05 September 2021

Divaksin Dosis Pertama!

Sejak pertama adanya vaksin diumumkan di Indonesia, ada rasa senang sekaligus bingung yang menghampiri pikiranku. Senang, karena sudah ada pencegah dari tertularnya covid 19. Bingung, karena aku tidak ingin disuntik. Sedangkan vaksin sendiri hanya dapat dimasukkan ke dalam tubuh manusia melalui suntikan. Oke, jadi singkatnya, "Aku bukan khawatir sama vaksinnya. Tapi takut disuntiknya."

Namun di awal hadirnya vaksin di Indonesia, pemerintah mengumumkan bahwa kalangan yang diprioritaskan untuk divaksin adalah para dokter atau tenaga medis di rumah sakit. Dari situ, aku berpikiran bahwa mungkin aku akan divaksin belakangan. Mungkin di bulan ke sekian. Atau mungkin tahun depan. Yang jelas, tidak dalam waktu dekat setelah vaksin sinovac pertama kali disuntikkan kepada Bapak Presiden Joko Widodo sebagai warga Indonesia pertama yang menerima vaksin pada tanggal 13 Januari 2021. Disusul para staf menteri dan beberapa perwakilan dari berbagai kalangan di hari yang sama. Di antaranya dari kalangan influencer yang diwakili oleh Raffi Ahmad, kalangan pedagang, tukang becak dan kalangan lainnya.

Ya, aku kira begitu.

Tapi ternyata aku salah.

Karena di tanggal 6 Agustus 2021, lingkungan tempat tinggalku sudah mulai mengadakan kegiatan vaksin untuk seluruh warga. Bukan untuk warga lanjut usia atau warga tertentu saja. Tapi benar-benar untuk semuanya, yang berusia 12 tahun ke atas. Bahkan, sebenarnya sebelum itu pun sudah. Dan saat itu pula, aku disuruh untuk mengikuti vaksinasi tersebut oleh Teteh. Tapi aku menolaknya dengan alasan dari Mimi bahwa Mimi takut aku ditanya oleh petugas puskesmas seperti ini, "Kan baru diswab PCR kemarin. Kenapa sekarang vaksin?" (kurang lebih seperti itu). Meski pada hari itu, Teteh bersikeras bahwa vaksinasi diperbolehkan meski orang yang divaksin baru saja diswab PCR sebelumnya. Karena itu sama sekali tidak berpengaruh pada proses vaksinasi. Jadi ya, aku gak jadi ikut vaksinasi di hari itu.

Tapi sebenarnya, bukan alasan Mimi saja yang aku jadikan alasan untuk tidak mengikuti vaksinasi di hari tersebut. Melainkan ada alasan sendiri dariku. Yang pertama, aku ingin vaksinasi tapi ditemani Mimi. Kenapa? Karena aku takut kalau misalnya pas sehabis disuntik, aku tiba-tiba lemas, nangis atau bahkan pingsan. Kan, malu-maluin. Karena ketika aku disuntik di kelas 2 atau 3 SD saja, aku sampai menangis setelah pulang dari sekolahnya. Meski pas disuntiknya sih, memang gak nangis. Hehe.

Alasan kedua, yaitu karena takut digunjingin tetangga. Ya, saat itu kan, Mama lagi positif covid. Jadi takutnya ada tetangga yang tahu kalau Mama positif, terus omongin aku di belakang. Misalnya, kenapa aku keluar rumah? Kan bapaknya lagi positif? Duh, su'udzon. Padahal belum tentu begitu, ya?

Tapi, aku rasa aku telah mengambil keputusan yang tepat untuk tidak vaksinasi di hari itu. Karena beberapa hari setelahnya, Teteh justru dinyatakan positif covid 19. Ya setidaknya, dapat mengurangi risiko gunjingan dari tetangga. Hehe.

Selanjutnya di tanggal 2 September 2021, Mimi mengatakan bahwa lingkungan tempat tinggalku akan mengadakan kegiatan vaksinasi di hari esoknya. Dan Mimi menyuruh aku untuk mengikutinya. Dan, deg-degan deh. Antara mau dan gak mau. Mau karena bisa jadi pencegah, gak mau karena harus disuntik. Hadeuh.

Lalu tibalah tanggal 3 September 2021. Dari jadwalnya yang aku tahu di grup RT sih, kegiatan vaksinasi dimulai dari jam 8 - 10 pagi untuk warga yang vaksinasi dosis kedua. Sedangkan untuk warga yang vaksinasi dosis pertama, dimulai dari jam 10 - 11 pagi.

Hari itu, aku beraktivitas seperti biasanya. Cuma ya, ada takut-takut gitulah. Tapi, agak dilama-lamain. Main ponsel dululah. Baca buku, makan nasi, makan cireng, nonton TV. Padahal, sama sekali belum cuci piring dan mandi. Haha. Sampai akhirnya, aku baru selesai cuci piring sekitar jam setengah 10 lebih. Lalu karena ingat mau divaksin dan sudah sepakat sama Mimi kalau mau pergi ke tempat vaksinasi jam setengah sepuluh, aku mandi deh. Haha. Sebenarnya sudah telat dari waktu yang disepakati ya. Tapi ya sudahlah, mandi dulu. Orang habis basah-basahan cuci piring, masa gak langsung mandi? Wkwk.

Nah, ketika masih mandi, Mimi datang ke rumah. Terus negur aku karena masih belum siap-siap juga.

"Ai Bibah mau divaksin enggak?"

"Iya mau."

Untungnya, saat itu aku sudah beres mandi. Hanya saja, belum gosok gigi. Haha. Ya sudahlah. Akhirnya aku berangkat ke tempat vaksinasi tanpa menggosok gigi bersama Mimi dengan membawa beberapa lembar fotokopi KTP.

Sampai di sana, ternyata antreannya sangat panjang. Dan singkat cerita, aku mendapat nomor antrian 175. Lalu, tinggal menunggu giliran dipanggil deh.

"Seratus tujuh puluh lima," panggil seorang petugas.

Mendengar panggilan tersebut, aku pun langsung bangkit dari duduk dan berjalan sangat dekat ke petugas pertama. Kenapa sangat dekat? Karena aku duduk di kursi paling depan. Hehe.

Oleh petugas tersebut, aku diminta menyerahkan kertas nomor antrian dan selembar fotokopian KTP. Kemudian, beliau memintaku untuk menulis nama, asal RT, nomor telepon, dan tanda tangan di atas selembar kertas absensi. Setelahnya, aku langsung ditensi. Sedangkan beliau mempersiapkan berkas yang diperlukan.

"Tunggu dulu di situ, ya." Petugas tersebut  menunjukkan barisan kursi yang berada di seberang meja petugas pertama. Kemudian, aku pun berjalan ke barisan kursi yang ditunjuk tersebut.

"Habibah." Tak lama kemudian, namaku dipanggil oleh petugas lainnya. Beliau menyerahkan kertas nomor antrian, fotokopi KTP, dan kertas A4 yang sudah tertulis data-data tentangku yang diapit penjepit kertas kecil. Setelah itu, aku kembali duduk di kursi yang sama seperti sebelumnya.

"Bibah, mau ditemenin gak?" 

Dari jauh, Mimi terlihat berdiri dan bertanya di dekat kursi tunggu bagi orang-orang yang belum dipanggil urutan nomor antreannya. Lalu, Mimi langsung menghampiriku. Tapi setelahnya, seorang petugas lain lagi mempersilakan aku untuk menghampiri mejanya. Mimi pun ikut menemani. Oleh petugas tersebut, aku ditanyai mengenai riwayat penyakit. Apakah pernah mengidap autoimun? Asma? Positif covid? Lalu apakah ada obat rutin yang diminum? Dan lain sebagainya. Alhamdulillah-nya, semua pertanyaan itu terjawab dengan kata yang sama, 'Tidak'.

Dari petugas tersebut, aku langsung dipersilakan ke bagian vaksinasi. Ditemani Mimi juga. Ya, waktunya disuntik deh.

"Bismillah dulu, Bib," pesan Mimi padaku.

Saat itu, Mimi bicara pada vaksinator bahwa aku takut disuntik. Jadi Mimi meminta izin untuk ikut menemani ketika aku disuntik. Ya, malu juga sih. Masa udah gede masih takut disuntik. Haha. Dan aku juga bilang terus terang ke Mimi kalau aku malu. Soalnya Mimi bilangnya cukup keras sih. Hehe.

"Vaksinnya sinovac, ya." Vaksinator tersebut memberitahu.

"Iya, Bu."

Pelan-pelan, aku pun disuntik dengan mengalihkan pandangan ke arah kanan.

"Udah."

Uh... Rasanya lega banget. Ternyata gak sakit sih. Haha. Dan sesudahnya, aku juga gak lemas, nangis, apalagi pingsan. Baik-baik aja gitu. Malah ketawa-ketawa dan ngobrol sama Mimi saat menunggu selama 15 menit setelah disuntik.  Terus pas pulangnya, aku minta uang ke Mimi buat beli es krim. Wkwk.

----------------------------------------------------

Setelah divaksin, bagian yang disuntik (lengan kiri) memang terasa pegal. Paling terasanya, kurang lebih selama dua hari pertama. Sekarang sih, tanggal 5 September 2021, udah gak terlalu terasa pegalnya. Selain itu, gak ada efek lainnya. Ya semoga, gak usah deh. Haha.

Kalau kamu gimana?


Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: