. Lagi buru-buru," jawabku sopan. Meski sebenarnya, agak kepengen juga sih. Tapi gak usah maksalah.

"Baik, Mba. Mohon maaf mengganggu."

Santri putra itu mundur kembali ke tempat menunggu yang sudah ditempati sebelumnya. Sedangkan aku, Hawa dan Hani melanjutkan perjalanan menuju maqbaroh. Disebut maqbaroh, karena di kanan-kiri jalannya terdapat banyak makam. Termasuk diantaranya, makam masyayikh Babakan dan keturunannya. Lalu setelah maqbaroh dilewati, barulah berjumpa dengan jalan raya. Tempat para santri yang akan pulang tanpa dijemput menggunakan kendaraan mencari mobil dengan tujuan ke arah tempat tinggalnya.

"Nyebrang ya, Mba Bibah?"

"Iya."

Kami menyeberangi jalan raya.

"Mba Hani, nanti pulang ke pondoknya lewat kasab aja ya?"

"Kenapa gitu, Wa?" Aku ikut penasaran.

"Hawa-e isin Mba lewat maqbaroh sih. Bokat ana santri putra maning. (Hawanya malu Mba lewat maqbaroh sih. Barangkali ada santri putra lagi.)"

"Iya, Wa iya. Tapi nanti muter dong?" Akhirnya Hani menjawab.

"Biarin, Mba Hani. Itung-itung lama-lamain keluar. Kan bosen di pondok terus."

Tak lama kemudian, sebuah mobil elf dengan jurusan Bandung - Cirebon terlihat dari kejauhan.

"Hawa, Hani, itu kayaknya jurusan Bandung deh."

"Oh iya, Mba. Tapi biarin naik elf aja?"

"Biarinlah. Daripada nungguin lama."

Mobil elf yang dimaksud semakin mendekat.

"Hati-hati ya, Mba Bibah."

"Iya, Wa, Han. Makasih ya."

Kami bersalaman. Kemudian, aku pun segera menaiki mobil elf setelah mobil elf benar-benar berhenti. Membawa tas gendong di pundak dan tas jinjing yang sebelumnya dibawakan Hawa dan Hani. Seiring dengan mobil elf yang mulai melaju, aku segera mencari posisi duduk yang cukup nyaman di salah satu bangku yang kosong.

Babakan. Gak kerasa udah hampir enam tahun aja aku tinggal disana. Dari aku yang masih gak mengerti apa-apa, sampai aku yang sekarang namun masih juga banyak gak taunya.

Selamat tinggal, Babakan. Sampai jumpa di lain waktu, walau entah kapan tepatnya.

25 April 2021

Di Balik Sebuah Foto di Bulan Ramadhan

Kamu lihat foto di tulisan ini? Ya. Foto itu. Aku letakkan foto itu di atas tulisan postingan ini. Berisi banyak anak laki-laki  yang berumur 11-13 tahun. Bersama seorang lelaki yang jauh lebih tua, sekitar umur 20 tahunan ke atas.

Foto itu diambil beberapa tahun lalu. Ketika aku masih SD, kelas 6. Mereka pun sama. Satu kelas denganku. Hanya saja, aku tidak ikut berfoto bersama mereka. Karena foto itu diambil untuk 'sesi cowok'. Sedangkan aku, tentu saja difoto di 'sesi cewek'.

Lelaki berkemeja putih di barisan paling depan, yang memegang gitar beserta senarnya, adalah kak Ihsan. Dia salah satu kakak-kakak PPL yang mengajar siswa-siswi SDN Ujungberung di bulan Ramadan. Lebih tepatnya, di kelas aku dan teman-teman. Kelas B, SD 6. Bahkan, tidak hanya setahun. Tapi dua tahun. Karena ketika kami kelas 6, mungkin sebenarnya kak Ihsan tidak benar-benar dijadwalkan untuk mengajar kelas kami. Malah, di kelas kami pun sudah ada salah satu kakak PPL yang masuk. Tapi karena di tahun sebelumnya (kelas 5) kami sudah mengenal dan pernah diajar kak Ihsan, jadi beberapa temanku terutama para perempuan meneriakinya dari dalam kelas ketika kak Ihsan melewati koridor depan kelas kami. Begini,

"Kak Ihsan!!!!!" Sambil berdiri.

Kak Ihsan yang sudah mengenal beberapa anak di kelas kami pun, merespon. Eh, ternyata jadi mengajar di kelas kami lagi. Tapi gak papa. Kak Ihsan itu asyik orangnya. Suka bernyanyi. Sambil main gitar. Dan, aku ingat sekali salah satu lagu yang dibagikannya. Tentang hari kiamat. Dikutip dari surah Al-Zalzalah. Tapi, aku hanya ingat 5 baris saja. Hehe.

Baca juga :

Apabila bumi digoncangkan

Dengan goncangan yang hebat

Apabila bumi mengeluarkan

Beban-beban berat yang dikandungnya

Ingatlah akan suatu hari yang menegangkan

Sudah. Segitu saja lirik yang aku ingat. Entah kenapa menancap sekali dikepalaku.

Lanjut.

Sebelumnya, aku sudah memberitahu bahwa kak Ihsan mengajar kami di bulan Ramadhan. Nah, foto itu lebih tepatnya diambil ketika sekolah kami mengadakan program pesantren kilat. Tahu dong apa itu pesantren kilat? Karena hampir semua orang yang pernah bersekolah di sekolah formal, pasti pernah merasakan pesantren kilat. 

Sekedar tahu, pesantren kilat adalah kegiatan mengaji pelajaran agama Islam selain di mata pelajaran PAI dalam kurun waktu harian yang singkat. Biasanya sekitar 1 - 2 minggu di bulan Ramadhan. Dan di hari paling terakhir, biasanya diadakan juga kegiatan berbuka puasa bersama di sekolah. Namun sebelum itu, ada juga perpisahan bersama kakak-kakak PPL di siang harinya. Dan di waktu itulah, kira-kira saatnya sesi pemotretan itu dilakukan. (Cielah, bahasanya pemotretan 🤣).

Pemotretan dilakukan secara bergilir agar tidak merepotkan orang lain. Cukup kakak PPL yang mengajar dan anak kelas yang diajar saja. Pertama, sesi anak-anak perempuan dulu. Bersama kak Ihsan tentunya. Lalu, sebagian anak perempuan menitipkan ponselnya di beberapa anak lelaki untuk memotret anak-anak perempuan dan kak Ihsan yang berbaris dan berekspresi bebas di depan papan tulis hitam. Tapi, sayangnya aku tidak menitipkan ponsel ke salah satu teman lelaki. Jadi aku tidak mempunyai foto sesi perempuan bersama kak Ihsan.

Cekrek! Cekrek! Cekrek!

Sesi pemotretan untuk anak-anak perempuan selesai setelah beberapa kali mengambil gambar dengan berbagai pose menggunakan kamera ponsel. Kemudian, tibalah sesi pemotretan untuk anak-anak lelaki bersama kak Ihsan. Tak lupa, sebagian dari mereka menyerahkan ponsel milik teman-teman perempuan yang menitipkan sebelumnya beserta ponsel miliknya sendiri untuk memotret foto. Dan di saat mereka berposelah, aku mencuri kesempatan untuk memotret mereka dengan kamera ponselku sendiri dari kursi paling kanan-depan.

Cekrek!

Satu gambar berhasil diambil.

-

Setelah sembilan tahun, foto itu masih tersimpan di notebook milik bapakku. Tapi tentu, sebelumnya foto itu sempat berpindah-pindah tempat. Pertama di ponsel yang aku pakai di tahun 2012, tepatnya di kartu memori. Lalu, dipindahkan ke notebook bapakku yang dipakai di tahun 2013. Tak lupa dicadangkan juga ke flashdisk milik bapak. Hingga seiring berjalannya waktu, foto itu tersimpan di notebook bapak yang dipakai sekarang berkat cadangannya yang masih ada di flashdisk.

Jika dibandingkan, tentu kualitas foto itu masih jauh lebih buruk dari kualitas foto yang bisa kita ambil sekarang menggunakan ponsel edisi terbaru. Iyalah. Itu kan tahun 2012. Sekarang, sudah tahun 2021. Sudah banyak perbedaan dari perkembangan ponsel di era tahun 2010-2012 dan di era tahun 2019-2021.

Saat itu, aku menggunakan ponsel tipe qwerty dengan merek Cross. Berwarna putih di sisi depan-belakang, disertai warna oranye di sekeliling sisi ponsel. Tapi sayang. Meski pada saat itu media sosial internet sudah ada, ponselku itu masih sulit sekali untuk membuka facebook atau browser. Jadi, aku hanya menggunakan panggilan telepon dan SMS untuk berkomunikasi. Sedangkan untuk penghibur, ada musik, kamera, radio dan permainan yang cukup bagus dan asyik pada zamannya.

Aku ingat. Aku masih ingat ketika membeli ponsel Cross qwerty itu. Aku membelinya di antara tahun 2010-2011. Ketika aku masih kelas 4 SD. Bersama bapakku, di seberang Masjid Agung Ujungberung yang sekarang sudah berubah menjadi Toko Laundry.

Harganya, berkisar Rp275.000. Sudah ditambah bonus kartu memori, beberapa lagu pop dan charger tentunya. Harga yang agak tinggi sebenarnya. Tapi aku bangga. Karena sebagian uangnya adalah uangku sendiri yang dikumpulkan selama beberapa bulan dari sisa uang jajan. Sedangkan sebagian uangnya, adalah patungan dari uang bapak dan ibu.

Setelah membeli ponsel itu, bapak membeli kartu SIM-nya. Dan provider pertama yang aku pakai adalah provider Axis dengan nomor telepon 083820197755. Haha. Mentereng banget ya nomor teleponnya? Biarinlah. Kan nomornya udah gak aktif. Wkwk.

Setelah lebih dari sepuluh tahun, aku belum pernah membeli ponsel lagi. Bukan karena masih memakai ponsel yang lama. Karena tentu aku sudah ketinggalan zaman jika masih menggunakan ponsel itu. Lagi pula, ponsel lamanya juga sudah rusak setelah ditinggal setahun karena aku mondok. Dan setelah aku lulus mondok pun, aku tidak langsung membeli ponsel baru. Tapi 'diwariskan' ponsel lama oleh bapak yang membeli ponsel baru. Hehe.

Di Januari 2021, barulah aku membeli ponsel baru lagi. Karena ponsel lama bapak yang aku pakai, sudah seringkali nge-hang dan mudah mati sendiri. Selain itu, ruang memorinya juga kecil. Ditambah kamera yang kurang mendukung untuk merekam video. Karena dari awal bulan Januari 2021, aku sudah berencana untuk membuat vlog yang akan diunggah di youtube. Dan jadilah. Di tanggal 15, aku membeli ponsel baru dengan merek Vivo tipe V20 dengan harga Rp2.199.000 di toko ponsel pinggir jalan yang letaknya tak jauh dari Masjid Agung Ujungberung. Yey... Ponsel baru! Aku bangga sekali. Karena untuk membeli ponsel kali ini, uang sepenuhnya adalah uang milikku sendiri. Ya, tapi sayangnya, uang itu pun masih diberi oleh bapak dan ibu. Bukan sepenuhnya hasil kerja kerasku. Karena aku belum 'benar-benar' bekerja. Aku hanya membantu bapak untuk beberapa pekerjaannya sekaligus membantu ibu berjualan kue kering di pasar. Dan sebagai upahnya, aku 'digaji' bapak dengan besaran yang tak tentu.  Ya, entahlah. Terserah bapak. Masih untung dikasih. Terus ditabung dan dikelola sendiri. Hehe.

Setelah membeli ponsel baru, semoga ponselnya bisa digunakan lebih baik ya. Aku lagi terus-terusan bikin vlog nih buat diunggah di youtube. Semoga hasil 😀. Jangan lupa subscribe channel youtube-ku, Penjuru Dunia.


Terima kasih telah membaca cerita yang penting dan tidak penting ini : ).

21 March 2021

Aturan UM-PTKIN

3 Agustus 2020.

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu. Hari pelaksanakan UM-PTKIN bagiku dan bagi sebagian pesertanya. Dan sekarang, aku pun sudah bersiap mengenakan kerudung segi empat putih polos beserta baju polos dengan warna senada. Ya, meskipun bukan bagian dari aturan UM-PTKIN sih. Karena di aturannya, hanya tertulis bahwa peserta harus mengenakan pakaian dengan atasan kemaja polos. Namun entah kenapa, otakku menerjemahkannya bahwa pakaian yang harus dikenakan harus putih polos. Haha. Aneh memang. Aku saja tertawa lepas saat aku baru menyadari aturan yang sebenarnya beberapa hari lalu. Tapi karena aku sudah membeli kerudung putih polosnya secara mendadak beberapa hari yang lalu juga, akhirnya aku mengenakan kerudung itu. Kemudian duduk bersila di atas kasur sembari memangku sebuah notebook berukuran 14 inch berwarna hitam. Menyiapkan beberapa dokumen UM-PTKIN disebelahku bersama ponsel android yang sudah terisi kuota internet. Agar koneksi internet semakin kencang dan tidak terputus-putus.

"Masih lima belas menit lagi. Iih... Deg-degan."

Aku memperhatikan waktu yang tertera pada layar monitor notebook. Kemudian membuka aplikasi chrome, mengetikkan kata sembarang, membaca artikel-artikel yang ditemui. Setelah waktu tersisa sepuluh menit lagi sebelum ujian benar-benar dimulai, barulah aku membuka aplikasi UM-PTKIN yang sudah diinstal sebelumnya.

Sekitar jam 12 siang.

Dari hitungan waktu yang ada pada aplikasi ujian, ternyata aku sudah mengerjakan soal-soal ini selama satu jam. Cukup sulit memang. Dan masih banyak juga materi yang belum kumengerti. Sekarang saja, lebih dari dua puluh soal yang belum diisi.

TUK! TUK! TUK! TUK!

Ponselku bergetar. Mengeluarkan bunyi nada dering monkey drum dari aplikasi WhatsApp. Ternyata ada panggilan masuk dari teh Empit.

Duh, teh Empit pake nelpon segala sih. Mana peraturan ujiannya gak boleh angkat telpon lagi. Nanti kan bisa keliatan dari kamera.

Aku menatap ponsel sekilas yang terus bergetar dan berdering. Bimbang. Mau angkat, tapi mungkin nanti keliatan sama pengawas. Karena meskipun ujian jarak jauh, perangkat yang digunakan untuk ujian harus memiliki kamera depan dan diaktifkan selama ujian. Jadi, apapun yang dilakukan peserta selama ujian di depan komputer/laptop/netbook/ponsel, bisa tetap dipantau oleh para pengawas yang jauh entah dimana. Mau itu lagi ngeluh karena soal yang susah, garuk-garuk hidung, benerin kerudung, sampai pura-pura berpose jelek. Tapi, aku masih kurang tau tuh tentang suaranya. Apakah suaranya bisa terdengar dari sana, atau tidak ya?

TOK! TOK! TOK! TOK!

Kali ini, suara pintu rumah yang terdengar digedor keras.

"Dek!! Buka!!" Lalu, teriakan suara teh Empit menyusul.

TING! TING! TING!

Ponselku bergetar lagi dengan nada dering yang lebih singkat. Tiga buah pesan singkat dari teh Empit.

De

Buka pintu

Aku gak bawa kunci 

Aku membaca pesan singkat itu sekilas. Kemudian menyimpan ponsel di sembarang tempat.

"Teh Empit mah pake gak bawa kunci segala sih. Biasanya juga bawa."

Terpaksa, aku mengisi soal-soal yang tersisa tanpa pikir-pikir lagi. Baca soal sekilas, lalu langsung menjawab dengan pilihan asal. Ya, mau bagaimana lagi. Karena aku memang mengunci pintu rumah bahkan sebelum berlangsungnya ujian. Dan pada aturan UM-PTKIN-nya, tertulis jika peserta tidak boleh keluar ruangan selama ujian. 

Selesai.

Aku segera log out dari aplikasi UM-PTKIN setelah menyatakan bahwa semua soal telah diisi dan mengklik tombol 'Selesai'. Kemudian turun dari kasur dan berjalan menuju ruang tamu membawa sebuah kunci duplikat rumah.

---

Baca juga :

Di Alun-Alun

Kenapa Suka Menulis?

---

"Oh, kamu teh lagi ujian?" tanya teh Empit sembari memasukkan sepeda motornya ke dalam rumah.

"Iya."

"Bukannya waktu itu udah?" Teh Empit bermaksud menanyakan ujian UM-PTKIN beberapa hari yang lalu.

"Waktu itu mah masih uji coba. Sekarang yang benerannya."

Aku kembali ke kamar. Memangku notebook di atas kaki yang bersila. Membuka chrome, kemudian mengetikkan kata-kata yang sebenarnya kurang penting di kolom pencarian. Tak lupa juga membuka kerudung, karena ujian telah selesai dan wajahku tidak lagi tersorot kamera notebook.

"Kok udah buka kerudung sih, De? Katanya lagi ujian?"

Teh Empit melewati kamarku yang pintunya terbuka cukup lebar.

"Aku mah udah selesai ujiannya."

Hm... Ya udah deh. Udah selesai. Tapi nyebelin juga sih. Tadi pake ada acara teh Empit ngetuk-ngetuk pintu segala dari luar. Gak bawa kunci lagi.

Untuk beberapa saat, aku masih terus membolak-balik halaman chrome yang dibuka. Hingga akhirnya, aku teringat sesuatu. 

Waktu itu, aku nulis di Kompasiana tentang UM-PTKIN daring alias online. Terus kalau gak salah... Oh iya! Aku nulis sebagai contoh, kalau salah satu gak enaknya UM-PTKIN daring itu adalah saat lagi ujian terus ada tamu atau anggota keluarga yang ketuk pintu! Iya gak sih? Tapi kan, itu cuma contoh. Sebenarnya itu belum terjadi. Karena yang aku maksud sebenarnya itu, aku lagi ujian di lantai atas, terus ada teh Empit ambil anduk di pagar tangga sambil ngajak ngobrol. Dan biar nulisnya lebih simpel, jadi aku nulisnya kalau ada tamu atau anggota keluarga yang ketuk pintu! Aaah... Kenapa bisa bener kejadian sih?

14 March 2021

Kurir Bernama Firmansyah

Siang hari. Sekitar jam 2 siang.

Ponsel ayahku berbunyi. Bertanda panggilan WhatsApp masuk di ponselnya. Mama - panggilan ayahku - menjawab panggilan itu.

Ternyata, panggilan itu berasal dari seorang kurir. Karena dua hari yang lalu, mama memang sempat membeli beberapa barang secara daring. Setelah panggilan itu selesai, mama mengecek riwayat panggilan di WhatsApp-nya.

"Bib, nahanya kurir nu bieu nelpon teh geus aya ngaranan di hp mama? (Bib, kenapa ya kurir yang tadi nelpon udah ada namanya di hp mama?)"

"Apa, Ma?"

"Ieu kurir nu bieu nelpon. Naha geus aya ngaranan nya? (Ini kurir yang tadi nelpon. Kenapa udah ada namanya ya?)"

"Nu mana kitu? (Yang mana gitu?)" Aku menengok riwayat panggilan WhatsApp mama yang ditunjukkan padaku.

"Nu Firmansyah tah ieu. (Yang Firmansyah nih)."

"Eh iya sih. Haha."

Aku hanya tertawa kecil. Karena tentu saja aku tidak tahu kenapa nama kurir itu sudah bernama di ponsel mama. Dan kata mama pun, mama tidak pernah menyimpan kontak apalagi mengenal seseorang bernama Firmansyah. Terkecuali, seorang tukang sate di pasar. Itupun, hanya Firman saja. Tanpa tambahan -syah di belakangnya.

"Saha nya? (Siapa ya?)"

---

Baca juga :

10 Bulan Pandemi Covid 19 di Indonesia

Game Tanpa Kuota di Chrome - PC

---

Di waktu maghrib.

Ponsel mama berbunyi lagi. Bertanda ada panggilan WhatsApp yang masuk. Dan seperti tadi siang, ternyata panggilan itu berasal dari sebuah kontak bernama Firmansyah. Karena memang masih ada satu paket lagi yang akan diantar hari ini. Namun, mama sedang pergi ke masjid. Aku yang tadinya ingin mengangkat panggilan itu pun, kalah cepat dengan tetehku yang sudah mengambil ponsel mama yang tergeletak di lantai. Jadi, aku lebih baik pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.

Setelah berwudhu, aku kembali ke kamar untuk melaksanakan sholat. Sambil bersiap memakai mukena, aku mendengar mama yang sedang mengobrol dengan teteh di ruang tengah mengenai kontak kurir bernama Firmansyah di ponsel mama.

Firmansyah. Firmansyah siapa ya? Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati. Lalu, tiba-tiba aku teringat sesuatu.

"Teh, yang nganternya bapak-bapak?" Aku bertanya pada teteh yang sedang membuka sebuah paket melalui kaca jendela kamar.

"Bukan da. Aa-aa. (Bukan kok. Aa-aa)"

"Masih muda?"

"Iya."

"Temen aku gitu ya?"

"Kok temen kamu sih, De?"

"Soalnya aku teh punya temen yang namanya Firmansyah."

"Temen Bibah ceunah, Ma. (Teman Bibah katanya, Ma.)"

"Hah? Naha, Bib? Temen Bibah? (Kenapa, Bib? Teman Bibah?)" Mama langsung bertanya.

"Iya kayaknya."

"Naha kontakna aya di mama? (Kenapa kontaknya ada di (ponsel) mama?)"

"Kan aku nyimpen nomernya di gmail. Terus gmail aku login kan di hp mama?"

"Oh enya nya. (Oh iya ya)." Mama mengotak-atik ponselnya kembali. Kemudian mendekati kaca jendela kamarku dan menunjukkan sebuah foto profil WhatsApp sebuah kontak bernama Firmansyah itu. "Nu ieu lain jelmana? (Yang ini bukan orangnya?)"

"Iya kayaknya." Aku menjawabnya sedikit ragu setelah melihat foto profil seorang lelaki muda yang sedang duduk. Wajahnya memang jelas. Tapi aku memang tidak tahu bentuk wajah temanku bernama Firmansyah itu sekarang. Bagaimana bisa tahu? Aku saja terakhir kali ketemu dia di hari kelulusan SD. Sudah hampir delapan tahun lamanya dari hari ini. 

"Naha jigana Bibah mah? (Kenapa kayaknya Bibah?)"

"Ya gak tau sekarang gimana mah. Da udah lama gak ketemu."

"Temen di mana kitu ieu? (Teman di mana memangnya?)"

"Temen SD."

"Oh.. baturan SD."

Mama menjauh dari kaca jendela kamarku. Kemudian duduk di kursi ruang tamu.

"Ai Bibah naha nyaho nomerna? (Ai Bibah kenapa tau nomornya?)"

"Iya aku nyimpen nomornya. Da dia pernah gabung di grup alumni SD." Kayaknya dia udah keluar dari grup sih.

Adzan isya belum berkumandang. Tapi wudhuku sudah batal. Jadi aku pergi ke ruang tamu dan mengecek ponselku. Membuka WhatsApp lebih tepatnya. Dan disitu, aku mencari kontak bernama Firmansyah. Benar saja. Ternyata aku memang menyimpan kontak Firman. Kulihat lebih rinci lagi, ternyata dia juga masih bergabung di grup alumni SD. Bahkan dia adalah salah satu adminnya. Ya, walaupun anggotanya cuma empat orang sih. Haha.

"Teh, bener tau itu teh temen aku."

"Oh iya?"

"Iya. Ini juga masih gabung di grup ternyata."