19 March 2024

Pemilu 2024: Tinta Ungu Pertama di Hidupku

 Telah sebulan berlalu, pesta demokrasi digelar serentak  di seluruh wilayah Indonesia. Dan nampaknya, hari ini, kita bisa lihat siapa orang selanjutnya yang akan memimpin negara Indonesia.

Tahun ini adalah pertama kalinya aku ikut terlibat dalam pemilihan presiden. Dan baru di tahun ini pula, aku jadi sering nonton konten politik mengenai ketiga cawapres yang terus-menerus kampanye sebelum Pemilu digelar.

Setelah semuanya berlalu, aku tersadar suatu hal. Bahwa tiktok tidak hanya berpengaruh pada dunia hiburan semata. Tapi juga berpengaruh di dunia politik untuk membangun citra para caleg maupun cawapres.

Sayangnya, tidak semua konten di tiktok itu benar-benar sebuah fakta. Apalagi soal politik. Beuh, banyak sekali propaganda yang muncul dan menyudutkan cawapres lain. Jika ada konten yang benar-benar sesuai fakta, kemungkinannya ada dua: mungkin, itu adalah akun milik media; atau pemilik akun itu yang benar-benar kritis.

Di masa politik, bukan sekali dua kali aku melihat konten yang menyudutkan cawapres lain. Bilang ada pengkhianatan kah, bilang ada yang dipecat dari menteri karena suatu kasuslah. Yang begitu-begitu, kalau penontonnya kurang melek politik, mungkin akan ikut terbawa arus dan ikut memojokkan cawapres lain. Dan sebagaimana yang kita tahu, tidak semua pengguna tiktok itu berasal dari kaum terpelajar. Ya minimal, lulus SMA gitu. Jadi ya, warga Tiktok cukup mudah untuk diambil perhatian dan emosinya.

Semua itu nampak jelas setelah hasil quick count usai pemilihan presiden ditampilkan di layar kaca. Terlihatlah siapa pasangan yang memenangkannya. Terlihatlah siapa yang paling "mencuri" perhatian warga Tiktok dengan buzzer-buzzernya.

Oh ya, jangan salah. Para buzzer itu jelas dibayar oleh suatu pihak agar menyebarkan konten mengenai cawapres yang didukungnya dan memuja-muji cawapres dalam kontennya.

Baca juga: Tiga Fakta Jarimatika

Padahal, masyarakat lain sadar betul bahwa ada yang tidak beres dengan Pemilu 2024 ini. Dari salah satu sumber, aku pernah membaca bahwa Pemilu 2024 adalah Pemilu Indonesia terburuk sepanjang masa. Sial!

Aku tak ingin berpihak pada kecurangan, yang membangun dinasti keluarga dalam suatu pemerintahan. Hei, ini bukan negara kerajaan seperti Brunei Darussalam. Ini adalah Republik, maka tak semestinya ada dinasti kelurga dalam pemerintahan ini.

Di lain sisi, masyarakat mengagumi cawapres lain yang dipandang bisa membawa perubahan di negara Indonesia. Visi misinya lebih realistis, dan membawa demokrasi ke level tinggi dengan adanya interaksi tanya jawab antara cawapres dengan masyarakat. Dan itulah yang dirindukan para anak muda sekarang.

Beribu-ribu orang mendukungnya, mendatangi tempat kampanyenya tanpa undangan khusus ataupun dibayar sekian rupiah. Ini ajaib, banyak orang yang mengampanyekannya dengan sukarela, bahkan dengan kekreatifan yang dimilikinya.

Namun, semua itu seolah tidak ada apa-apanya dibanding pihak yang mendukung pembentukan dinasti keluarga. Segala harapan perubahan dari masyarakat hancur seketika setelah hasil penghitungan pemilihan presiden diumumkan.

Tak hanya masa kampanye yang meresahkan, usai Pemilu pun nampaknya banyak kecurangan. Beratus-ratus anggota KPPS dibuat kecewa karena data yang tercantum di aplikasi penghitungan suara berbeda dengan data yang dihitung secara manual. Bahkan perbedaannya tidak berhenti di angka puluhan, tapi sampai angka ratusan. Anehnya, suara yang melambung hebat hanya ada di salah satu paslon. Seolah-olah, ada pihak yang sengaja memanipulasi agar paslon yang dimaksud bisa melenggang ke istana negara.

Yang lebih membuat kecewa, puluhan petugas KPPS juga gugur setelah menunaikan tugasnya untuk mengawal Pemilu. Gajinya yang dibilang cukup besar per harinya diimbangi dengan keharusan petugas KPPS untuk bekerja dari pagi hingga larut malam dalam beberapa hari usai Pemilu serentak dilaksanakan.

Begitulah warna-warni Pemilu di tahun pertama tinta unguku. Membuatku menyadari bahwa pemerintahan sekarang memang sekejam itu. Seolah-olah, yang bersih disingkirkan, yang kotor dipelihara.

Oh ya, aku ingat ucapan seorang atasan di kantor tempatku magang, kurang lebih seperti ini: kalian gak perlu bingung milih presiden sekarang, karena ujung-ujungnya yang jadi presiden itu adalah yang berpihak pada elite global.

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: