21 March 2021

Aturan UM-PTKIN

3 Agustus 2020.

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu. Hari pelaksanakan UM-PTKIN bagiku dan bagi sebagian pesertanya. Dan sekarang, aku pun sudah bersiap mengenakan kerudung segi empat putih polos beserta baju polos dengan warna senada. Ya, meskipun bukan bagian dari aturan UM-PTKIN sih. Karena di aturannya, hanya tertulis bahwa peserta harus mengenakan pakaian dengan atasan kemaja polos. Namun entah kenapa, otakku menerjemahkannya bahwa pakaian yang harus dikenakan harus putih polos. Haha. Aneh memang. Aku saja tertawa lepas saat aku baru menyadari aturan yang sebenarnya beberapa hari lalu. Tapi karena aku sudah membeli kerudung putih polosnya secara mendadak beberapa hari yang lalu juga, akhirnya aku mengenakan kerudung itu. Kemudian duduk bersila di atas kasur sembari memangku sebuah notebook berukuran 14 inch berwarna hitam. Menyiapkan beberapa dokumen UM-PTKIN disebelahku bersama ponsel android yang sudah terisi kuota internet. Agar koneksi internet semakin kencang dan tidak terputus-putus.

"Masih lima belas menit lagi. Iih... Deg-degan."

Aku memperhatikan waktu yang tertera pada layar monitor notebook. Kemudian membuka aplikasi chrome, mengetikkan kata sembarang, membaca artikel-artikel yang ditemui. Setelah waktu tersisa sepuluh menit lagi sebelum ujian benar-benar dimulai, barulah aku membuka aplikasi UM-PTKIN yang sudah diinstal sebelumnya.

Sekitar jam 12 siang.

Dari hitungan waktu yang ada pada aplikasi ujian, ternyata aku sudah mengerjakan soal-soal ini selama satu jam. Cukup sulit memang. Dan masih banyak juga materi yang belum kumengerti. Sekarang saja, lebih dari dua puluh soal yang belum diisi.

TUK! TUK! TUK! TUK!

Ponselku bergetar. Mengeluarkan bunyi nada dering monkey drum dari aplikasi WhatsApp. Ternyata ada panggilan masuk dari teh Empit.

Duh, teh Empit pake nelpon segala sih. Mana peraturan ujiannya gak boleh angkat telpon lagi. Nanti kan bisa keliatan dari kamera.

Aku menatap ponsel sekilas yang terus bergetar dan berdering. Bimbang. Mau angkat, tapi mungkin nanti keliatan sama pengawas. Karena meskipun ujian jarak jauh, perangkat yang digunakan untuk ujian harus memiliki kamera depan dan diaktifkan selama ujian. Jadi, apapun yang dilakukan peserta selama ujian di depan komputer/laptop/netbook/ponsel, bisa tetap dipantau oleh para pengawas yang jauh entah dimana. Mau itu lagi ngeluh karena soal yang susah, garuk-garuk hidung, benerin kerudung, sampai pura-pura berpose jelek. Tapi, aku masih kurang tau tuh tentang suaranya. Apakah suaranya bisa terdengar dari sana, atau tidak ya?

TOK! TOK! TOK! TOK!

Kali ini, suara pintu rumah yang terdengar digedor keras.

"Dek!! Buka!!" Lalu, teriakan suara teh Empit menyusul.

TING! TING! TING!

Ponselku bergetar lagi dengan nada dering yang lebih singkat. Tiga buah pesan singkat dari teh Empit.

De

Buka pintu

Aku gak bawa kunci 

Aku membaca pesan singkat itu sekilas. Kemudian menyimpan ponsel di sembarang tempat.

"Teh Empit mah pake gak bawa kunci segala sih. Biasanya juga bawa."

Terpaksa, aku mengisi soal-soal yang tersisa tanpa pikir-pikir lagi. Baca soal sekilas, lalu langsung menjawab dengan pilihan asal. Ya, mau bagaimana lagi. Karena aku memang mengunci pintu rumah bahkan sebelum berlangsungnya ujian. Dan pada aturan UM-PTKIN-nya, tertulis jika peserta tidak boleh keluar ruangan selama ujian. 

Selesai.

Aku segera log out dari aplikasi UM-PTKIN setelah menyatakan bahwa semua soal telah diisi dan mengklik tombol 'Selesai'. Kemudian turun dari kasur dan berjalan menuju ruang tamu membawa sebuah kunci duplikat rumah.

---

Baca juga :

Di Alun-Alun

Kenapa Suka Menulis?

---

"Oh, kamu teh lagi ujian?" tanya teh Empit sembari memasukkan sepeda motornya ke dalam rumah.

"Iya."

"Bukannya waktu itu udah?" Teh Empit bermaksud menanyakan ujian UM-PTKIN beberapa hari yang lalu.

"Waktu itu mah masih uji coba. Sekarang yang benerannya."

Aku kembali ke kamar. Memangku notebook di atas kaki yang bersila. Membuka chrome, kemudian mengetikkan kata-kata yang sebenarnya kurang penting di kolom pencarian. Tak lupa juga membuka kerudung, karena ujian telah selesai dan wajahku tidak lagi tersorot kamera notebook.

"Kok udah buka kerudung sih, De? Katanya lagi ujian?"

Teh Empit melewati kamarku yang pintunya terbuka cukup lebar.

"Aku mah udah selesai ujiannya."

Hm... Ya udah deh. Udah selesai. Tapi nyebelin juga sih. Tadi pake ada acara teh Empit ngetuk-ngetuk pintu segala dari luar. Gak bawa kunci lagi.

Untuk beberapa saat, aku masih terus membolak-balik halaman chrome yang dibuka. Hingga akhirnya, aku teringat sesuatu. 

Waktu itu, aku nulis di Kompasiana tentang UM-PTKIN daring alias online. Terus kalau gak salah... Oh iya! Aku nulis sebagai contoh, kalau salah satu gak enaknya UM-PTKIN daring itu adalah saat lagi ujian terus ada tamu atau anggota keluarga yang ketuk pintu! Iya gak sih? Tapi kan, itu cuma contoh. Sebenarnya itu belum terjadi. Karena yang aku maksud sebenarnya itu, aku lagi ujian di lantai atas, terus ada teh Empit ambil anduk di pagar tangga sambil ngajak ngobrol. Dan biar nulisnya lebih simpel, jadi aku nulisnya kalau ada tamu atau anggota keluarga yang ketuk pintu! Aaah... Kenapa bisa bener kejadian sih?

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: