23 May 2021

Idul Fitri 1442 H


Sudah lebih dari seminggu, kita melewati hari raya idul fitri 1442 H. Tepatnya, pada tanggal 13 Mei 2021 M.

Tapi, tampaknya lebaran kali ini tak jauh berbeda dengan lebaran idul fitri 1441 H di tahun kemarin. Masih, di masa pandemi. Dan lagi, tak ada acara mudik ke kampung halaman seperti tahun-tahun sebelum tahun 2020. Karena selain memang dilarang pemerintah, keluargaku juga cukup menjaga. Masih agak khawatir  untuk keluar kota. Ya meskipun, ke depannya ada rencana buat mudik sih. Itu pun paling hanya keluarga kecilku. Tapi gak tahu tuh, jadi atau nggak. Setidaknya, nggak di waktu yang dilarang pemerintah, kan? Lagi pula, waktu arus balik juga sepertinya sudah selesai. Jadi, penumpang mobil atau kereta pun kayaknya gak akan terlalu penuh. Ya, aku harap sih gitu. Hehe. Bismillah.

Baca juga : Kurir Bernama Firmansyah

Selain tentang mudik, tentunya gak lengkap dong kalau idul fitri tanpa bahas salatnya. Ya, sebenarnya sih salatnya seperti biasa. Tapi ada yang agak berbeda di tahun ini.

Tahun ini, aku salat idul fitri di masjid dekat rumah. Di lantai dua tepatnya. Karena di lantai satu, khusus untuk jemaah lelaki. Dan dari lantai dua, aku bisa melihat jemaah lelaki karena memperoleh tempat di samping pagar besi biru bermotif yang terpasang di sekitar mimbar dengan bentuk persegi panjang. Suara khotib dan imam pun, terdengar dengan jelas. Di mana imam yang memimpin salat adalah A Imam, suami sepupuku sendiri. Sedangkan  yang menjadi khotib adalah Pak Aceng, guru bahasa Inggrisku di waktu SD dulu. Inilah yang berbeda. Karena, baru kali ini aku mengetahui salah satu anggota keluarga memimpin salat idul fitri di masjid ini. Meski, tidak ada hubungan darah. Hehe.

Eits. Ada yang lebih penting lagi dari itu.

Karena di masjid dekat rumah ini, benar-benar menerapkan protokol kesehatan dengan baik di hari raya idul fitri. Memakai masker, menggunakan hand sanitizer dan jaga jarak. Bahkan, jemaah yang tidak memakai masker dari rumah pun, dibagikan masker medis secara gratis sebelum masuk masjid. Di mana pembagian masker medis tersebut dilakukan oleh beberapa orang yang tentu sudah ditugaskan untuk stand by di gang-gang menuju masjid dengan hand sanitizer dan beberapa lembar masker medis di kedua tangannya. Jadi, setiap ada jemaah yang lewat menuju masjid, akan diminta untuk menyodorkan telapak tangannya agar disemprotkan hand sanitizer. Tak lupa, diberikan masker jika jemaah tersebut tidak membawa dan memakai masker.

Namun, masih ada kendala nih untuk jaga jarak di saf perempuan. Karena saking banyaknya jemaah perempuan dan tempat yang terbatas, jadi tidak bisa menerapkan jaga jarak dengan baik. Semuanya saling berimpitan sesuai besar sajadah masing-masing. Tapi, ada juga sih yang terpaksa menumpuk sajadah dengan jemaah lain. Mungkin masih keluarga. Biar berbagi tempat. Kayak aku, Nisa, dan Teh Empit. Soalnya, sajadah kami lebar-lebar. Hihi.

Selesai khotbah, jemaah membubarkan diri dari masjid. Beberapa di antaranya, ada yang bersalam-salaman dulu. Meski sebelum salat, sudah ada himbauan untuk tidak bersalam-salaman setelah khotbah selesai. Sedangkan kami sendiri, hanya bersalaman dengan anggota keluarga yang kebetulan bertemu. Selebihnya, hanya kurang dari lima orang tetangga. 

Tiba di rumah, kami bersalaman dengan orang tua tentunya. Ya seperti itulah. Lalu, bersiap-siap untuk pergi ke rumah saudara yang ditinggali Nenek.

Singkat cerita, kami pun pergi ke rumah Nenek. Tapi sebelum itu, kami menyempatkan diri untuk bersilaturahim ke beberapa rumah tetangga. Tangan dengan tangan seperti biasalah. Meski setelahnya, kami memakai hand sanitizer yang sudah dibawa Teteh dari rumah tanpa diketahui tetangga yang sudah bersalaman dengan kami. Untuk jaga-jaga saja.

Tak sampai duapuluh menit, kami tiba di rumah Nenek. Kemudian bersalam-salaman, makan, ngemil, sampai bagi-bagi THR. Tak lupa, pakai acara ngobrol juga ya. Masa sudah kumpul keluarga, tapi tak ada sepatah kata pun yang terucap? Hihi.

Sayangnya, kami baru bisa berkumpul dan bersilaturahim dengan keluarga pihak ayah yang tinggal di Bandung saja. Sedangkan keluarga dari pihak ibu, tinggal di Cirebon dan belum bisa bertemu lagi sejak lebaran tahun lalu. Itulah sebabnya ada rasa ingin mudik, hihi. Ya, sekalian keluar kotalah sekali-kali. Soalnya, setahun penuh ini aku terus-menerus di Bandung. Tanpa ada keluar kota sama sekali. Bosan tidak coba? Bosanlah, masa enggak.

Akhir kata, aku memohon maaf sebesar-besarnya kepada semua pembaca. Baik itu orang lain, keluarga, teman, temannya teman, atau siapa pun. Mohon maaf lahir dan batin ya. 

Selamat hari raya idul fitri. Meski sudah terlewat beberapa hari.

Terima kasih.

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: