15 August 2021

Pertama Kali

Sabtu, 31 Juli 2021, Sekitar jam tujuh.

Di salah satu kursi ruang tamu, aku duduk sembari memegang ponsel. Mencoba melihat ada informasi apa saja di WhatsApp setelah tak ditengok selama beberapa jam.

"Ass,,,undangan pelaksanaan swab pcr untuk
1. ....
2. ....
3. ....
Hari : sabtu
Tanggal : 31 Juli 2021
Nama pemantau : Lina
Sesi : 1(09.00-10.00)
Nomor urut swab :10-12
Tempat : Halaman belakang Puskesmas
Ditunggu kehadirannya dan diharapkan tepat waktu karena APD yang digunakan petugas APD yang dipersiapkan hanya untuk swab dan sekali buang jadi jikalau tidak datang sangat disayangkan. Untuk pelaksanaan swab gratis tidak dipungut biaya

Wa ini harap diperlihatkan kepada petugas yang akan melakukan swab besok

Hatur nuhun
Puskesmas ...."

Itu sebuah pesan dari Mama-ayahku- di grup keluarga. Dari keterangan Diteruskan pada barisan pertamanya, aku mengerti bahwa itu bukanlah pesan buatan Mama sendiri. Melainkan pesan dari pihak puskesmas yang dikirim ke nomor WhatsApp Mama, lalu langsung dikirim ke grup keluarga tanpa perlu menyalin pesan.

"Mi... katanya kita disuruh swab," panggilku pada Mimi-ibuku- yang sedang bolak-balik dapur-ruang tengah.

"Kata siapa?"

"Ini Mama ngirim WA di grup."

Mimi mengecek ponselnya yang sedang dicas di ruang tengah. Lalu berujar, "Oh iya, Bib."

Setelah mengetahui informasi itu, Mimi pun memberitahu Teteh (kakak perempuanku) yang berada di kamarnya bahwa kami perlu di-swab PCR di puskesmas yang dimaksud. Hal ini dikarenakan pihak puskesmas ingin mengecek keadaaan kami-apakah positif atau tidak- setelah Mama dinyatakan positif covid 19 tiga hari sebelumnya. Dan sampai saat aku menulis cerita ini, Mama masih melakukan isolasi mandiri di rumah. Karena tidak megalami gejala apa pun, alias OTG atau orang tanpa gejala. Bahkan beberapa hari sebelum dinyatakan positif pun, Mama masih beraktivitas seperti biasa. Makannya lahap, jalannya cepat, dan sering bolak-balik pasar-rumah agar tubuhnya tetap fit. Karena kebetulan, Mimi berjualan di pasar. Dan agar tidak berdiam diri saja di rumah sekaligus menggerakkan badan, Mama lebih memilih bolak-balik pasar-rumah saja.

Tapi, inilah yang terjadi. Mama dinyatakan positif pada tanggal 28 Juli setelah di-swab pada tanggal 26 Juli di rumah sakit Hermina. Dan itu pun, aku yang pertama kalinya tahu. Karena pemberitahuan itu diberikan dalam bentuk file PDF dan Mama tidak memiliki aplikasi pembuka file PDF di ponselnya. Jadi, Mama mengirimkannya padaku melalui WhatsApp. Lalu aku mengirimnya ke grup keluarga dengan bentuk file foto. Dan di hari yang sama juga, Mama mulai melakukan isolasi mandiri.

Sekitar jam setengah sembilan.

Kami bertiga pergi ke puskesmas tanpa menaiki kendaraan. Lagi pula, jaraknya tidak terlalu jauh. Jadi hitung-hitung, jalan-jalanlah. Meskipun tujuannya adalah puskesmas dan harus di-swab.

Sesampai kami di puskesmas, Teteh menulis absen di kertas yang disediakan. Sementara aku dan Mimi langsung menuju halaman belakang puskesmas karena datanya dituliskan Teteh sekaligus. Dan rupanya, kami adalah tiga orang pertama yang datang. Padahal di kertas absen tadi, sudah ada dua nama yang tertulis. Tapi sudahlah. Lagi pula pelaksanaan swab dijadwalkan akan dimulai jam sembilan. Sementara kami datang sekitar jam setengah sembilan lebih beberapa menit.

=

Cukup lama menunggu, akhirnya beberapa dokter keluar dari ruangannya untuk men-swab orang-orang yang telah menulis data di kertas absen. Tentu, tidak hanya kami bertiga. Sudah ada beberapa orang lain yang datang sebelumnya. Tapi sebelum di-swab, kami diberikan pengarahan terlebih dulu oleh salah seorang dokter perempuan yang kelihatannya, berusia 40-50 tahun menurut perkiraanku ketika mendengar suaranya. Di mana inti dari pengarahan itu adalah :

1. Ada yang swab PCR dan ada yang swab antigen.

2. Swab PCR, diambil sampelnya dari hidung dan tenggorokan. Sedangkan swab antigen, diambil sampelnya dari hidung saja.

3. Hasil dari swab antigen bisa diambil atau diberitahukan di sore hari. Sedangkan hasil dari swab PCR bisa diambil atau diberitahukan tiga hari setelahnya,

4. Kasus corona melandai setelah diberlakukan PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) selama beberapa pekan terakhir. (Dan sekarang juga masih PPKM).

Setelah diberikan pengarahan, pelaksanaan swab pun dimulai dari absen pertama. Jujur, ada rasa gimana gitu. Soalnya ini adalah pertama kalinya aku di-swab. Karena, aku memang jarang bepergian sejak pandemi corona melanda Indonesia. Ya, cuma dua kalilah selama setahun lebih ini. Itu pun tidak sampai 24 jam dan masih di Bandung. Gak keluar kota. Dan gak ada hal lain yang mengharuskan aku untuk di-rapid test antigen, antibodi, apalagi di-swab PCR.

"Habibah."

Aku beranjak dari kursi ruang tunggu di halaman belakang puskesmas. Kemudian berjalan menuju salah satu kursi plastik yang tersedia untuk di-swab. Tempatnya masih di luar ruangan juga. Dan ada dua dokter yang bertugas untuk men-swab pasien. Jadi satu dokter, men-swab satu pasien dalam waktu bersamaan.

"Antigen, ya," ucap dokter yang sebelumnya memberikan pengarahan, sekaligus akan men-swabku. Tapi aku tidak mengangguk, dan tidak juga menggeleng. Karena sebelumnya, Teteh pun di-swab antigen meski sudah menunjukkan pesan dari puskesmas di ponselnya bahwa kami diundang untuk melakukan swab PCR. Jadi ya, pasti sama juga.

"Buka maskernya."

Aku menurunkan masker hingga ke leher. Kemudian mendongakkan kepala tanda bersedia untuk di-swab antigen.

"Hidungnya lagi gak mampet?"

"Enggak, Dok."

Pelan-pelan, alat antigen itu masuk ke lubang hidung kanan. Bentuknya panjang. Dan di salah satu ujungnya, yang untuk mengambil sampel ke hidung, terdapat bahan lembuat memanjang sekitar 3 cm yang sepertinya, berupa kapas.

"Udah."

Dokter itu kembali menarik alat antigen tersebut dari hidungku. Kemudian memasukkan sampelnya ke alat yang lain lagi. Sedangkan aku langsung bernapas lega. Ternyata begini rasanya di-swab antigen. Tidak sakit sih, tapi geli di lubang hidung.

=

Minggu, 1 Agustus 2021.

Pagi hari, aku menerima tiga buah kiriman file PDF dari nomor WhatsApp Mama. Masing-masing file PDF tersebut bernama namaku, nama Teteh, dan nama Mimi. Ternyata isi dari file itu adalah pemberitahuan dari puskesmas mengenai hasil swab antigen kami di hari kemarin. Dan hasilnya, alhamduillah. Kami bertiga dinyatakan negatif covid 19.

=

Kamis, 3 Agustus 2021.

"Ass,,,,undangan pelaksanaan swab pcr untuk
1. .....
2. ....
3. ....
Hari : kamis
Tanggal : 5 Agustus 2021
Nama pemantau : Lina
Sesi : 1(09.00-10.00)
Nomor urut swab :1-3
Tempat : Halaman belakang Puskesmas
Ditunggu kehadirannya dan diharapkan tepat waktu karena APD yang digunakan petugas APD yang dipersiapkan hanya untuk swab dan sekali buang jadi jikalau tidak datang sangat disayangkan. Untuk pelaksanaan swab gratis tidak dipungut biaya

Wa ini harap diperlihatkan kepada petugas yang akan melakukan swab besok

Hatur nuhun
Puskesmas ...."

Pesan yang hampir serupa seperti pesan di tanggal 31 Juli 2021, terkirim di grup keluarga dari nomor WhatsApp Mama. Rupanya, kami harus ke puskesmas lagi. Tapi sebenarnya, Mimi pun sudah diberitahu mengenai hal ini. Karena ketika di-swab antigen beberapa hari lalu, seorang dokter yang men-swab Mimi berpesan bahwa jika hasil swab antigen kami negatif, harus ke puskesmas lagi untuk swab PCR lima hari yang akan datang. Dan tibalah hari itu. Hari ini.

Kurang lebih, jam sembilan kurang lima belas menit.

Sebelumnya, aku dan Mimi sudah bersepakat bahwa kami akan bertemu di puskesmas. Karena hari itu, Mimi sudah buka kios di pasar. Sedangkan Teteh kerja dari rumah dan tidak bisa ditinggal dalam waktu yang lama. Jadi, aku pergi sendiri ke puskesmas dari rumah, dan Mimi pergi ke puskesmas dari pasar.

Tapi, ternyata kami sudah lebih dulu bertemu di pertengahan jalan. Sayangnya, Mimi naik ojek. Sedangkan aku jalan kaki. Jadi tetap saja. Mimi yang lebih dulu tiba di puskesmas.

Sampai di puskesmas, aku menulis absen tiga orang sekaligus. Aku, Mimi, dan Teteh. Di kertas absen itu, ada kolom nama, NIK, tanggal lahir, jenis kelamin, nomor telepon dan tanda tangan. Dan untungnya, ada foto KK di ponsel. Jadi aku bisa menulis NIK Teteh dan aku dari foto KK tersebut.

Setelah mengisi absen, aku dan Mimi dipersilakan duduk menunggu di kursi halaman depan puskesmas oleh petugas. Sembari sesekali bermain ponsel atau menghubungi Teteh yang masih di rumah.

“Ibu, tiga orang?” tanya seorang petugas puskesmas yang sedang memegangi absen pada Mimi, tak lama kemudian.

“Iya. Ini sama anak. Terus satu laginya masih di rumah.”

“Silakan ke halaman belakang dulu, Ibu.”

“Iya, Pak.”

Kami berjalan menuju halaman belakang. Mimi langsung duduk di kursi yang sudah tersedia, sedangkan aku mencuci tangan terlebih dulu, baru kemudian duduk tak jauh dari Mimi.

Selang beberapa menit, beberapa petugas pun keluar dari ruangannya. Lalu segera melaksanakan swab setelah memberikan pengarahan yang hampir serupa seperti pertama kali kami swab sebelumnya. Sedangkan Teteh, datang tepat ketika absen pertama dipanggil setelah Mimi mengabari bahwa swab akan segera dimulai.

“Habibah,” panggil salah seorang dokter. Tanpa ba-bi-bu, aku pun beranjak dari kursi menuju salah satu kursi plastik yang tersedia untuk swab. “PCR, ya.”

“Iya.”

Dokter yang akan men-swabku menerima dua alat untuk swab PCR dari rekannya. Kemudian membuka salah satunya dan mulai beraksi. Awalnya, aku membuka masker dan langsung mendongakkan kepala. Tapi ternyata salah.

“Buka mulutnya.”

“Oh.” Aku sedikit tertawa, lalu membuka mulut.

“Lidahnya keluarin.”

Aku menjulurkan lidah. Lalu dokter itu hendak memasukkan alat swab yang dipegangnya. Tapi tidak jadi.

“Lidahnya dikeluarin. Kayak melet gitu.”

Kedengarannya, dokter perempuan yang men-swabku itu masih muda. Sekitar umur 25-35-an. Tapi jelas aku tidak berbicara itu.

“Melet coba melet.”

Aku menarik napas dulu. Kemudian mencoba mendongakkan kepala, membuka mulut sambil menjulurkan lidah.

“Keluarin lidahnya. Tadi lidahnya malah ke dalem lagi.”

Aku terus mencoba menjulurkan lidah. Sampai-sampai Teteh saja memperhatikan aku yang tidak kunjung jadi diambil sampelnya dari tenggorokan.

“Keluarin lidahnya, Dek.”

Berkali-kali dicoba, akhirnya pengambilan sampel dari tenggorokan pun berhasil. Entah gimana caranya. Haha. Lalu, dokter itu mengambil sampel dari lubang hidung kananku. Yang ini, gak terlalu susah sih. Cuma geli aja. Hehe.

Setelah aku, Teteh, dan Mimi selesai di-swab, kami pun segera pulang. Tapi, Teteh pulang menaiki sepeda motornya yang sudah dikendarai ketika pergi ke puskesmas sebelumnya. Sedangkan aku dan Mimi berjalan kaki. Itu pun, akhirnya kami berpencar sih. Aku pulang ke rumah, sedangkan Mimi pergi ke pasar lagi untuk menjaga kios yang sebelumnya ditinggal. Walau sebenarnya, aku ditawari Teteh untuk menaiki sepeda motor bersamanya. Tapi entahlah. Kedua kaki ini sedang ingin berjalan. Lagi pula, pegal juga kalau kaki tidak diajak jalan selama berhari-hari.

=

Minggu, 8 Agustus 2021.

“Mi, masa gera aku kata tetangga positif?” tanya Teteh sambil berjalan menghampiri Mimi yang sedang memasak di dapur.

“Hah?”

=

Jadi akhirnya, Teteh positif dan harus isolasi mandiri meski tidak ada gejala apa pun.


Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: