07 March 2021

Di Alun-Alun

Suatu hari di bulan Agustus 2020.

Aku menggeser tirai jendela berwarna hijau ke arah kanan di ruang tamu rumahku. Pagi ini, keliatannya sejuk. Aku jalan-jalan pagi aja kali ya sekarang, batinku dalam hati sembari memperhatikan cuaca pagi hari di balik kaca jendela. Hm.. iya, ah.

Kemudian, aku berjalan menuju dapur. Mencari keberadaan Mimi untuk minta izin.

"Mi, aku mau keluar ya?"

"Keluar ke mana?"

"Alun-alun, paling juga."

"Oh... Sok aja."

"Mau ke mana, Bib?" Mama yang saat itu melewati dapur, ikut bertanya.

"Alun-alun."

"Jalan-jalan?"

"Iya."

"Sok atuh. Nanti abis dari alun-alun, ke pasar ya. Bantuin Mama beberes (menyiapkan dagangan)."

"Iya."

Setelah mengantongi izin dari Mama dan Mimi, aku segera bersiap mengenakan sweater hijau, kerudung instan hitam, beserta masker kain corak berwarna merah-putih sebelum keluar rumah.

"Mi, Ma, aku keluar ya."

"Bawa kunci, Bib."

"Oh iya." Aku mencari keberadaan sebuah kunci duplikat rumah yang biasa aku pegang. "Udah ada Mi kuncinya. Aku bawa hp juga deh."

"Iya, Bib. Kade di jalan (hati-hati di jalan). Terus nanti langsung ke pasar ya."

"Iya, Mi. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Aku membuka pintu masuk rumah. Kemudian memakaikan sepasang sandal capit pada kedua kakiku. Menutup pintu, membuka pagar, keluar pagar dan menutupnya kembali. Lalu, barulah aku berjalan menyusuri beberapa gang menuju alun-alun.

-

Tidak sampai 15 menit, aku sudah berada di alun-alun dan menaiki tangga panggungnya. Melakukan beberapa gerakan pemanasan disana yang aku tiru dari sebuah video di youtube. Setelah dirasa cukup, aku kembali menuruni tangga dan mulai berjalan mengikuti jalur khusus pelari dan pejalan kaki yang membentuk oval jika dilihat dari langit.

-

Putaran pertama selesai. Sambil terus berjalan, aku membuka ponsel untuk mengecek berapa lama waktu yang dibutuhkan untukku mengitari alun-alun dengan berjalan melalui aplikasi stop watch.

Baru dua menit.

Aku kembali mengitari alun-alun dengan berjalan kaki. Mengulangi hal yang sama setelah putaran kedua. Mengitari alun-alun untuk putaran ketiga. Dan mengecek stop watch lagi setelahnya.

"Udah tiga kali puteran. Mending jalan lagi atau lari ya?" Aku berhenti sesaat setelah mengecek stop watch. Kemudian menyimpan ponsel di saku celana. "Lari deh."

Dalam waktu kurang dari lima menit, aku sudah berlari mengitari alun-alun hingga dua kali. Namun di putaran ketiga, entah kenapa aku merasa begitu capek dan ingin segera menyudahi langkah lariku. Tapi, aku berusaha menguatkan diri hingga kembali ke tempat awal aku mulai berlari.

"Uh... Capek banget."

Aku langsung terduduk lemas di anak tangga kedua terbawah setelah berlari. Membuka ponsel dari saku celana kemudian membuka aplikasi youtube untuk mencari video gerakan pendinginan. Dan beberapa menit kemudian, aku sudah kembali terduduk setelah melakukan gerakan pendinginan seperti yang aku temukan. Namun, rasanya badan ini masih saja lemas. Penglihatanku pun buram. Sama sekali tak jelas melihat apa yang ada di sekitar. Untuk berdiri pun, sama sekali tak mampu. 

"Duh… kok lemes banget, ya? Tidur aja dulu gitu?" Aku bergumam sendiri tanpa terdengar oleh seorang pun di sekitar. Hingga akhirnya, aku benar-benar tertidur dalam posisi duduk dan menindihkan kepala di atas kedua tangan yang terlipat di anak tangga ketiga terbawah. 

"Bu, kenapa, Bu?"

Aku membuka mata sejenak setelah mendengar suara seorang bapak-bapak yang tidak kukenal. Sepertinya petugas kecamatan. Terlihat dari pakaiannya yang memakai seragam dinas seperti yang biasa dipakai oleh orang-orang kecamatan. Beliau berdiri cukup jauh dariku. Mungkin berjarak satu meter. Seperti yang dianjurkan oleh pemerintah untuk menjaga jarak sejauh satu meter pula. Atau mungkin, mewanti-wanti barangkali aku terinfeksi virus...? Hm... Na'udzubillahi min dzalik.

"Gak papa, Pak. Kecapean aja abis olahraga." Aku melambaikan tangan pelan tanpa mengubah posisi tidur. 

"Oh.. Ya mangga atuh dilanjutin lagi tidurnya, ya. Istirahat dulu aja."

"Iya, Pak. Makasih."

Aku terlelap kembali setelah bapak itu pergi menjauh. Membiarkan diri ini istirahat hingga aku benar-benar siap untuk melangkahkan kaki pulang ke rumah.

-

"Neng, udah mendingan?" Seorang bapak berbaju dinas yang berbeda dari sebelumnya bertanya padaku. Beliau berdiri cukup dekat dari tempatku duduk dan tidur. Dan datang tepat ketika aku baru saja 'benar-benar' membuka kedua mata.

"Udah, Pak."

"Rumahnya dimana?"

"Di Cigending."

"Mau dianterin gak pulangnya? Atau naik ojeg?"

"Gak usah, Pak. Makasih."

"Kuat jalannya?"

"Insya Allah kuat kok, Pak."

"Ya udah kalau gitu. Hati-hati pulangnya ya, Neng."

Bapak itu pergi menjauh. Sedangkan aku terdiam beberapa saat untuk memastikan bahwa aku benar-benar siap untuk berjalan lagi. Sambil mengecek keberadaan ponsel yang sebelumnya kusimpan di saku sweater dan menengok waktu saat ini.

"Alhamdulillah masih ada. Jam berapa ya sekarang?"

Waktu di layar ponselku menunjukkan pukul 07.30. Itu artinya, tadi aku sudah tertidur lebih dari setengah jam. Aku berangkat dari rumah saja sekitar pukul enam pagi. Dikurangi jalan ke alun-alun, gerakan pemanasan, juga berjalan dan berlari mengitari alun-alun hingga enam kali.

Tapi, tadi pagi kan aku udah bilang kalau aku mau ke pasar. Jadi, mending ke pasar atau langsung pulang ke rumah ya?, tanyaku pada diri sendiri begitu ingat mengenai Mama yang menyuruhku ke pasar. Udahlah. Langsung ke pasar aja. Kalau nanti aku cerita juga pasti ngerti.

Setelah memastikan bahwa aku sudah baik-baik saja, aku pun mulai berjalan pulang ke rumah. Jalan seperti yang aku lewati sebelumnya. Untuk menghindar dari banyaknya kendaraan di jalan raya.

"Astaghfirullah. Kok bisa-bisanya sih aku sampe tidur segala di alun-alun? Terus kenapa tadi tiba-tiba capek banget pas abis lari? Padahal biasanya juga nggak gitu." Aku bicara pada diri sendiri sepanjang perjalanan. "Mana sekarang lagi musim covid lagi. Waktu itu, alun-alun ditutup gara-gara katanya ada orang yang pisan. Walaupun, sebenarnya karena orang itu minum minuman soda sih. Terus, kalau besok tiba-tiba alun-alun ditutup lagi gara-gara aku tidur disana gimana? Emangnya aku disangka covid apa?"

Aku membuka ponsel ketika melewati jalan gang yang hanya cukup dilewati sepeda motor. Membuka aplikasi pencarian dan mengetikkan kalimat 'penyebab pusing, sesak dan mata berkunang-kunang setelah berlari' di kolom paling atas. Hasilnya, ya paling mentok suruh periksa ke dokter jantung. Ah... Tidak. Tidak perlu.

"Assalamu'alaikum." Aku membuka pintu rumah dan langsung memasukinya. "Mi?"

"Bib? Udah pulang?" Suara Mimi terdengar dari arah dapur.

"Udah, Mi." Aku berjalan ke tempat Mimi berada.

"Kenapa gak ke pasar dulu? Kan tadi kata Mama suruh ke pasar."

"Hehe. Iya, Mi. Tapi da tadi juga gak ada chat dari Mama-nya."

Aku mengeles. Tapi memang, tidak ada chat dari Mama untuk menyuruhku lagi ke pasar. Aku cerita gak ya tadi aku tidur di alun-alun?

"Bisi nanti Mama nanyain."

"Asik cimol." Mataku tertuju pada cimol matang yang ada pada sebuah tempat nasi. Kemudian membawanya ke ruang TV dan menyantapnya seorang diri sambil menonton TV.

Hm... Kok bisa ya tadi aku sampai tidur disana? Tapi, emang sebelum keluar, aku juga belum minum air setetes pun sih. Ngaruh kali ya? Berarti lain kali aku harus minum dulu sebelum keluar rumah. 

Terus... Eh, aku ingat sesuatu. Aku pernah nulis tentang alun-alun ditutup itu di Kompasiana. Aku juga nulis tentang Ashraf yang meninggal dunia  karena serangan jantung mendadak. Aah. Apa sih ini? Karma? Atau semacam apa?. Pikiranku menerawang kemana-mana sambil terus memakan cimol.

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: