11 February 2024

Inggit Garnasih, Calon Ibu Negara Indonesia
Foto Bu Inggit dalam Rumah Bersejarah

Selama ini, mungkin kamu telah mengenali sosok Fatmawati sebagai istri Insinyur Soekarno yang menjahit bendera merah putih. Namun tak banyak orang tahu, sebelum Fatmawati, masih ada perempuan lain yang tak kalah banyak berkontribusi dalam kemerdekaan Indonesia.

Ialah Inggit Garnasih, istri kedua Insinyur Soekarno. Yap, Fatmawati adalah istri ketiga dari Insinyur Soekarno setelah Oetari yang merupakan anak dari HOS Tjokroaminoto; dan Inggit Garnasih yang menyediakan tempat tinggal untuk Soekarno semasa kuliah.

Soekarno dan Inggit terpaut usia yang cukup jauh. Ketika Soekarno menikahi Inggit, dirinya masih berumur 22 tahun. Berbeda jauh dengan Inggit yang telah berumur 35 tahun saat itu. Karena faktor itu pula, dalam rumah tangganya, justru Inggitlah yang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar biaya kuliah Soekarno. Pekerjaan apapun ia lakukan, mulai dari membuat bedak, lulur, jamu, hingga kutang.

Selain mencari nafkah, Inggit juga tetap setia dan sering menjenguk ketika Soekarno dipenjara. Bahkan ia rela bolak-balik penjara untuk mengantarkan buku kepada Soekarno agar suaminya tidak tertinggal informasi. Benar-benar kesetiaan yang tulus dari wanita hebat dalam keadaan apapun.

Sayangnya, kisah cinta Soekarno dan Inggit mesti berakhir, kala Soekarno menemukan sosok Fatmawati di Ende dan jatuh cinta padanya. Ditambah lagi, Inggit belum bisa memberinya keturunan. Mereka pun bercerai setelah 20 tahun mengarungi pernikahan yang diwarnai perjuangan.

Namun, setelah bercerai dan suaminya menikahi wanita lain, Inggit justru tidak menyimpan dendam. Ia masih menerima istri-istri baru Soekarno sebagai tamu di rumahnya dan memberi wejangan/nasihat kepada mereka dalam menjalin rumah tangga bersama Soekarno. Sungguh, betapa tulusnya hatimu, Bu.

Setidaknya, itulah ringkasan cerita yang aku tangkap setelah mengunjungi Rumah Bersejarah Inggit Garnasih di Jalan Ibu Inggit Garnasih No. 8, Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung.

Meski dikatakan sebagai rumah bersejarah, rumah tersebut tidak lagi seperti rumah zaman dulu karena telah dilakukan perbaikan. Selain itu, tidak ada perabotan rumah tangga apa pun di dalamnya. Tetapi kita bisa menemukan kisah Ibu Inggit di setiap sudut ruangannya, tepatnya di papan yang dipasang pada dinding rumah.

Dari sudut ke sudut, kita disuguhkan cerita Ibu Inggit yang menakjubkan sekaligus menyentuh hati. Dalam rumah itu pula, terdapat replika batu pipisan yang digunakan untuk membuat bedak dan jamu pada zaman dulu.

Di sini, aku termenung. Mengapa sosok setulus Ibu Inggit, justru jarang dilirik dalam sejarah? Mengapa seolah, hanya Fatmawati, yang berjasa besar dalam hidup Soekarno?

Jika saja, pada tahun 1943, Inggit dan Soekarno tidak bercerai, mungkin ialah yang menjadi ibu negara dan dibanggakan lebih banyak warga Indonesia. Tapi ya, kenyataan berkata lain. Kita tak bisa menyanggah hal itu.

Selain Oetari, Inggit, dan Fatmawati, sebenarnya masih ada beberapa perempuan lagi yang dinikahi Soekarno. Siapa saja persisnya, aku pun kurang tau. Tapi di sini aku sadar, bahwa aku cukup mengagumi Soekarno sebagai sosok pahlawan kemerdekaan Indonesia, bukan sebagai lelaki yang mudah menikahi wanita.

Rumah Bersejarah Inggit Garnasih

04 February 2024

Museum Gedung Sate, Wisata Sejarah di Kota Kembang

Tanpa direncanakan, beberapa temanku tiba-tiba mengajak jalan-jalan di suatu hari. Setelah berpikir berulang kali tempat apa yang akan dikunjungi, kami pun memilih Museum Gedung Sate sebagai tujuan jalan-jalan di hari itu.

Namun setibanya di Gedung Sate, kami dipusingkan dengan keberadaan tempat parkir motor dan pintu masuk menuju Museum Gedung Sate. Ternyata, tempat parkir motor terpisah dengan pintu masuk. Kami harus berjalan kaki sampai tiba di gerbang selanjutnya untuk menuju Museum Gedung Sate.

Setelah memasuki gerbang, ternyata kami masih juga dibingungkan dengan keberadaan museum Gedung Sate. Setelah berjalan-jalan di sekitar Gedung Sate dan bertanya pada beberapa petugas, ditemukan jugalah museum Gedung Sate yang kami cari.

Rupanya, museum Gedung Sate berada di sisi kanan kantor utama Gedung Sate. Jika kamu juga ingin berkunjung ke sana, kamu tinggal cari tempat yang di sana terdapat kursi-kursi ala kafe dengan payung di atasnya, dan ada tulisan Gesa Cafe di sekitar tempat tersebut. Jika tempat tersebut sudah ditemukan, kamu juga akan menemukan pintu masuk museum Gedung Sate.

Pintu masuk sudah ditemukan, maka kita tinggal memasuki museumnya dan membeli tiket di resepsionis. Untuk mengelilingi Museum Gedung Sate ini, kita hanya perlu membeli tiketnya dengan harga Rp5000 saja. Tapi perlu diingat, kita hanya bisa memasuki museum ini di hari Selasa-Minggu pada pukul 09.30-16.00. Meski begitu, sebaiknya hindari mengunjungi museum di pukul 12 sampai jam 1 siang, ya. Karena waktu tersebut merupakan waktu istirahat.

Jika tiket sudah dibeli, kita sudah bisa mengelilingi Museum Gedung Sate sepuasnya. Di dalamnya, tercatat sejarah Gedung Sate yang disusun dengan begitu apik dan rapi pada dinding di sekeliling ruangan. Dan jika bicara sejarah, tentu tidak terlepas dengan para tokoh yang ikut membangun dan mempertahankan Gedung Sate. Namun jika ingin beralih dari tulisan sejarah, kamu bisa memperhatikan beberapa miniatur Gedung Sate yang dipajang dengan lapisan kaca di sekitar ruangan.

Tak hanya menawarkan penyajian sejarah melalui tulisan, gambar, dan miniatur, pengunjung juga bisa menyaksikan film berdurasi kurang dari 10 menit mengenai sejarah Gedung Sate beserta 7 tokoh pahlawan Gedung Sate. Namun, aku tidak tahu apakah pemutaran film tersebut dilakukan di waktu-waktu tertentu saja atau dalam kurun waktu sekian jam sekali saja. Tapi jika boleh berbagi, saat aku dan teman-teman berkunjung ke sana, film diputar sekitar pukul 13.25 WIB. Dan ketika film diputar pun, ruang studio tidak harus dipenuhi pengunjung terlebih dulu. Jadi kita tidak akan lama menunggu.

Beralih dari film, kita akan menemukan lorong yang lebih gelap setelah keluar dari ruang pemutaran film. Namun, lorong tersebut tidak benar-benar gelap. Karena terdapat cahaya dari bawah lantainya yang berupa animasi bergerak dengan warna yang berganti-ganti. Tapi, bukan animasi orang-orangan kayak Upin dan Ipin atau Boboiboy, ya. Hehe.

Masih di sekitar lorong, kita akan menemukan pintu ruang visual. Di ruang visual ini, ada semacam layar LED yang menunjukkan seolah-olah di ruangan tersebut terdapat beberapa orang yang bekerja. Dan jika kita bergabung di sana, maka kita akan tampak juga seolah-olah kita memang sedang bersama orang-orang bekerja. Padahal, orang yang bekerja itu ya hanya animasi. Dan agar terlihat seperti zaman dulu, tampilan layar LED tersebut hanya menyajikan warna hitam, putih, dan cokelat.

Kalau sudah puas di ruang visual dan keluar dari lorong gelap, selanjutnya kita akan disambut lukisan-lukisan keren karya warga Bandung di lorong yang lebih terang. Lukisan-lukisan tersebut tersaji di atas kanvas sepanjang lorong. Mulai dari lukisan Gedung Sate sampai kesenian khas Jawa Barat, tersaji di lorong ini.

Buat kamu yang masih bingung di weekend ini mau ke mana, Gedung Sate bisa jadi tujuan yang pas untukmu menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga. Selain karena lokasinya yang strategis dan cukup dikenal, harga tiketnya pun masih di bawah harga seporsi seblak yang biasa kamu makan. Hayo ngaku??

Jadi, yuk berwisata sambil menyelami sejarah Gedung Sate di Museum Gedung Sate!


12 March 2023

Crisbar Space, Tempat Ngopi Murah di Ujungberung

Mencari tempat nongkrong yang murah dan asik barangkali jadi suatu pertimbangan bagi sebagian orang sebelum benar-benar mengunjunginya. Selain itu, akses jalan yang mudah dilewati juga jadi salah satu poin penting ketika pertama kali mengunjungi tempat tersebut.

Di Bandung Timur, khususnya Ujungberung, tentu banyak tempat yang sering dijadikan tempat ngopi baik bersama teman-teman atau sendirian untuk sekadar me time. Salah satunya adalah Crisbar Space-yang juga disebut Kopi Pabrik Sukahati-, yang letaknya tepat berada di sisi jalan, tak jauh dari Ubertos.
Ketika mengunjunginya, kamu akan melihat plang berwarna putih yang disertai tulisan CRISBAR SPACE berwarna kuning. Kemudian masuk, dan kamu akan menjumpai tempat parkir motor. Setelah itu, barulah akan ditemui bagian kasir untuk memesan makanan atau minuman.

Kalau membicarakan menu, sebenarnya di sini tidak terlalu banyak menu yang ditawarkan. Tapi kamu tetap bisa memilih untuk makan makanan berat atau ringan, atau mungkin sekadar minuman misalnya. Untuk harga sendiri, cukup terjangkau kok untuk standar kafe. Aku sendiri pernah membeli camilan sekaligus minumannya dengan total harga Rp19.000.

Dari segi fasilitas, Crisbar Space memiliki wastafel yang bisa dijumpai dengan mudah. Ya setidaknya, tidak harus ke toilet dulu untuk menemukan wastafel. Hal ini memang diutamakan sekali karena menu yang dihidangkan di sini tidak disertai sendok atau garpu. Jadi kalau tanganmu kotor sebelum makan, ya bisa cuci tangan dulu pakai sabun.

Selain wastafel, fasilitas yang tak kalah penting dari tempat nongkrong adalah wifi. Hehe. Sebagai salah satu orang yang mengincar tempat-tempat ber-wifi, fasilitas ini cukup penting bagiku yang senang ngopi sambil mengerjakan tugas. Untuk password wifi sendiri bisa kita tanyakan pada kasir atau pelayan yang ada di sana.

Sedangkan untuk konsep tempatnya sendiri, kafe ini mengusung konsep semi outdoor di mana pengunjung bisa duduk disertai atap, tapi tidak dalam ruangan tertutup. Namun karena hal ini pula, kita jadi akan menemui kucing-kucing di sana. Yang terkadang, sedikit mengganggu karena mereka sering mengincar makanan daging yang kita beli. Jadi kalau kamu makan di sana dan masih tersisa makanan di piringmu, siap-siap jadi incaran kucing deh. Hehe.



Karena tempatnya yang tidak terlalu luas, beberapa fasilitas lain seperti toilet dan musala bisa dengan mudah terlihat tanpa harus berjalan ke sana kemari. Sayangnya, tempat wudunya cukup terbuka. Jadi mudah terlihat para akhi, hehe. Dan sayangnya lagi, tidak ada peminjaman mukena di sana. Jadi untuk para perempuan yang terbiasa salat mengenakan mukena, mending bawa mukena sendiri ya.

Oke, jadi sekian sedikit ulasan dariku tentang Crisbar Space. Terlepas dari plus minusnya, tempat ini bisa jadi rekomendasi untukmu yang sedang mencari tempat berkumpul bersama teman atau menugas sekaligus me time. Selamat berkunjung. 

19 February 2023

Masjid Al-Azwia, Tempat Singgah untuk Salat di Tengah Perjalanan

Perjalanan jauh tentu merupakan hal yang melelahkan. Entah itu naik kendaraan umum atau kendaraan pribadi, keduanya memiliki ketidakenakannya tersendiri.

Naik kendaraan umum misalnya, ya tentu saja ongkos yang mahal. Apalagi, baru-baru ini kan harga BBM naik. Lalu kita juga tidak bisa berhenti di sembarang tempat. Misalnya, kita sudah membayar ongkos penuh sampai tujuan di tempat sewaktu menaiki kendaraannya. Namun saat masih di tengah jalan, waktu salat hampir berakhir. Atau misalkan, ingin salat dulu saja walaupun waktu salatnya masih lama.

Lain lagi kalau naik kendaraan pribadi. Kalau kita yg mengendarai, fokus harus selalu terjaga dan menghindari lamunan. Tapi ya enaknya, kita bisa berhenti atau mampir-mampir dulu. Misalnya berhenti di rumah makan, jajan di pinggir jalan, atau salat di masjid atau musala terdekat. Apalagi kan, masjid di pinggir jalan sudah banyak sekali kita lihat.

Namun, meski aku termasuk tim yang naik kendaraan umum, berhenti di tengah jalan untuk menunaikan salat jadi keputusanku kala perjalanan pulang dari Cirebon ke Bandung beberapa hari lalu. Memang tidak salat di awal waktu juga sih. Karena saat itu, kondisinya mobil baru jalan dari Kadipaten pukul setengah dua belas. Ya, gara-gara kelamaan ngetem sebenarnya. Dan sayangnya, aku bayar ongkos penuh. Jadi agak disayangkan kalau harus berhenti di tengah jalan di awal waktu salat. Sedangkan ongkos sebenarnya saja masih jauh dari ongkos yang dibayar. 

Akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti kira-kira pukul setengah dua lebih ketika sampai di Tanjungsari. Dan setelah melihat-lihat beberapa masjid di pinggir jalan dari balik jendela, Masjid Al-Azwia jadi pilihanku untuk singgah dan salat di sana. Dari luar, masjidnya tampak cukup luas. Lahan parkirnya juga cukup untuk beberapa mobil dan motor.

Masjid Al-Azwia, Tanjungsari

Dekat parkiran, sudah bisa terlihat pintu menuju toilet dan tempat wudu bagi laki-laki dan perempuan. Tapi sebelum menuju toilet, ada pula rak penyimpanan alas kaki yang letaknya tak jauh dari pintu toilet perempuan. Setidaknya, kita bisa meneduhkan alas kaki yang dipakai di sini kala cuaca hujan.

Tempat penyimpanan alas kaki

Setelah menyimpan alas kaki, tentu wudu dulu sebelum salat, ya. Kalau mau ke toilet, ya boleh juga.

Yang menarik, bagian dalam toilet di masjid ini sangat bersih, lo. Tidak ada sampah berserakan sedikit pun. Bahkan meski tisu di pojok toilet. Karena terkadang, kan, ada tuh masjid yang dari luar kelihatannya megah dan bersih, tapi ada sampah-sampah kecil di toiletnya.

Baca juga: Masjid Al-Jabbar itu Bagus, Tapi ...

Di toilet perempuan sendiri, ada 4 toilet yang menyatu dengan tempat wudu. Dan di salah satu sisi dindingnya terpasang cermin besar. Sangat bermanfaat sih buat perempuan kalau mau merapikan kerudung atau rambut agar tidak berantakan. Tak lupa, ada juga tempat penyimpanan barang di atas kerannya. Yang pasti, fungsinya untuk menaruh barang yang kita bawa, ya. Tapi sayang, sewaktu aku ke sana, dua kunci toiletnya rusak. Hehe.

Selfie : )

Untuk memasuki masjid, pintu yang dilewati laki-laki dan perempuan berbeda. Bagi laki-laki, bisa memasuki masjid melalui pintu utama yang terbuat dari kaca. Sedangkan bagi perempuan, bisa memasuki masjid melalui pintu yang lebih kecil dan sedikit tersamarkan karena menyerupai dinding di sekitarnya. Letaknya, tak jauh dari tempat penyimpanan alas kaki.

Pintu kaca

Begitu masuk, tampak masjid ini memiliki bangunan yang amat sederhana. Tapi berfungsi utuh keseluruhannya.

Di sisi depan tengah, terdapat sebuah mimbar beserta mikrofonnya. Uniknya, tempat yang biasa ditempati imam tersebut dikelilingi kolam ikan kecil yang membuat masjid ini berbeda dengan masjid pada umumnya.

Mimbar

Di kedua sudut dinding, masih sisi depan, dinding tampak cekung dan terisi rak Al-Qur'an. Desain ini membuatnya jadi tampak menghemat tempat dibanding meratakan dinding dan menyediakan Al-Qur'an beserta rak di luar dinding.

Rak Al-Quran

Kalau tidak bawa sajadah, kita tidak akan salat di atas lantai begitu saja. Karena ada sajadah yang terhampar, kurang lebih memenuhi tiga per empat ruangan. Jadi jemaah laki-laki dan perempuan akan kebagian sajadahnya.

Sayangnya sih, pembatas salat antara laki-laki dan perempuan yang berupa kayu di sini kurang lebih hanya sampai seperut orang dewasa. Terlalu pendek untuk menjadi pembatas di sebuah masjid.

Tapi, hal lain yang tak kalah penting dibicarakan dalam sebuah masjid adalah ketersediaan peminjaman mukena. Hayo.. siapa yang suka ke masjid tapi gak bawa mukena? Hehe. Di sini, kita akan menemukan tempat peminjaman mukena tepat di sebelah pintu perempuan. Tinggal ambil saja. Tidak ada penjaganya. Tapi, lipat dan rapikan kembali mukena yang telah dipakai, ya.

Rak mukena

Beralih ke atas, kita akan menemukan ukiran kaligrafi pada kertas yang mengelilingi dinding masjid. Dan tepat tergantung di atas mimbar, terdapat jam beserta jadwal salat digital.

Kaligrafi dan jam digital

Tak hanya di dalam masjid, kita pun dapat menikmati pemandangan indah berupa gunung hijau ketika duduk di serambi masjid. Benar-benar istirahat yang cukup nyaman deh di tengah perjalanan. Salatnya iya, istirahatnya iya, menyegarkan matanya juga iya. Dan kalau lapar, tinggal menyeberang saja. Karena di sana ada beberapa rumah makan. Hehe.

Pemandangan dari luar masjid

Semoga ini bisa menjadi referensi pilihan masjidmu untuk salat di tengah perjalanan, ya. Hati-hati di jalan.

12 February 2023

Masjid Al-Jabbar itu Bagus, Tapi ...

Sejak diresmikan beberapa pekan lalu, Masjid Al-Jabbar selalu ramai dikunjungi banyak orang. Desain masjidnya yang menarik membuat banyak orang terkagum-kagum sehingga penasaran ingin melihatnya secara langsung.

Termasuk salah satu di antara banyak orang yang penasaran tersebut, akhirnya aku mengunjungi Masjid Al-Jabbar di akhir Januari lalu. Saat sampai di sana, hari sudah sore bahkan menjelang magrib. Namun keadaan itu membuat aku menjadi orang yang beruntung karena dapat menyaksikan pemandangan masjid saat langit masih cerah tapi disertai cukup cahaya di serambi masjid.

Tampak Masjid Al-Jabbar di sore hari

Seperti masjid pada umumnya, Masjid Al-Jabbar juga memberlakukan batas suci di mana pengunjung harus melepas alas kaki ketika hendak menapaki area masjid. Beruntungnya, di sana banyak pengasong kantong kresek yang menjual kantong kresek kepada pengunjung di dekat pintu masuk dan keluar. Jadi, pengunjung bisa mengamankan alas kakinya dengan bantuan kantong kresek, bahkan meski lebih dari satu pasang alas kaki. Tapi ya tidak enaknya, pintu masuk dan keluar jadi penuh dengan pedagang, belum lagi pengunjung yang berdesakan masuk atau keluar. Ditambah, masih ada pedagang lain di sisi kanan-kiri dekat pintu masuk dan keluar.

Setelah mengamankan alas kaki, aku dibuat terkagum dengan desain masjid yang berbeda dari yang lain. Karena terdapat beberapa tempat wudu yang berdiri dengan bentuk lingkaran di serambi masjid dengan desain yang indah dan diterangi cahaya kuning. Sayangnya, tempat wudu ini terbuka sehingga tidak direkomendasikan bagi perempuan yang berjilbab. Selain itu, karena jumlahnya yang agak banyak, muncul kekhawatiran tersendiri bagi pengunjung karena ada genangan di sektitar tempat wudu.

Tempat wudu di serambi masjid

Masih di serambi masjid, ada tempat duduk melingkar yang mengelilingi sebuah pohon. Aku kurang tahu betul sih itu pohon apa. Tapi yang pasti, tempat duduknya enakeun karena ada sandarannya. Hehe.

Baca juga: Pecinta Buku, Yuk ke Perpus BCH!

Karena kebelet pipis di sore itu, jadi jelas aku pergi ke toilet perempuan. Tapi yang bikin kecewa, toilet perempuan malah mampet sehingga perempuan dipersilakan buang air di toilet laki-laki. Itu sih, di kunjungan pertama kali. Karena beberapa hari setelah kunjungan pertama, aku ke Masjid Al-Jabbar lagi. Dan alhamdulillah toilet perempuan sudah tidak mampet.

Positifnya, penjaga toilet perempuan itu perempuan juga. Bukan laki-laki. Ya, karena kan, pas kunjungan pertama, aku buang air di toilet laki-laki tuh. Yang jaga toiletnya itu laki-laki. Jadi ya, risilah gitu.

Tidak jauh dari toilet, ada tempat wudu yang sangat luas. Keran airnya juga banyak. Hehe. Dan di atas keran, ada tempat penyimpanan barang. Yaa.. masa sih bepergian keluar gak bawa barang banget? Ya setidaknya ada tas kecillah. Atau mukena. Kan Namanya juga ke masjid. Masa gak bawa mukena, wkwk. Dan ini juga jadi poin positif. Karena di beberapa masjid, ada tuh yang gak ada tempat penyimpannnya. Jadi hanya disediakan beberapa paku di sekitar tempat wudu.

Baik untuk laki-laki atau perempuan, toilet dan tempat wudunya terletak di bawah. Sedangkan tempat salatnya berada di atas. Dan untuk menuju tempat salat, harus keluar dulu dari tempat wudu dan melalui serambi masjid yang ramai oleh banyak orang. Keadaan ini sangat memungkinkan adanya sentuhan fisik antara laki-laki dan perempuan, yang jelas dapat membatalkan wudu. Terlebih jika berkunjung di waktu-waktu dekat, di mana pengunjung masih membludak. Ya, sebenarnya, dari tempat wudu, ada tangga juga yang tidak mengharuskan kita melewati pelataran masjid. Tapi aku kurang tau itu tangga menuju ke mana. Karena memang tangganya ditutup juga.

Menuju tempat salat, ada banyak pintu masuk yang bisa dilewati. Tapi ya… terkadang hanya beberapa yang benar-benar dibuka. Di kunjunganku ke sana kedua kalinya, pintu yang terbuka hanya satu. Atau, ada dua, ya? Aku kurang tau tepatnya. Tapi begitu masuk, memang bagian dalam masjidnya cukup bagus. Sayangnya, aku tidak bisa keliling bagian dalam masjid. Karena buru-buru salat ashar, dan orang lain udah diusir buat keluar masjid kalau sudah melaksanakan salat asar. Jadi ya, salat dulu deh. Sehabis itu, tak ada momen untuk mengabadikan bagian dalam masjid karena beberapa petugas yang memburu-buru untuk keluar masjid. Dan fyi, petugas bilang, pintu masjid baru akan dibuka lagi ketika waktu magrib tiba. Sedangkan saat itu, aku dan orang lain diusir sekitar pukul 4 lebih.

Begitu keluar, sebenarnya mikir juga. Kenapa ya, harus diburu-buru? Kan niatnya mau salat. Jadi kasihan sama orang lain yang mau salat. Jadinya mereka salat di luar, dekat pintu masjid. Tapi ya di satu sisi, mungkin memang banyak juga orang yang masuk masjid tapi bukan untuk salat. Melainkan untuk berswafoto, atau bahkan tidur. Jika ada.

Balik lagi ke serambi masjid.

Di sisi kanan dan kiri masjid, terdapat lorong yang dikelilingi perairan. Di sisi-sisinya, terdapat tempat duduk yang menghadap perairan. Kalau masjidnya tidak terlalu ramai sih, tempat ini bisa jadi tempat favorit buat merenung sambil menikmati suasana perairan yang sejuk.

Lorong Masjid Al-Jabbar

Danau buatan

Oh ya, mungkin kamu juga pernah membaca berita, bahwa di awal pembukaan Masjid Al-Jabbar terdapat anak-anak yang berenang di kolam, bukan? Nah, tak jauh dari tempat wudu, sebenarnya memang benar ada beberapa kolam yang mengelilingi air mancur. Tapi saat ke sana, kolam tersebut kering dan diberi penghalang. Mungkin ini sebagai bentuk antisipasi juga barangkali ada anak-anak yang berenang di kolam lagi, ya.

Selain tentang kolam, museum nabi juga menjadi fasilitas yang dikabarkan ada di Masjid Al-Jabbar. Tapi sayangnya aku belum menemukan museum nabi itu berada di sebelah mana. Hiks ☹

Terakhir, taman di Masjid Al-Jabbar. Ya karena masjid ini termasuk salah satu masjid besar yang dapat menampung banyak jemaah, jadi tamannya juga memang cukup luas. Disertai tempat-tempat duduk yang membuat kita nyaman duduk di sana kala sore hari. Lahan parkirnya juga luas, jadi jelas dapat menampung banyak kendaraan.

Foto dari taman Masjid Al-Jabbar

Kesimpulannya, Masjid Al-Jabbar itu memang nyaman kalau dilihat dari fasilitas yang disediakan. Tapi karena belakangan ini pengunjungnya masih membludak, jadi kurang nyaman aja di beberapa sisi.  Semoga yang aku tuliskan ini bisa jadi pertimbangan kamu untuk memutuskan jadi berkunjung ke Masjid Al-Jabbar atau enggak, ya. Hehe.







21 August 2022

Pecinta Buku, Yuk ke Perpus BCH!
Rak buku

Keterbatasan buku yang dimiliki adalah salah satu kendala bagi para pecinta buku. Bagaimana tidak? Setelah berusaha untuk menyukai buku dengan mulai membacanya, justru mereka malah kebingungan karena hanya sedikit buku yang mereka miliki. Alhasil, setelah buku yang dimilikinya habis dibaca, mereka tidak tahu harus memuaskan minat bacanya ke buku mana lagi.

Bagi mereka yang berkecukupan, tentu bukan hal yang sulit untuk membeli buku lain. Namun bagi orang-orang yang kurang mampu, perlu usaha besar untuk membeli buku lagi. Misalnya, dengan cara menabung terlebih dulu.

Tapi selain dengan cara membeli buku, para  pecinta buku juga bisa memuaskan minat bacanya melalui perpustakaan. Apalagi, perpustakaan tak pandang bulu. Bisa dikunjungi oleh orang-orang dari kalangan apapun. Baik kalangan 'sultan' atau pelajar, bisa mengunjungi perpustakaan kapan pun mereka mau.

Nah, bagi pecinta buku yang tinggal di Bandung, ada rekomendasi perpustakaan yang bisa menjadi pilihan kamu untuk membaca buku sepuasnya. Perpustakaan tersebut berada di gedung Bandung Creative Hub (BCH) yang berlokasi di Jalan Laswi No.7, Kacapiring, Kec. Batununggal, Kota Bandung.

Gedung BCH ini berada di pinggir jalan. Jadi kamu bisa dengan mudah menemukannya. Desain gedungnya pun berbeda dari yang lain, unik dan berwarna-warni. Bahkan trotoar di sekitar gedung juga berwarna-warni disertai beberapa tempat duduk permanen. Dan di salah satu sisi gedung, terdapat prasasti peresmian gedung Bandung Creative Hub yang menghadap ke jalan raya.


Untuk menuju perpustakaan, kamu bisa memasuki BCH dengan melewati pintu kecil yang berada di samping pintu besar.

Baca juga: Bedanya Emoji dan Emotikon

Tunggu dulu. Hm, bagaimana cara mendefinisikannya ya?

Jika kamu berada di depan BCH, kamu akan melihat amphitheater seperti yang tampak pada gambar di bawah ini. Aku menyebutnya sebagai pintu besar, ya. Hehe. Nah, di samping kanan pintu besar itu, ada pintu kecil, yang sayangnya, tidak aku foto : (


Dari pintu kecil, kamu akan menemukan lift dan tangga di sisi kanan. Dan untuk ke perpustakaan, kamu harus naik ke lantai 2 baik lewat lift atau tangga, sesuai keinginan.

Tapi, sekadar informasi, jika dari pintu kecil yang dimasuki sebelumnya kamu berjalan lurus terus, kamu akan menemukan mushola dan tempat wudu. Ya, ini pasti berarti banget buat kamu yang muslim, kan? Hehe.


Setiba di lantai 2, kamu akan menemukan petunjuk seperti yang ada di bawah ini di depan lift.


Di petunjuk tersebut, perpustakaan memiliki tanda panah ke arah kiri, ya. Padahal perpustakaan berada di sebelah kanan, lo. Jadi tidak jauh dari pintu lift, kamu akan menemukan pintu yang akan membawamu ke perpustakaan.

Masuk ke pintu tersebut, dan berjalan lurus terus hingga kamu menemukan pintu perpustakaan di samping kanan. Dan... Masuklah ke perpustakaan BCH!


Tapi sebelum benar-benar menikmati perpustakaan, kamu harus melepas alas kaki setelah melewati pintu perpustakaan dan menyimpannya pada rak sepatu yang tersedia. Maju beberapa langkah, kemudian akan ditemukan rak penyimpanan barang pengunjung, seperti tas, misalnya. Dan saat menyimpan tas, mungkin kamu akan menemui penjaga perpustakaan yang duduk di balik meja kayu yang tak jauh dari rak penyimpanan barang. Setelah itu, barulah bisa memilih buku yang ingin dibaca di perpustakaan. Rak buku beserta isinya tentu tersusun rapi. Banyak buku dengan kategori beragam yang bisa dipilih. Ada kategori bisnis, pendidikan, ekonomi, komik, fiksi, beserta kategori-kategori lainnya. Namun dari sepengamatanku, lebih banyak rak dengan kategori fiksi sih. Tapi gak papa. Karena kalau aku, emang lebih suka baca buku cerita. Hehe.

Dari awal masuk, perpustakaan ini dialasi dengan karpet. Jadi walau tidak berkaus kaki, kamu tidak akan kedinginan karena dinginnya lantai. Belum lagi ada meja pendek yang bisa digunakan anak-anak. Kalau gak ada karpet dan anak-anak duduk di sekitar meja pendek itu, bakal kerasa banget dingin lantainya sih pasti. Hehe.


Buat kamu yang mau ngerjain tugas di perpustakaan sembari mencari referensi, bisa duduk di kursi empuk beserta meja yang setara tentunya. Terutama kalau ngerjainnya pakai laptop nih, tapi laptopnya sambil dicas, ada stopkontak di atas meja. Jadi ya pasti bisa sambil dicas-lah. Ini kan yang kamu butuhkan?


Kalau ingin baca buku sambil bersantai di samping jendela, kamu bisa pilih tempat duduk persegi dengan keempat sudut yang melengkung ini. Dengan alas yang lumayan empuk dan gak bikin pantat sakit, mood baca kamu mungkin bakal lebih naik lagi. Tapi sayangnya, tempat duduk ini hanya ada empat buah di perpustakaan. Jadi kalau keempatnya diisi orang lain, ya giliran ngalah dulu deh duduknya di tempat duduk lain.


Sebenarnya, kalau diperhatikan, letak perpustakaan BCH sudah terlihat dari pintu besar yang memberi penampakan amphitheater bagi kita. Namun saat itu terdapat semacam penghalang jalan buat masuk lewat amphitheater. Jadi mending lewat pintu kecil ajalah ya : )

Jadi, gimana nih, kamu tertarik buat berkunjung dan baca buku di sana? Atau sudah pernah berkunjung dan mau ke sana lagi?