19 March 2024

Pemilu 2024: Tinta Ungu Pertama di Hidupku

 Telah sebulan berlalu, pesta demokrasi digelar serentak  di seluruh wilayah Indonesia. Dan nampaknya, hari ini, kita bisa lihat siapa orang selanjutnya yang akan memimpin negara Indonesia.

Tahun ini adalah pertama kalinya aku ikut terlibat dalam pemilihan presiden. Dan baru di tahun ini pula, aku jadi sering nonton konten politik mengenai ketiga cawapres yang terus-menerus kampanye sebelum Pemilu digelar.

Setelah semuanya berlalu, aku tersadar suatu hal. Bahwa tiktok tidak hanya berpengaruh pada dunia hiburan semata. Tapi juga berpengaruh di dunia politik untuk membangun citra para caleg maupun cawapres.

Sayangnya, tidak semua konten di tiktok itu benar-benar sebuah fakta. Apalagi soal politik. Beuh, banyak sekali propaganda yang muncul dan menyudutkan cawapres lain. Jika ada konten yang benar-benar sesuai fakta, kemungkinannya ada dua: mungkin, itu adalah akun milik media; atau pemilik akun itu yang benar-benar kritis.

Di masa politik, bukan sekali dua kali aku melihat konten yang menyudutkan cawapres lain. Bilang ada pengkhianatan kah, bilang ada yang dipecat dari menteri karena suatu kasuslah. Yang begitu-begitu, kalau penontonnya kurang melek politik, mungkin akan ikut terbawa arus dan ikut memojokkan cawapres lain. Dan sebagaimana yang kita tahu, tidak semua pengguna tiktok itu berasal dari kaum terpelajar. Ya minimal, lulus SMA gitu. Jadi ya, warga Tiktok cukup mudah untuk diambil perhatian dan emosinya.

Semua itu nampak jelas setelah hasil quick count usai pemilihan presiden ditampilkan di layar kaca. Terlihatlah siapa pasangan yang memenangkannya. Terlihatlah siapa yang paling "mencuri" perhatian warga Tiktok dengan buzzer-buzzernya.

Oh ya, jangan salah. Para buzzer itu jelas dibayar oleh suatu pihak agar menyebarkan konten mengenai cawapres yang didukungnya dan memuja-muji cawapres dalam kontennya.

Baca juga: Tiga Fakta Jarimatika

Padahal, masyarakat lain sadar betul bahwa ada yang tidak beres dengan Pemilu 2024 ini. Dari salah satu sumber, aku pernah membaca bahwa Pemilu 2024 adalah Pemilu Indonesia terburuk sepanjang masa. Sial!

Aku tak ingin berpihak pada kecurangan, yang membangun dinasti keluarga dalam suatu pemerintahan. Hei, ini bukan negara kerajaan seperti Brunei Darussalam. Ini adalah Republik, maka tak semestinya ada dinasti kelurga dalam pemerintahan ini.

Di lain sisi, masyarakat mengagumi cawapres lain yang dipandang bisa membawa perubahan di negara Indonesia. Visi misinya lebih realistis, dan membawa demokrasi ke level tinggi dengan adanya interaksi tanya jawab antara cawapres dengan masyarakat. Dan itulah yang dirindukan para anak muda sekarang.

Beribu-ribu orang mendukungnya, mendatangi tempat kampanyenya tanpa undangan khusus ataupun dibayar sekian rupiah. Ini ajaib, banyak orang yang mengampanyekannya dengan sukarela, bahkan dengan kekreatifan yang dimilikinya.

Namun, semua itu seolah tidak ada apa-apanya dibanding pihak yang mendukung pembentukan dinasti keluarga. Segala harapan perubahan dari masyarakat hancur seketika setelah hasil penghitungan pemilihan presiden diumumkan.

Tak hanya masa kampanye yang meresahkan, usai Pemilu pun nampaknya banyak kecurangan. Beratus-ratus anggota KPPS dibuat kecewa karena data yang tercantum di aplikasi penghitungan suara berbeda dengan data yang dihitung secara manual. Bahkan perbedaannya tidak berhenti di angka puluhan, tapi sampai angka ratusan. Anehnya, suara yang melambung hebat hanya ada di salah satu paslon. Seolah-olah, ada pihak yang sengaja memanipulasi agar paslon yang dimaksud bisa melenggang ke istana negara.

Yang lebih membuat kecewa, puluhan petugas KPPS juga gugur setelah menunaikan tugasnya untuk mengawal Pemilu. Gajinya yang dibilang cukup besar per harinya diimbangi dengan keharusan petugas KPPS untuk bekerja dari pagi hingga larut malam dalam beberapa hari usai Pemilu serentak dilaksanakan.

Begitulah warna-warni Pemilu di tahun pertama tinta unguku. Membuatku menyadari bahwa pemerintahan sekarang memang sekejam itu. Seolah-olah, yang bersih disingkirkan, yang kotor dipelihara.

Oh ya, aku ingat ucapan seorang atasan di kantor tempatku magang, kurang lebih seperti ini: kalian gak perlu bingung milih presiden sekarang, karena ujung-ujungnya yang jadi presiden itu adalah yang berpihak pada elite global.

12 July 2022

Uniknya Idul Adha Tahun Ini
Jamaah Salat Idul Adha di Alun-Alun Ujungberung/Sumber : Dokumen pribadi

Menjelang hari idul adha, pemerintah menetapkan bahwa idul adha jatuh pada tanggal 10 Juli 2022. Namun berbeda dengan pemerintah, organisasi Muhammadiyah justru menetapkan tanggal idul adha-nya sendiri, yakni sehari sebelumnya, tanggal 9 Juli 2022.

Sebenarnya perbedaan pendapat seperti ini bukanlah hal yang asing bagi umat Islam di Indonesia. Pada hari lebaran sebelumnya, yakni idul fitri 1443 H, juga terdapat perbedaan pendapat antara pemerintah dan jemaah An-Nadzir di Gowa yang melaksanakan salat idul fitri pada 1 Mei 2022. Sedangkan pemerintah dan Muhammadiyah sepakat melaksanakan salat idul fitri sehari setelahnya, yakni pada 2 Mei 2022.

Perbedaan pendapat antara organisasi Islam dan pemerintah dalam penetapan hari raya, tentu bukanlah hal yang aneh. Namun, apa jadinya jika sebuah masjid yang tidak mengklaim diri sebagai organisasi mana pun, tapi tidak mengikuti kesepakatan pemerintah pula?

Itulah yang terjadi pada masjid di sekitar tempat tinggalku di idul adha tahun ini. Masjid tersebut bukan milik organisasi Muhammadiyah, namun tidak juga mengikuti kesepakatan pemerintah. Karena berdasarkan diskusi yang sempat dilakukan, pihak masjid menetapkan idul adha jatuh pada tanggal 9 Juli. Berbeda dengan pemerintah yang menetapkan 10 Juli sebagai hari idul adha. Padahal biasanya, setahu aku, masjid ini selalu mengikuti jadwal hari raya sesuai yang ditetapkan pemerintah. Lo ini, kok beda dari biasanya?

Memang sih, ibuku pernah bercerita tentang asal usul berdirinya masjid yang berada tepat di belakang rumahku itu. Sedangkan ibu tahu dari salah satu ustaz yang mendampingi ibu-ibu mengaji di masjid tersebut. Katanya, salah satu pendiri masjid ini adalah beliau (yang menceritakan) dan salah satu warga lainnya. Beliau (yang menceritakan) mengaku bahwa dirinya bukan Muhammadiyah. Sedangkan salah satu warga lainnya adalah anggota organisasi Muhammadiyah, yang bahkan memiliki kartu organisasi dan serangkaian keperluan organisasi. Keduanya, alhamdulillah masih hidup hingga saat ini. Namun aku kurang tahu betul apakah penetapan tanggal idul adha yang berbeda ini dipengaruhi salah satu pendiri masjid yang merupakan anggota Muhammadiyah tersebut atau tidak. Yang jelas, aku dan keluarga dibuat bingung dengan adanya perbedaan ini.

Masalahnya adalah, letak masjid tersebut sangat dekat dengan rumah. Sedangkan aku dan keluarga lebih cenderung pada pendapat pemerintah untuk sholat id di tanggal 10.

Namun, ibuku sering salat berjamaah di sana. Dan ibu mengira warga sekitar yang telah mengenal ibu akan bertanya-tanya jika beliau tidak salat id di masjid tersebut.

Baca juga : Rahmatnya Allah

Sebenarnya, tidak hanya ibu yang mengalami dilema demikian. Tapi juga bibiku. Makanya, mereka berdiskusi bagaimana caranya agar bisa salat tanggal 10 di alun-alun ujungberung tanpa ketahuan warga sekitar yang salat di tanggal 9 di masjid. Atas usul bapakku, kami (ibu, bapak, bibi, dan aku) memutuskan untuk tetap mengikuti salat id di masjid dekat rumah. Namun, niatnya bukan salat id, melainkan salat mutlak. Sedangkan salat mutlak sendiri adalah salat sunah tanpa sebab apapun. Kemudian di hari selanjutnya, kami bisa salat id di alun-alun.

Hari itu tiba. Tanggal 9.

Sebelumnya, aku kira masjid tersebut tidak jadi melaksanakan salat id di tanggal 9. Karena di hari sebelumnya, tidak ada warga yang takbiran di sana. Konon kata ibu, ada yang takbiran sih, tapi tengah malam. Sementara paginya, takbiran baru dimulai kurang lebih setengah atau satu jam sebelum khutbah id benar-benar dimulai. Ketika waktu itulah, ibu dan bapak pergi ke masjid. Sedangkan aku, yang telah mengetahui rencana mereka, enggan ikut salat karena masih mengantuk. Lagipula, mereka tidak benar-benar salat id.

Sepulang salat id di masjid, ibu langsung bersiap ke pasar untuk berjualan. Ibu juga masih berpuasa sunnah. Jadi bisa dibilang, salat id di masjid tersebut hanya formalitas. Selain karena alasan tersebut, ibu pergi ke pasar juga karena berjualan kue. Sedang biasanya, penjualan kue akan lebih meningkat dari hari-hari biasanya ketika menjelang lebaran. Aku pun menyusul beberapa jam kemudian untuk membantu ibu berdagang. Dan alhamdulillah, ya ada saja pemasukannya.

Malam hari di hari tersebut, bibi kembali ke rumah. Membicarakan bagaimana caranya agar esok hari bisa pergi ke alun-alun untuk salat id di pagi hari tanpa ketahuan warga sekitar. Lalu ibu dan bibi berencana untuk membawa mukena dan sajadah dengan dibungkus kantong plastik agar dikira akan pergi ke pasar, bukan ke alun-alun.

Esok hari lagi tiba. Aku, ibu, dan bapak, bersiap-siap salat id. Aku membawa alat salat dan koran dalam tas gendong, sedangkan ibu dan bapak membawa alat salat berbungkus kantong plastik.  Agar tak dikira pergi salat id (meski sebenarnya pergi salat id) oleh tetangga, kami berangkat secara terpisah. Ibu pergi mendahului aku dan bapak. Kemudian bapak menyusul beberapa menit kemudian, dan aku berangkat paling terakhir. Dan saat aku pergi, memang sekitar rumah masih sepi. Belum ada tetangga yang berkeliaran di sekitar.

Sepanjang perjalanan, aku berbicara sendiri mengenai idul adha ini. Menurutku, idul adha ini adalah idul adha teraneh dan membingungkan yang pernah kualami. Bagaimana tidak? Kami -terkecuali aku- jadi berpura-pura salat id di masjid dekat rumah dengan niat salat mutlak di hari kemarinnya. Dan sehari setelahnya, kami -beserta aku- pergi diam-diam tanpa diketahui warga seperti seseorang yang hendak kabur. Haha. Ini sungguh konyol.

Sampai di alun-alun, aku mencari tempat yang kosong dan segera menggelar koran beserta sajadah. Tadinya ingin mencari ibu, tapi kuota internetku habis sedangkan aku belum mengisinya lagi tadi pagi. Alhasil, aku menghubungi ibu lewat SMS. Namun sayangnya tak ada balasan. Mungkin, ibu tidak membuka kotak masuk SMS.

Singkat cerita, salat id dan khutbah sudah selesai. Aku membereskan alat salat, sedangkan koran kubiarkan pada tempatnya. Ingin menunggu ibu sebenarnya. Tapi ibu ada di sebelah mana saja aku tidak tahu. Maka aku berniat pulang lebih dulu. Namun, di pinggir alun-alun ada pedagang cilor. Jadi aku membelinya sebanyak 5 tusuk dengan harga lima ribu rupiah. Ya, untungnya ibu memberi uang tadi pagi. Meski saat itu beliau mengatakan bahwa uang itu untuk infak. Tapi ya, tidak ada kotak infak sejak aku datang hingga selesainya khutbah. Maka aku memutuskan menggunakan uang itu untuk membeli cilor. Lagi-lagi, aku tertawa geli. Uang yang harusnya dipakai infak malah dipakai jajan. Hehe.

Jajan sudah, tapi tak juga kutemukan ibu. Jadi ya, akhirnya aku pulang sendirian ke rumah. Namun saat hampir sampai rumah, aku bertemu salah satu tetangga. Dan aku hanya bisa tersenyum guna menyapanya. Ya, entahlah apakah beliau tahu bahwa aku baru saja salat id di alun-alun atau tidak.

Sesampainya di rumah, ternyata ibu belum datang juga. Baru ada bapak yang pulang dari salat id. Sedangkan teteh tidak salat id karena memang sedang halangan.

Beberapa saat kemudian, ibu datang dengan membawa kantong plastik berisi mukena. Tapi tak hanya itu. Ternyata ibu juga membeli gorengan. Haha. Sama halnya denganku, ibu juga berniat menggunakan uang untuk infak. Tapi karena tidak ada kotak infak, maka uang itu digunakan untuk beli gorengan. Ya, sebuah hal yang kebetulan.

Ibu juga bercerita bahwa ketika pulang, beliau bertemu tetangga. Dan kami sama-sama tertawa geli mengalami hal yang tak pernah diduga ini.

10 June 2022

Tahu Pocong

 Sore hari, aku pulang dari indekos Haikal yang berlokasi di dekat MAN 2 Bandung. Aku berjalan kaki dari tempatnya ke jalan raya. Kemudian berbelok ke arah SDN Cipadung untuk membeli tahu pocong yang gerobaknya berada di depan SD. Tanpa basa-basi, aku pun langsung memesan tahu pocong begitu sampai di sana.

“Mang, yang pedes 2, yang gak pedes 2.”

Pedagang lelaki itu langsung melayani dengan mengambil wadah berupa kertas yang dilipat sedemikian rupa, kemudian mengambil tahu yang dimaksud. Sedangkan aku mengambil selembaran uang lima puluh ribu rupiah dari dalam tas.

“Teh, yang gak pedes disobek kertasnya, ya,” pesan pedagang tersebut. Karena rasa tahu pocong yang berbeda, maka pedagang tersebut memisahkan tahu pocong pedas dan tidak pedas di dua wadah yang berbeda.

“Iya, Mang.”

Baca juga: Pemilu 2024: Tinta Ungu Pertama di Hidupku

Lalu, pedagang itu memberikan pesanan yang kupinta sedang aku membayarnya dengan uang yang sudah berada di tangan.

“Kembalian delapan belas ribu, Teh.”

“Nuhun, Mang.”

Uang kembalian yang diberi pedagang tersebut kumasukkan ke saku celana. Tak lupa, aku juga menyiapkan ongkos angkot dan langsung pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, aku menaruh tahu pocong di atas meja makan. Kemudian mengabarkan pada kakak perempuanku, karena dialah yang memesan tahu pocong. Namun karena terlalu tanggung jika hanya beli satu tahu pocong untuknya, maka aku membeli empat tahu pocong sekaligus, masing-masing untukku, kakak, ibu, dan bapak.

“Teh, itu tahu pocongnya di atas meja makan.”

“Iya. Makasih, Dek.”

Tak lama setelah itu, Teteh berniat mengambil tahu pocong untuk dimakan. Namun dia bertanya, “Dek, ini yang mana yang pedes yang mana yang enggak?”

“Yang pedes kertasnya disobek, Teh,” jawabku.

Namun ketika Teteh makan, dia bertanya lagi padaku, “Dek, kamu bener yang pedes yang disobek kertasnya?”

“Iya.”

“Kenapa gak pedes? Gak ada rasa pedesnya sama sekali ini mah.”

“Ketuker mungkin, Bib.” Ibuku ikut menyahut.

“Oh iya gitu? Perasaan kata mang-nya yang pedes yang disobek.”

Merasa tak sesuai keinginan, Teteh kembali ke meja makan untuk mengambil tahu pocong pedas di wadah yang berbeda. Dan ternyata benar, tahu pocong yang dia ambil sebelumnya adalah tahu pocong yang tidak pedas.

“Bib, tahu pocong Teteh tadi tuh bener ketuker.” Ibu memberitahu.

“Berarti tadi aku salah denger mang tahu pocongnya ya.”

14 November 2021

Bedanya Emoji dan Emotikon
Emoji/Canva

๐Ÿ˜€๐Ÿ˜…๐Ÿ˜„๐Ÿคฉ๐Ÿ™‚๐Ÿฅณ

Untuk kamu yang membaca tulisan ini, aku mau nanya deh. Yang aku tunjukkan di baris pertama itu, namanya apa sih? Apa istilah yang sering kamu gunakan untuk menyebutnya? Emot? Emotikon? Atau emoji? Hm... Yang benarnya yang mana ya?

Rupanya, ekspresi bergambar itu disebut dengan emoji. Bukan emotikon. Dari jawaban yang aku dapat dalam kolom komentar unggahan akun Instagram @narabahasa di tanggal 5 Oktober 2021, emoji adalah sejenis emotikon dari Jepang. Sedangkan emotikon adalah ilustrasi yang menggambarkan suasana hati.

Tapi, sebenarnya aku sendiri masih bingung. 'Apa itu emotikon dari Jepang? Bagaimana rupanya?' Lalu beberapa minggu kemudian, akun Instagram @gsmsindonesia membalas komentarku. Katanya seperti ini, '@habibah2808 Ini emotikon  :) dan ini emoji itu ๐Ÿ˜Š'

Tapi, aku sendiri masih bingung tuh. Loh loh, apa toh maksudnya? Lalu karena ingin tahu, browsing-lah aku di mesin pencarian Google pada aplikasi Chrome. Dan hasilnya....

Baca juga: Cerita-Cerita Islam di Buku 'Tuhan Ada di Hatimu'

Ternyata sudah ada unggahan dari situs web lain yang menjelaskan tentang emoji dan emotikon! Haha. Ini menunjukkan betapa malasnya aku untuk browsing sebelumnya. Pada diri sendiri aku bertanya, 'Kenapa sebelumnya aku gak browsing dulu ya? Ternyata udah ada jawabannya.' Haha.

Dari salah satu situs web yang dibuka, aku menangkap bahwa emoji itu ya yang bergambar. Misalnya ๐Ÿ˜‚, ๐Ÿ˜, ๐Ÿคญ, ๐Ÿ˜™, dan ๐Ÿฅฐ. Sedangkan emotikon itu yang mengandung tanda baca juga huruf, sederhana, dan menyamping. Misalnya :-), :^), B-), :-D, dan ;). Tapi, ternyata masih ada satu lagi loh. Namanya Kaomoji. Masih pakai tanda baca juga huruf, tapi lebih ruwet dan menghadap ke bawah. Apa sih bahasanya? ๐Ÿคฃ Pokoknya, contohnya tuh gini, (ส˜แด—ส˜✿), (◠‿・)—☆, ส˜‿ส˜, (ใฃ˘ะท(˘⌣˘ ), dan ⊂(◉‿◉)ใค. Haha.

Kalau kamu mau pakai emoji, emotikon, atau kaomoji, biasanya sudah ada di keyboard ponsel loh. Jadi kamu tinggal pilih aja emoji, emotikon, atau kaomoji mana yang mau kamu pakai.

Gimana? Udah ketemu belum emoji, emotikon, dan kaomoji-nya?

15 August 2021

Pertama Kali

Sabtu, 31 Juli 2021, Sekitar jam tujuh.

Di salah satu kursi ruang tamu, aku duduk sembari memegang ponsel. Mencoba melihat ada informasi apa saja di WhatsApp setelah tak ditengok selama beberapa jam.

"Ass,,,undangan pelaksanaan swab pcr untuk
1. ....
2. ....
3. ....
Hari : sabtu
Tanggal : 31 Juli 2021
Nama pemantau : Lina
Sesi : 1(09.00-10.00)
Nomor urut swab :10-12
Tempat : Halaman belakang Puskesmas
Ditunggu kehadirannya dan diharapkan tepat waktu karena APD yang digunakan petugas APD yang dipersiapkan hanya untuk swab dan sekali buang jadi jikalau tidak datang sangat disayangkan. Untuk pelaksanaan swab gratis tidak dipungut biaya

Wa ini harap diperlihatkan kepada petugas yang akan melakukan swab besok

Hatur nuhun
Puskesmas ...."

Itu sebuah pesan dari Mama-ayahku- di grup keluarga. Dari keterangan Diteruskan pada barisan pertamanya, aku mengerti bahwa itu bukanlah pesan buatan Mama sendiri. Melainkan pesan dari pihak puskesmas yang dikirim ke nomor WhatsApp Mama, lalu langsung dikirim ke grup keluarga tanpa perlu menyalin pesan.

"Mi... katanya kita disuruh swab," panggilku pada Mimi-ibuku- yang sedang bolak-balik dapur-ruang tengah.

"Kata siapa?"

"Ini Mama ngirim WA di grup."

Mimi mengecek ponselnya yang sedang dicas di ruang tengah. Lalu berujar, "Oh iya, Bib."

Setelah mengetahui informasi itu, Mimi pun memberitahu Teteh (kakak perempuanku) yang berada di kamarnya bahwa kami perlu di-swab PCR di puskesmas yang dimaksud. Hal ini dikarenakan pihak puskesmas ingin mengecek keadaaan kami-apakah positif atau tidak- setelah Mama dinyatakan positif covid 19 tiga hari sebelumnya. Dan sampai saat aku menulis cerita ini, Mama masih melakukan isolasi mandiri di rumah. Karena tidak megalami gejala apa pun, alias OTG atau orang tanpa gejala. Bahkan beberapa hari sebelum dinyatakan positif pun, Mama masih beraktivitas seperti biasa. Makannya lahap, jalannya cepat, dan sering bolak-balik pasar-rumah agar tubuhnya tetap fit. Karena kebetulan, Mimi berjualan di pasar. Dan agar tidak berdiam diri saja di rumah sekaligus menggerakkan badan, Mama lebih memilih bolak-balik pasar-rumah saja.

Tapi, inilah yang terjadi. Mama dinyatakan positif pada tanggal 28 Juli setelah di-swab pada tanggal 26 Juli di rumah sakit Hermina. Dan itu pun, aku yang pertama kalinya tahu. Karena pemberitahuan itu diberikan dalam bentuk file PDF dan Mama tidak memiliki aplikasi pembuka file PDF di ponselnya. Jadi, Mama mengirimkannya padaku melalui WhatsApp. Lalu aku mengirimnya ke grup keluarga dengan bentuk file foto. Dan di hari yang sama juga, Mama mulai melakukan isolasi mandiri.

Sekitar jam setengah sembilan.

Kami bertiga pergi ke puskesmas tanpa menaiki kendaraan. Lagi pula, jaraknya tidak terlalu jauh. Jadi hitung-hitung, jalan-jalanlah. Meskipun tujuannya adalah puskesmas dan harus di-swab.

Sesampai kami di puskesmas, Teteh menulis absen di kertas yang disediakan. Sementara aku dan Mimi langsung menuju halaman belakang puskesmas karena datanya dituliskan Teteh sekaligus. Dan rupanya, kami adalah tiga orang pertama yang datang. Padahal di kertas absen tadi, sudah ada dua nama yang tertulis. Tapi sudahlah. Lagi pula pelaksanaan swab dijadwalkan akan dimulai jam sembilan. Sementara kami datang sekitar jam setengah sembilan lebih beberapa menit.

=

Cukup lama menunggu, akhirnya beberapa dokter keluar dari ruangannya untuk men-swab orang-orang yang telah menulis data di kertas absen. Tentu, tidak hanya kami bertiga. Sudah ada beberapa orang lain yang datang sebelumnya. Tapi sebelum di-swab, kami diberikan pengarahan terlebih dulu oleh salah seorang dokter perempuan yang kelihatannya, berusia 40-50 tahun menurut perkiraanku ketika mendengar suaranya. Di mana inti dari pengarahan itu adalah :

1. Ada yang swab PCR dan ada yang swab antigen.

2. Swab PCR, diambil sampelnya dari hidung dan tenggorokan. Sedangkan swab antigen, diambil sampelnya dari hidung saja.

3. Hasil dari swab antigen bisa diambil atau diberitahukan di sore hari. Sedangkan hasil dari swab PCR bisa diambil atau diberitahukan tiga hari setelahnya,

4. Kasus corona melandai setelah diberlakukan PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) selama beberapa pekan terakhir. (Dan sekarang juga masih PPKM).

Setelah diberikan pengarahan, pelaksanaan swab pun dimulai dari absen pertama. Jujur, ada rasa gimana gitu. Soalnya ini adalah pertama kalinya aku di-swab. Karena, aku memang jarang bepergian sejak pandemi corona melanda Indonesia. Ya, cuma dua kalilah selama setahun lebih ini. Itu pun tidak sampai 24 jam dan masih di Bandung. Gak keluar kota. Dan gak ada hal lain yang mengharuskan aku untuk di-rapid test antigen, antibodi, apalagi di-swab PCR.

"Habibah."

Aku beranjak dari kursi ruang tunggu di halaman belakang puskesmas. Kemudian berjalan menuju salah satu kursi plastik yang tersedia untuk di-swab. Tempatnya masih di luar ruangan juga. Dan ada dua dokter yang bertugas untuk men-swab pasien. Jadi satu dokter, men-swab satu pasien dalam waktu bersamaan.

"Antigen, ya," ucap dokter yang sebelumnya memberikan pengarahan, sekaligus akan men-swabku. Tapi aku tidak mengangguk, dan tidak juga menggeleng. Karena sebelumnya, Teteh pun di-swab antigen meski sudah menunjukkan pesan dari puskesmas di ponselnya bahwa kami diundang untuk melakukan swab PCR. Jadi ya, pasti sama juga.

"Buka maskernya."

Aku menurunkan masker hingga ke leher. Kemudian mendongakkan kepala tanda bersedia untuk di-swab antigen.

"Hidungnya lagi gak mampet?"

"Enggak, Dok."

Pelan-pelan, alat antigen itu masuk ke lubang hidung kanan. Bentuknya panjang. Dan di salah satu ujungnya, yang untuk mengambil sampel ke hidung, terdapat bahan lembuat memanjang sekitar 3 cm yang sepertinya, berupa kapas.

"Udah."

Dokter itu kembali menarik alat antigen tersebut dari hidungku. Kemudian memasukkan sampelnya ke alat yang lain lagi. Sedangkan aku langsung bernapas lega. Ternyata begini rasanya di-swab antigen. Tidak sakit sih, tapi geli di lubang hidung.

=

Minggu, 1 Agustus 2021.

Pagi hari, aku menerima tiga buah kiriman file PDF dari nomor WhatsApp Mama. Masing-masing file PDF tersebut bernama namaku, nama Teteh, dan nama Mimi. Ternyata isi dari file itu adalah pemberitahuan dari puskesmas mengenai hasil swab antigen kami di hari kemarin. Dan hasilnya, alhamduillah. Kami bertiga dinyatakan negatif covid 19.

=

Kamis, 3 Agustus 2021.

"Ass,,,,undangan pelaksanaan swab pcr untuk
1. .....
2. ....
3. ....
Hari : kamis
Tanggal : 5 Agustus 2021
Nama pemantau : Lina
Sesi : 1(09.00-10.00)
Nomor urut swab :1-3
Tempat : Halaman belakang Puskesmas
Ditunggu kehadirannya dan diharapkan tepat waktu karena APD yang digunakan petugas APD yang dipersiapkan hanya untuk swab dan sekali buang jadi jikalau tidak datang sangat disayangkan. Untuk pelaksanaan swab gratis tidak dipungut biaya

Wa ini harap diperlihatkan kepada petugas yang akan melakukan swab besok

Hatur nuhun
Puskesmas ...."

Pesan yang hampir serupa seperti pesan di tanggal 31 Juli 2021, terkirim di grup keluarga dari nomor WhatsApp Mama. Rupanya, kami harus ke puskesmas lagi. Tapi sebenarnya, Mimi pun sudah diberitahu mengenai hal ini. Karena ketika di-swab antigen beberapa hari lalu, seorang dokter yang men-swab Mimi berpesan bahwa jika hasil swab antigen kami negatif, harus ke puskesmas lagi untuk swab PCR lima hari yang akan datang. Dan tibalah hari itu. Hari ini.

Kurang lebih, jam sembilan kurang lima belas menit.

Sebelumnya, aku dan Mimi sudah bersepakat bahwa kami akan bertemu di puskesmas. Karena hari itu, Mimi sudah buka kios di pasar. Sedangkan Teteh kerja dari rumah dan tidak bisa ditinggal dalam waktu yang lama. Jadi, aku pergi sendiri ke puskesmas dari rumah, dan Mimi pergi ke puskesmas dari pasar.

Tapi, ternyata kami sudah lebih dulu bertemu di pertengahan jalan. Sayangnya, Mimi naik ojek. Sedangkan aku jalan kaki. Jadi tetap saja. Mimi yang lebih dulu tiba di puskesmas.

Sampai di puskesmas, aku menulis absen tiga orang sekaligus. Aku, Mimi, dan Teteh. Di kertas absen itu, ada kolom nama, NIK, tanggal lahir, jenis kelamin, nomor telepon dan tanda tangan. Dan untungnya, ada foto KK di ponsel. Jadi aku bisa menulis NIK Teteh dan aku dari foto KK tersebut.

Setelah mengisi absen, aku dan Mimi dipersilakan duduk menunggu di kursi halaman depan puskesmas oleh petugas. Sembari sesekali bermain ponsel atau menghubungi Teteh yang masih di rumah.

“Ibu, tiga orang?” tanya seorang petugas puskesmas yang sedang memegangi absen pada Mimi, tak lama kemudian.

“Iya. Ini sama anak. Terus satu laginya masih di rumah.”

“Silakan ke halaman belakang dulu, Ibu.”

“Iya, Pak.”

Kami berjalan menuju halaman belakang. Mimi langsung duduk di kursi yang sudah tersedia, sedangkan aku mencuci tangan terlebih dulu, baru kemudian duduk tak jauh dari Mimi.

Selang beberapa menit, beberapa petugas pun keluar dari ruangannya. Lalu segera melaksanakan swab setelah memberikan pengarahan yang hampir serupa seperti pertama kali kami swab sebelumnya. Sedangkan Teteh, datang tepat ketika absen pertama dipanggil setelah Mimi mengabari bahwa swab akan segera dimulai.

“Habibah,” panggil salah seorang dokter. Tanpa ba-bi-bu, aku pun beranjak dari kursi menuju salah satu kursi plastik yang tersedia untuk swab. “PCR, ya.”

“Iya.”

Dokter yang akan men-swabku menerima dua alat untuk swab PCR dari rekannya. Kemudian membuka salah satunya dan mulai beraksi. Awalnya, aku membuka masker dan langsung mendongakkan kepala. Tapi ternyata salah.

“Buka mulutnya.”

“Oh.” Aku sedikit tertawa, lalu membuka mulut.

“Lidahnya keluarin.”

Aku menjulurkan lidah. Lalu dokter itu hendak memasukkan alat swab yang dipegangnya. Tapi tidak jadi.

“Lidahnya dikeluarin. Kayak melet gitu.”

Kedengarannya, dokter perempuan yang men-swabku itu masih muda. Sekitar umur 25-35-an. Tapi jelas aku tidak berbicara itu.

“Melet coba melet.”

Aku menarik napas dulu. Kemudian mencoba mendongakkan kepala, membuka mulut sambil menjulurkan lidah.

“Keluarin lidahnya. Tadi lidahnya malah ke dalem lagi.”

Aku terus mencoba menjulurkan lidah. Sampai-sampai Teteh saja memperhatikan aku yang tidak kunjung jadi diambil sampelnya dari tenggorokan.

“Keluarin lidahnya, Dek.”

Berkali-kali dicoba, akhirnya pengambilan sampel dari tenggorokan pun berhasil. Entah gimana caranya. Haha. Lalu, dokter itu mengambil sampel dari lubang hidung kananku. Yang ini, gak terlalu susah sih. Cuma geli aja. Hehe.

Setelah aku, Teteh, dan Mimi selesai di-swab, kami pun segera pulang. Tapi, Teteh pulang menaiki sepeda motornya yang sudah dikendarai ketika pergi ke puskesmas sebelumnya. Sedangkan aku dan Mimi berjalan kaki. Itu pun, akhirnya kami berpencar sih. Aku pulang ke rumah, sedangkan Mimi pergi ke pasar lagi untuk menjaga kios yang sebelumnya ditinggal. Walau sebenarnya, aku ditawari Teteh untuk menaiki sepeda motor bersamanya. Tapi entahlah. Kedua kaki ini sedang ingin berjalan. Lagi pula, pegal juga kalau kaki tidak diajak jalan selama berhari-hari.

=

Minggu, 8 Agustus 2021.

“Mi, masa gera aku kata tetangga positif?” tanya Teteh sambil berjalan menghampiri Mimi yang sedang memasak di dapur.

“Hah?”

=

Jadi akhirnya, Teteh positif dan harus isolasi mandiri meski tidak ada gejala apa pun.


25 July 2021

Gak Masuk

Tanggal 15. Pukul 11.15.

Ril, beli pulsa yang 25 ke nomor 083xxxxxxxxx

April membuka pesan WhatsApp yang masuk di ponselnya. Ternyata pesan itu dari Uli, sepupunya yang berumur tiga tahun lebih tua. Jadi, dia biasa memanggil Uli dengan panggilan 'Teh Uli'.

Iya, Teh

Segera, April pun mengisi pulsa sesuai permintaan Uli dari server pulsa yang digunakannya. Dan tanpa perlu menunggu waktu lama, pengiriman pulsa dinyatakan SUKSES.

Udah, Teh Uli

Beberapa saat kemudian...

Ril, pulsanya kok belum masuk sih?

Pulsanya belum masuk? April membuka kembali laporan pengisian pulsa sebelumnya. Tapi di situ benar-benar terdapat tulisan SUKSES. Serial number-nya pun wajar dan tidak ada tanda-tanda bahwa pulsa gagal diproses.

Data internetnya nyala gak, Teh?

Aku pake wifi kok, Ril. Jadi data internetnya juga mati

Terus gak ada SMS tentang pulsa masuk lagi

Coba cek pulsanya dulu, Teh, punten

Nomor Axis kan, ya? *123# ceknya

Iya

Enggak ada penambahan pulsa, Ril. Berkurang juga enggak

Karena merasa ada yang aneh, April pun mencoba untuk menghubungi customer service dari server pulsa.

Kata pelanggan, pulsanya belum masuk Ax25.083xxxxxxxxx SUKSES SN : xxxxxxxxxxxxxxxx

Tak lama, CS pun menjawab.

Untuk transaksi tersebut sudah sukses kak. Silakan lakukan pengecekan ulang pulsa di nomor tujuan untuk memastikan

Sudah. Tapi katanya belum masuk juga

Tapi wifi-nya nyala sih. Apa bisa ngaruh ya?

Mohon maaf bisa difotokan bukti pengecekan pulsanya kak?

Bentar

April beralih ke chat dengan kontak Uli.

Teh Uli...

Punten ya. Coba cek lagi pulsanya terus di-screenshoot. Nanti dikirim ke aku

Sambil menunggu balasan dari Uli, sesekali April mencermati nomor yang dikirim Uli dengan nomor yang ditujunya ketika mengirim pulsa. Tapi, tidak ada perbedaan. Keduanya benar-benar sama persis. Lalu kenapa pulsanya belum juga masuk?

Uli mengirim Foto Segini aja, Ril dari tadi

Terdapat notifikasi pesan WhatsApp di layar ponsel April. Pesan itu pun dibuka hingga menampakkan sebuah foto yang merupakan hasil screenshoot dari pengecekan pulsa. Dari situ, April menangkap bahwa pulsa yang dimiliki Uli adalah Rp594 dengan masa aktif sampai 25 November 2021.

Seperti ini Kak hasil cek pulsanya.

April mengirim foto yang sebelumnya ia terima dari Uli ke CS server pulsa.

Baik untuk transaksi AX25.083xxxxxxxxx TGL 15 akan kami bantu cek ulang ke pihak provider-nya, mohon ditunggu info update datanya kak

Setelah mendapat balasan demikian, April baru membalas pesan dari Uli.

Tunggu ya, Teh. Lagi dikomplain dulu.

Keesokan harinya...

Pagi hari, tepatnya jam tujuh lebih beberapa menit, April menyalakan data internet di ponsel setelah mengecasnya. Sambil terus dicas, ponsel itu ia pegang sembari memperhatikan pesan apa saja yang masuk di aplikasi WhatsApp.

Ril, pulsanya belum masuk juga.

Itu pesan dari Uli. Okelah, April harus komplain lagi ke CS server pulsa.

Kak, pulsa yang ini belum masuk.

Ia memulai komplain dengan membalas pesan di hari kemarin.

Update data Provider 15/07/21 11:19:52 AX25 083xxxxxxxxx SUKSES SN : xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx Silakan cek pulsa di hp pelanggan untuk memastikan

Tapi di pelanggannya belum masuk juga

Untuk bukti pengecekkannya silakan difotokan kak

Akhirnya, April mencoba untuk menghubungi Uli kembali.

Teh, punten coba cek lagi pulsanya terus di-screenshoot, dikirim ke aku

Beberapa saat ditunggu, tapi ternyata Uli tidak juga membalas pesannya. Dalam informasi di percakapan WhatsApp-nya pun, Uli tidak terlihat online. Jadi April menunggu balasan pesannya sambil melakukan aktivitas lain.

Pukul 10.40.

Ril, pulsanya masih segini tuh.

Uli mengirim foto.

Begitu melihat pesan dan kiriman foto dari Uli, April pun langsung mengirimnya kembali ke CS server pulsa. Setelah itu, barulah ia membalas pesan Uli.

Iya, Teh Uli

Tapi coba deh dicek lagi nomornya, Teh. Barangkali ada yang nomor yang kelewat atau double gitu.

Eh, iya Ril. Ternyata Teh Uli salah nomor. Yang harusnya diisi teh nomornya Uli. Tapi pas kemarin malah kirim nomornya mamah.

Oh iya, Teh?

April bernapas lega, alhamdulillah kalau gitu.

Iya, Ril. Aduh maafin Uli, ya...

Iya, Teh. Gak papa.

Jadi ngerepotin April ih.

Haha. Santai aja, Teh Uli

Chat dengan Uli sudah selesai. Tapi, ia juga lebih baik bilang ke CS kalau masalahnya sudah teratasi. Eh, tunggu dulu. Ada pesan yang belum dibacanya dari CS itu.

Baik kami bantu cek ulang ke pihak provider mohon kesediaannya untuk menunggu update datanya ya kak

Karena masalahnya teratasi dengan agak lucu, April mencoba untuk membalas pesan tersebut dengan nada santai.

Hehe, gak usah, Kak. Mohon maaf sebelumnya. Tadi saya minta cek nomornya sama pelanggan. Ternyata kemarin itu salah kasih nomor. Harusnya yang diisi itu nomor lain. Hehe, maaf, Kakak.

Baik kak Mohon ditunggu update datanya terlebih dulu ya kak

Ah, sudah diajak bercanda pun, ternyata CS balasnya serius mulu, April bicara pada dirinya sendiri.

Beberapa jam kemudian...

April, Teh Uli mau isi pulsa lagi aja

Nomornya 087xxxxxxxxx yang 25

Ya

Udah, Teh Uli

Makasih ya

Sama-sama

Di sore harinya ketika Uli mengunjungi rumah April, ia pun membayar kedua pulsa tersebut. Dengan nominal pulsa sebesar dua puluh lima ribu rupiah, uang yang harus dibayarkannya menjadi sebesar lima puluh enam ribu rupiah.

=

Server pulsa yang dipakai April adalah server Leon Pulsa. Hehe. Sebenarnya cerita di atas itu cerita asli sih. Dan April itu adalah aku, wkwk. Lalu Uli itu siapa? Ya benar sepupu aku juga. Cuma disamarin namanya ๐Ÿ˜‚

Tapi beneran deh. Isi pulsanya tuh cepet banget. Gak pernah gagal lagi. Tapi ya, kalau sekali-dua kali agak lama mah, wajar sih. Namanya juga ciptaan manusia, gak ada yang sempurna toh? Tapi ya, selama aku pakai mah, udah hampir dua tahun nih, gak pernah gagal transaksinya. Jadi ya, oke-oke aja. Asalkan nomornya benar dan data internetnya nyala saat mengisi pulsa. Karena isi pulsanya itu pakai aplikasi android Leon Pulsa atau WhatsApp, gitu.

Kamu mau pakai Leon Pulsa juga? Boleh banget. Lagian juga prosesnya gampang dan gak pakai bayar-bayaran, kok. Jadi kalau setorin uang tuh, alias deposit, ya buat transaksi yang kamu lakukan juga. Misalnya isi pulsa atau isi kuota. Jadi, server pulsa gak narik uang sepeser pun tuh dari saldo akun kamu. Enak, kan? Kalau mau pake Leon Pulsa, langsung aja nih unduh aplikasinya di sini.